HARIANTERBIT.CO – Di bulan suci Ramadan, pameran lukisan bertajuk ‘Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi’ digelar di Galeri Lukisan Denny JA yang berlokasi di Padel District Ciputat, Jakarta, Kamis (26/2/2026). Pameran ini menghadirkan refleksi visual tentang krisis lingkungan yang menggugah nurani sekaligus kesadaran spiritual.
Lebih dari seratus karya terpajang di dinding galeri yang menyatu dengan arena padel tersebut. Sebanyak 27 lukisan di antaranya tergabung dalam serial ‘Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi’ — sebuah rangkaian karya yang menempatkan bencana ekologis sebagai refleksi peradaban.
Salah satu karya paling mengguncang adalah lukisan berjudul ‘Tangan Terakhir yang Meminta’. Lukisan ini menampilkan seorang anak lelaki terperangkap dalam pusaran air berlumpur. Tangannya terulur ke langit —bukan sekadar meminta pertolongan, melainkan seperti menuntut jawaban. Wajahnya bukan hanya wajah ketakutan, tetapi potret generasi yang lahir dari kesalahan kolektif.
Di belakangnya, siluet kota menjulang samar. Puing kayu dan batang pohon mengambang di air keruh — jejak pembabatan dan kelalaian panjang. Lukisan ini tak sekadar merekam tragedi seorang anak, tetapi merekam kegagalan kolektif sebuah peradaban. Bencana di Sumatra, dalam tafsir visual ini, bukan semata takdir hujan. Ia adalah konsekuensi dari pilihan yang berulang.
Pendekatan ini oleh Denny Januar Ali disebut sebagai Genre Lukisan Imajinasi Nusantara — sebuah inovasi seni rupa digital yang memadukan realisme figur manusia, simbol budaya lokal, lanskap surealis, serta pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai perangkat kreatif. Namun teknologi bukan pusatnya. Ia hanya jembatan. Yang utama adalah jiwa, tafsir sosial, dan kegelisahan zaman yang ingin disampaikan.
Dalam genre ini, batik tak hadir sebagai ornamen, melainkan inti narasi visual. Motif yang dikenakan para tokohnya menjadi simbol akar budaya, harmoni, dan spiritualitas lokal yang bertahan di tengah arus modernitas. Identitas tak boleh hanyut bersama banjir zaman.
Figur manusia dilukis realistis dan proporsional — tatapan mata, kerut wajah, hingga posisi tubuh mencerminkan emosi yang jujur. Manusia hadir sebagai subjek nyata yang membawa beban sejarah, trauma, sekaligus harapan. Namun di balik realisme itu, terbentang lanskap surealis: langit terasa berat, air menjadi pusaran tak wajar, akar pohon menyerupai luka terbuka. Alam bukan lagi latar, melainkan tokoh utama yang bersuara.
Kritikus seni rupa senior Agus Dermawan T menyebut Denny JA sebagai salah satu pelukis Indonesia yang secara sadar memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membangun genre lukisannya sendiri.
Dalam sejarah seni, teknologi memang selalu hadir — dari fotografi hingga digital printing. Namun di tangan Denny JA, kecerdasan buatan menjadi alat konseptual untuk membangun imajinasi kolektif tentang Nusantara yang terluka. Ia tak sekadar menciptakan gambar, tetapi membangun lanskap moral.
Karya sebelumnya yang sempat viral menggambarkan Paus Fransiskus mencuci kaki rakyat Indonesia di ruang publik saat kunjungannya ke Jakarta. Lukisan itu memindahkan simbol agama dari altar ke jalan raya — menempatkan spiritualitas di tengah kehidupan sosial sehari-hari.
Sebagaimana serial ‘Sumatra Menangis’, karya tersebut bukan dokumentasi, melainkan tafsir sosial. Dalam konteks global, pendekatan Denny JA kerap dibandingkan dengan keberanian pelukis seperti Francisco Goya, Edvard Munch, dan Frida Kahlo — yang menjadikan kanvas sebagai ruang kritik sosial dan ekspresi luka kolektif.
Bedanya, Denny JA menggabungkan realisme manusia Indonesia dengan lanskap ekologis sebagai tokoh dramatis utama. Ia tidak melukis perang antarmanusia, melainkan perang manusia melawan keserakahannya sendiri.
Melalui 27 karya dalam serial ini, ia memotret banjir, tanah longsor, hutan gundul, anak-anak di atap rumah, ibu memeluk foto keluarga, hingga ayah yang memanggul nenek tua di tengah air cokelat. Emosi digambarkan presisi, detail, dan jujur. Bencana tak lagi tampil sebagai dokumentasi jurnalistik, melainkan refleksi peradaban.
Dalam suasana Ramadan, pameran ini menjadi cermin spiritual. Ramadan adalah bulan menahan diri — menahan lapar, amarah, dan ego. Pertanyaannya: mampukah kita juga menahan kerakusan ekologis?
‘Tangan Terakhir yang Meminta’ menjelma metafora doa sekaligus peringatan. Dalam tradisi Islam, tangan terangkat adalah simbol permohonan. Dalam lukisan ini, ia menjadi simbol tanggung jawab.
Sumatra menangis bukan hanya karena hujan. Ia menangis karena kita lupa — bahwa hutan adalah benteng kehidupan, bahwa sungai adalah urat nadi peradaban, bahwa tanah bukan sekadar komoditas, melainkan ruang hidup generasi.
Sebagaimana dikutip dari keterangan yang didapat HARIANTERBIT.CO, Kamis (26/2/2026), Pameran ‘Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi’ berlangsung di Galeri Lukisan Denny JA, Padel District Ciputat, selama 1-30 Ramadan 1447 H, pukul 10.00-24.00 WIB, dan terbuka gratis untuk umum. Setelah Ramadan, serial ini tetap dipajang mulai pukul 06.00-24.00 WIB hingga hadir serial berikutnya.
Di balik estetika kanvas, data menunjukkan Sumatra telah kehilangan jutaan hektare hutan. Serial ini menjadi alarm visual bahwa krisis iklim bukan lagi prediksi masa depan, melainkan luka nyata yang menuntut pertobatan.
Di hadapan lukisan itu, kita tidak hanya melihat seorang anak yang hampir tenggelam. Kita melihat diri kita sendiri — yang masih berdiri di tepi pusaran. Ramadan datang sebagai kesempatan. Apakah tangan yang terangkat itu benar-benar akan menjadi tangan terakhir? Ataukah kita memilih menjadi tangan yang menjawab — sebelum pusaran itu membesar dan menelan sejarah kita sendiri.
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World. (*/din)
https://www.facebook.com/share/1KQdZK7B2M/?mibextid=wwXIfru



