Presiden AS Donald Trump, diplomasi koersif. Bujuk dan tekan. AS akhirnya akan kalah? (ist)

Gaya Trump antara Damai dan Perang Berlanjut, Siapa Diuntungkan?

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Gelagat akan segera berkhirnya perang AS-Israel versus Iran sebagaimana diisyaratkan Donald Trump, sementara secara faktual AS telah mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah menimbulkan tanda tanya besar.

Benarkah ada negosiasi AS-Iran sebagaimana berkali-kali diungkapkan Presiden AS itu, dan benarkah Trump bersedia mengakhiri perang Iran tanpa harus membuka Selat Hormuz sebagaimana ia sampaikan pada para pembantunya hari ini (Selasa 31/3/2026)?

Soal negosiasi itu sendiri sudah dibantah para pejabat resmi Iran. Namun menurut sumber-sumber sebagaimana dikutip dai Reuters, perundingan itu memang ada (bukan isu kosong), di mana pemerintahan Donald Trump mengatakan, negosiasi dengan Iran masih berjalan dan disebut ‘cukup baik’. Bahkan ada klaim Iran diam-diam setuju beberapa poin AS.

Trump juga bilang kesepakatan bisa terjadi ‘dalam waktu dekat’. Artinya, jalur damai memang tidak berhenti. Walau di saat yang sama, militer terus diperkuat AS di mana ratusan pasukan elit AS (Rangers, Navy SEALs) sudah tiba di Timur Tengah, selain ada laporan yang menyebut ada ±3.500 pasukan tambahan disiapkan.

Di tengah berlangsungnya perundingan, Pentagon disebut juga menyiapkan opsi operasi darat terbatas, dengan target strategis termasuk Selat Hormuz dan fasilitas minyak Iran. Artinya: secara militer, eskalasi tetap berjalan.

Harus diakui, gaya Trump yang mencampur adukkan antara rencana damai dengan ancaman keras adalah gaya komunikasi yang sangat kontras. Artinya, negosiasi plus tekanan ekstrem sekaligus. Bahkan Trump sempat bicara soal ‘regime change’ (ganti rezim) , yang semuanya itu menunjukkan konflik yang terjadi saat ini bukan sekadar militer, tapi politik besar.

Lalu, pertanyaan bahwa apakah Donald Trump seorang yang labil dan tak bisa dipercaya dilihat dari fakta-fakta yang terjadi? Menurut sumber media ini, gaya Trump lebih tepat disebut coercive diplomacy/tekan sambil nego. Satu tangan mengajak damai, satu lagi menyiapkan perang. Tujuannya, memaksa lawan tunduk sebelum perang besar terjadi . Dan ini bukan hal baru, dipakai AS juga dalam perang Irak dulu dan krisis Korea Utara.

Memang harus diakui, gaya Trump memang ekstrem, dengan ciri khas: Komunikasi keras, dramatis, dan berubah cepat. Sering hari ini bicara damai, besoknya ancam habis-habisan. Itu membuat publik melihatnya seperti ‘tidak konsisten’ Padahal bagi dia itu bagian dari taktik tekanan psikologis. Masalahnya, strategi ini berbahaya karena salah tafsir sedikit → bisa meledak jadi perang besar. Dalam hal ini, Iran bisa saja menganggap ancaman Trump nyata dan akan mmbalasnya lebih keras.

Siapa diuntungkan, apa bisa jadi “perang dunia mini?

Tidak ada satu pihak tunggal yang diuntungkan. Biasanya ada beberapa “pemenang relatif”.

a. Pemerintahan Donald Trump (secara politik).

Keuntungan yang mungkin adalah terjadinya konsolidasi dukungan dalam negeri. Dalam situasi konflik, publik sering “rally around the flag”. Posisi tawar kuat dalam negosiasi. Iran ditekan agar menyerah tanpa perang besar. Citra pemimpin tegas. Tapi ini pedang bermata dua: Jika perang gagal atau mahal → bisa jadi bumerang politik.

b. Industri energi dan minyak global

Ketegangan di Timur Tengah mengakibatkan harga minyak naik. Negara/korporasi energi (AS, Timur Tengah) bisa diuntungkan. Ini efek klasik: konflik = ketidakpastian = harga naik.

c. Industri militer (defense contractors).

Perusahaan persenjataan besar mendapat kontrak baru. Produksi meningkat. Setiap eskalasi militer hampir pasti meningkatkan belanja pertahanan

d. Negara pesaing AS (secara strategis) Contohnya: Tiongkok, Rusia
Mereka bisa memanfaatkan fokus AS di Timur Tengah, dan memperkuat posisi di kawasan lain (Asia).

e.Pemerintah Iran (secara internal) ironis, tapi benar. Ancaman dari luar memperkuat legitimasi rezim. Menyatukan rakyat melawan ‘musuh eksternal’.

Apakah Trump pribadi diuntungkan sebagai pengusaha?

Ini bagian sensitif, jadi harus hati-hati dan berbasis logika, bukan spekulasi liar.
Fakta umum menunjukkan, bahwa Donald Trump memang punya latar belakang bisnis (real estate, brand, dll).

Tapi tidak ada bukti kuat publik bahwa Trump memicu konflik ini untuk keuntungan bisnis pribadi langsung.

Analisis Realistis:

Yang lebih masuk akal adalah keuntungan utama = politik, bukan bisnis langsung. Tapi secara tidak langsung, stabilitas kekuasaan → menjaga jaringan bisnis. Kebijakan geopolitik → bisa berdampak ke ekonomi global
Jadi kesimpulan jujur: lebih banyak motif politik & strategi kekuasaan daripada bisnis pribadi langsung.

Lalu, pertanyaan tentang seberapa kuat pengaruh demo “No King” di AS terhadap kebijakan TrumP?

Gerakan seperti “No King” (anti-otoritarian / anti-Trump) memang punya pengaruh, tapi terbatas. Pengaruh nyata adalah membentuk opini publik. Menekan politisi (terutama Partai Demokrat). Mempengaruhi media narasi

Tapi keterbatasannya: Tidak langsung mengubah kebijakan luar negeri secara cepat. Tidak bisa menghentikan operasi militer secara instan. Basis pendukung Trump tetap kuat
Dalam sistem AS, Presiden punya kewenangan besar soal militer

Apakah Trump bisa “jatuh” seperti Richard Nixon? Perbandingan ini menarik—tapi situasinya berbeda.

Kasus Watergate, adalah skandal yang ada bukti kuat pelanggaran hukum. Tekanan media besar dukungan politik runtuh (bahkan dari partainya sendiri) yang menyebabkan Nixon akhirnya mundur.

Kondisi Trump sekarang bisa terjadi jika ada skandal hukum besar plus bukti kuat dukungan Partai Republik runtuh, serta tekanan publik sangat luas dan konsisten

Tapi saat ini, basis politik masih solid. Polarisasi tinggi (atau rakyat terbelah). Dan tTidak ada satu skandal tunggal yang “mematikan” seperti Watergate.

Kesimpulan jujur, siapa diuntungkan dari konflik AS – Iran? Pemerintah karena posisi tawarnya.
Industri militer & energi. Rival geopolitik (secara tidak langsung)

Trump pribadi? Lebih ke keuntungan politik, bukan bisnis langsung.

Lalu, apakah demo “No King” di AS berpengaruh? Secara opini ya, tapi tidak cukup kuat sendirian untuk menjatuhkan presiden.  Apakah bisa seperti Nixon? Secara teori bisa. Tapi saat ini: belum mendekati kondisi itu.Demikian. (lia/buatan ai/gpt)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *