LITERASI KESEHATAN: PENGETAHUAN DAN KEMAMPUAN MEDIS BAGI PETUGAS LAPANGAN

Posted on


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

PANDEMI Covid-19 membuat pelayanan medis kewalahan. Petugas lapangan bahkan para pekerja pada lini terdepan sebatas bermodal masker, sarung tangan, dan nekat sebagai wujud keberaniannya. Pada masa kolonial sangat sedikit dokter yang ada, maka dilatih dan didiklah mantri sebagai tenaga medis yang menggantikan dokter di berbagai pelosok. Para mantri ini benar-benar dapat melayani bahkan menjembatani rumah sakit dengan pasien. Para mantri berkeliling ‘door to door’ melayani masyarakat yang jauh dari rumah sakit atau di pedesaan-pedesaan.

Pada masa pandemi Covid-19, para petugas lapangan mereka sebagai pejuang-pejuang kemanusiaan pilar terdepan melayani masyarakat tidak menutup kemungkinan akan tertular dan menjadi korban. Dokter, perawat, dan tenaga medis pun banyak yang tertular bahkan meninggal. Yang memahami kesehatan pun dapat tertular, apalagi petugas-petugas lainnya tentu mereka akan sangat rentan tertular.

Alat pelindung diri sangat terbatas, masker semua mengenakan tidak semua wilayah dapat dijangkau penyemprotan disinfektan. Tempat-tempat publik sangat rentan menjadi penyebar Covid-19. Para pekerja ‘ride hailing’ tidak semuanya dapat dijamin aman dari serangan Covid-19. Berita-berita bohongatau hoaks yang membingungkan dan menyesatkan semakin memperkeruh suasana. Parno dan fobia menjadi serangan psikis masyarakat. Sikap warga yang tidak patuh anjuran pemerintah membuat semakin meluasnya pandemi Covid-19. Pulang kampung menjadi keresahan baru bahkan ada pimpinan daerah yang dengan terpaksa mengambil keputusan ‘lockdown’ di wilayahnya.

Para petugas lapangan memang secara fisik dan psikis dituntut sehat, serta mereka memerlukan pengetahuan dan keterampilan medis untuk:

  1. Menjaga diri agar tidak mudah tertular atau menjadi penular.
  2. Bagaimana mengatasi apabila dirinya, lingkunganya, dan keluarganya tertular.
  3. Bagaimana membersihkan diri, peralatan yang digunakan maupun ruangan atau kantor atau lingkungannya untuk melayani masyarakat.
  4. Bagaimana memberikan bantuan sebagai tindakan pertama di tempat kejadian. Apa, bagimana akan dibawa ke mana dengan apa kontak siapa.
  5. Bagaimana mentransformasi warga untuk paham akan Covid-19, dan mengajak masyarakat patuh aturan.
  6. Bagaimana membantu bagi keluarga tenaga medis yang berjuang memberikan pelayanan para penderita Covid-19.
  7. Bagaimana menangani apabila ada yang tiba-tiba meninggal akibat Covid-19.
  8. Bagaimana memberdayakan warga dengan mitra-mitranya untuk menjaga dan membersihkan lingkungannya.
  9. Bagaimana mendokumentasikan dan membuat laporan, dan sebaganya yang bisa dikembangkan sesuai kebutuhan.

Pengetahuan dan keterampilan sebagai medis bisa dilakukan oleh para ahli di bidang kesehatan, bidang virus, bidang penyakit menular, bidang penanganan darurat, dan sebagainya secara choaching maupun training walaupun dengan cara online. Materi-materi yang menjadi pedoman dan mentor-mentor atau trainer-trainer yang akan memberikan materi maupun tutorial disiapkan. Materi-materi dapat dibuat melalui poster, leaflet, meme, film-film pendek, dan sebagainya yang dishare melalui berbagai media.

Para trainer atau tutor terus melakukan mentoring, memonitor, atau bahkan mengevaluasi apa yang telah dan sedang dilakukan. Para petugas lapangan tidak dilepas begitu saja, namun ada pantauan dan back-up dari posko sebagai pusat K3I atau sebagai call centre yang akan membantu menjembatani atau memberikan solusi, informasi, komando, dan pengendalian.

Tatkala kondisi rumah sakit tidak lagi mampu menangani apa yang harus dilakukan atau setidaknya isolasi mandiri atau cara mengamankan menjaga stamina dan kesehatan tetap terus dibutuhkan. Literasi medis menjadi bagian dari menyiapkan petugas-petugas lapangan tetap sigap dan tanggap dalam menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan pandemi Covid19.

Pengetahuan keterampilan dan kemampuan medis setidaknya membuat petugas lebih percaya diri, profesional dalam melayani masyarakat, dan sebagai upaya meminimalisasi petugas menjadi korban penularan. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *