RENUNGAN

HIKMAH DI BALIK WABAH DALAM RELIGI, SENI, TRADISI, HOBI, KOMUNITI DAN TEKNOLOGI


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

PANDEMI Covid-19 begitu cepat menulari dunia. Seluruh dunia kelimpungan mengatasinya dari membuat anjuran sampai dengan me-lockdown kota bahkan negaranya. Obat penangkalnya dikabarkan belum ditemukan, berita-berita media membahas dengan gencar setiap waktu belum lagi bumbu-bumbu hoaks semakin meresahkan. Berbagai negara punya cara dan strategi mengatasinya. Social distancing dijadikan kebijakan dan menjadi acuan menutup area publik dari tempat-tempat seni, tempat-tempat tradisi, dan pelayanan publik hingga tempat religi.

Hantu Covid-19 melanda dunia. Tokoh-tokoh penting, pejabat publik saja tertular, bahkan ada yang meninggal akibat terserang Covid-19. Wabah ini bukan main-main, seluruh dunia kena dan tidak hanya menyerang fisik atau kesehatan, namun juga menyerang psikis kejiwaan. Hal ini berdampak ekonomis kontra produktif bahkan menjadi masalah sosial besar. Manusia sebagai makhluk sosial dimatikan dari sisi sosialnya.

Dapat dibayangkan jika pandemi ini terus berkepanjangan tentu membuat remuk redam bahkan kalaupun normal recovery-nya akan sulit dan panjang. Di sini sebenarnya hikmah di balik musibah untuk mulai digunakan. Meratapi, fobia, paranoid, khawatir, hopeless, dan lainnya tiada guna ‘live must go on’ dan ‘live and still live’. Di sinilah titik balik untuk tetap waras, sehat penuh harapan dengan apa yang ada dapat untuk bertahan hidup tumbuh dan berkembang.

Kata filsuf Gelner: “Segala sesuatu ada karena dimengerti”. Rene des Crates: “Cogito ergo sum” ketika saya berpikir maka saya yang ada. Manusia sebagai makhluk berpikir dan penuh imajinasi. Di sinilah kita memulai untuk bangkit menemukan hikmah di balik musibah. Kreatif inovasi yang dapat dilakukan di mana saja, oleh siapa saja, dan kapan saja bahkan dengan apa yang adapun bisa. Pengategorian inovasi dan kreativitas untuk menghadapi dan mengatasi pandemi Covid-19 dapat dikategorikan melalui religi, tradisi, seni, hobi, komuniti hingga teknologi. Hal tersebut bukanlah parsial namun dapat dielaborasi satu dengan lainnya.

1. Religi
Religiusitas menjadi tanda umat beriman yang percaya dan bertakwa kepada Tuhan Yanga Maha Esa. Berbagai kegiatan bersama dalam ibadah bersama dalam jumlah besar yang bersifat rutin hingga upacara besar keagamaan untuk sementara dialihkan atau dibatasi secara ketat berkaitan dengan kebijakan social distancing. Teknologi menjembatani untuk saling bersatu walau dalam kondisi berjauhan. Seluruh dunia dapat bergerak dalam doa bersama walaupun secara virtual. Silent/hening dan meditasi dapat menjadi solusi mengisi kondisi kebosanan tinggal di rumah atau untuk mengisolasi diri. Mendekatkan kepada yang Ilahi dalam berbagai cara untuk sebagai refleksi dan pengendalian diri untuk waspada pikiran positif dan hati bergembira yang dipenuhi oleh rasa syukur.

2. Seni
Seni dalam bentuk nada suara gerak kata dan cerita dapat menjadi solusi memecah kebuntuan pikir dan hati. Mendengar, melukis, menggambar, membuat sesuatu rancangan sesuatu yang menginspirasi memotivasi bahkan dapat sebagai solusi. Seni ini apa saja bisa dengan yang ada bahkan dalam sistem digital pun dapat kita selami kedalaman museum hingga istana dan berbagai karya seni dunia hingga karya-karya seni tribal atau suku-suku bangsa. Kesemua itu setidaknya dapat menghibur menstimuli otak dan hati untuk berbuat atau melahirkan sesuatu.

3. Tradisi
Tatkala berbicara tradisi kita akan membayangkan suatu upacara atau ritual-ritual yang dilakukan turun-temurun. Dalam semua suku ada tradisi merefleksi atau tradisi menyepi untuk intropeksi diri atau untuk mencari sesuatu di luar kekuatan diri manusia secara wadag. Jangan disalahartikan untuk mencari pesugihan atau prewangan. Ini semua untuk memotivasi diri dan menemukan solusi-solusi baru dalam tradisi hening instropeksi cara bersyukur dan mensyukuri nikmat yang ada.

4. Hobi
Kegemaran olahraga dan olahrasa ini seringkali memerlukan banyak orang atau tidak dilakukan sendiri. Masa ini olahraga dan olahrasa dapat dilakukan dalam lingkup pribadi. Olahraga dan olahrasa ini akan menjaga pikiran sehat penuh harapan ada keberanian keyakinan waspada dan mampu mengatasi situasi yang ekstrem sekalipun, walaupun, juga terelaborasi dengan poin 1, 2, dan 3. Hobi ini dapat kita arahkan untuk menikmati dan mengapresiasi. Pada kondisi biasa waktu mengisi olahraga dan olahrasa bagai angin lalu tiada berbekas. Menikmati dan mengapreasiasi hampir terlupakan bahkan mungkin dihilangkan. Hobi ini bisa juga dengan bantuan teknologi untuk melihat menikmati bahkan mengevaluasi.

5. Komuniti
Komuniti ini merupakan saluran komunikasi sharing informasi bahkan untuk menemukan solusi hingga berbisnis, dan sebagainya. Komuniti ini di era digital sudah dibangun dalam berbagai grup atau komunikasi melalui media. Media sosial sekarang merajai apa saja ada bisa power on hand. Sendiri dalam kebersamaan hidup walau di balik layar. Tetap produktif, kreatif, inspiratif, dan solutif secara proaktif.

6. Teknologi
Dari poin 1 sampai dengan 5, teknologi menjembatani dan membantu untuk tetap menjalin komunikasi sbg mahkluk sosial. Di era digital teknologi dibangun dlm sistem elektronik yg saling terhubung/online yang mengarah pada big data dan one gate service system. Pelayanan kepada publik yang prima yaitu dengan standar pelayanan yang cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses terus dapat dilakukan. Membangun sistem elektronik yang saling terhubung ditandai adanya:
a. Back office yang akan menjadi pusat data pusat analisis komunikasi, koordinasi, komando, pengendalian dan informasi.

b. Application yang merupakan sistem-sistem recognize atau inputing data dapat dengan model kamera, sistem gate atau inputing signal, GPS, GIS, on board unit, RFID, QR, dan sebagainya. Semua aplikasi itu bernasis artificial intellegent sehingga mendukukung sistem-sistem analisis data yang mampu menghasilkan produk dalam bentuk info grafis, info virtual, info statistik yang realtime, ontime dan anytime.

c. Network sebagai penghubung yang berbasis internet of things semua ini ada frekuensi bend witch mapun kekuatan sinyal-sinyal untuk dapat memberikan fungsi-fungsi pelayanan bagi hidup dan kehidupan dalam standar pelayanan prima.

Poin 6 merupakan tanggung jawab pemerintah dan aparaturnya untuk membangun sistem-sistem teknologi tadi. Dengan sistem elektronik sangat membantu dalam kondisi emerjensi bahkan di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Sistem-sistem bantuan cepat, sistem kontrol sosial, sistem komunikasi informasi bahkan komando pengendalian dapat dilakukan. Alternatif pilihan tinggal di rumah work from home hingga pekerja-pekerja di lapangan tetap terus terkontrol dalam segala kondisi bahkan bantuan jaminan dan harapan untuk tetap bertahan hidup, tumbuh dan berkembang selalu ada. Demikian juga saat recovery-nya pun cepat. Sistem teknologi ini saatnya diterapkan karena tetap dapat menginspirasi, mengedukasi, menegakkan hukum, melindungi, melayani bahkan memotivasi serta memberi solusi. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *