Gus Muhaimin; Komite Hijaz adalah Pemikiran dan Sikap Politik NU yang Mendunia

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Pergerakan Bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaan 1945 tidak hanya menghadapai penjajahan secara fisik akan tetapi melalui gerakan spiritual-keagamaan dengan berdirinya Nahdlatull Wathan, Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar, dan pada 31 Januari 1926 di Surabaya pertemuan yang dihadiri para ulama dari Jawa dan Madura yang menghasilkan dua keputusan.

Pertama, mengukuhkan berdirinya Komite Hijaz dengan masa kerja sampai delegasi yang diutus menemui raja Saud kembali ke tanah air. Kedua, membentuk organisasi sebagai wadah persatuan ulama dalam tugasnya memimpin umat menuju tercapainya cita-cita Izzul Islam wa al-Muslimin yang diberi nama Nahdlatul Ulama.

Komite Hijaz adalah hasil pemikiran dan sikap politik ulama NU yang mendunia menembus area multilateral, disampaikan Abdul Muhaimin Iskandar Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa dalam Diskusi Serial Yayasan Talibuana Nusantara Ke-13, Tahun 2023 dengan Tema : “ Refleksi Satu Abad NU : Membaca Pilihan Politik Warga NU 2024” pada hari, Jum’at, 27 Januari 2023, Komplek Ligamas Indah, Blok F, No.5, Pancoran, Jakarta Selatan.

Yayasan Talibuana Nusantara adalah yayasan nirlaba yang merupakan wadah atau tempat pergumulan serta pergerakan Aktivis Nahdlatul Ulama (NU). Yayasan ini memiliki tujuan dan program untuk memberikan penguatan dan pengembangan eksistensi serta khidmat Jam’iyah dan Jama’ah NU demi kemaslahatan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.


Umi Zahrok di sekretariat bersama PKB dan Gerindra

Disampaikan Gus Muhaimin dalam diskusi Refleksi 1 abad NU bahwa 100 tahun NU bisa beradaptasi dan berkontribusi pada perbaikan bangsa karena Kepemimpinan politik yang kuat, didukung loyalitas dan militansi serta ditopang oleh kuatnya Kebersamaan dan persatuan Nahdliyin.

Selain itu, dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar PMII periode 1994-1997 bahwa di jaman itu, Para Ulama dalam mengambil keputusan mempertimbangkan berbagai aspek atas dasar kesepakatan bersama (dengan suara mayoritas) dan mengikatkan diri istilah Gus Muhaimin adalah Jumhur Ulama.

Lebih lanjut Gus Muhaimin menyampaikan bahwa warga PKB setelah menjadi Anggota DPR dan DPRD di berbagai daerah tidak pernah berhenti dan menjadi komitmennya untuk memikirkan NU, inilah mobilitas yang dibangun PKB.

Di tempat terpisah Politisi Perempuan Umi Zahrok, ditanya terkait Refleksi Satu Abad NU “ Membaca Pilihan Politik Warga NU 2024 ” disampaikan bahwa sesuai Jumhur Ulama maka mobilitas peran dan pilihan politik warga Nahdliyin adalah PKB dan Gus Muhaimin sebagai representatif warga Nahdliyin untuk kepemimpinan nasional 2024.

Kenapa, karena PKB adalah partai yang dibentuk atas dasar aspirasi mayoritas warga Nahdliyin dan difasilitasi pendiriannya oleh PBNU, demikian ditegaskan Umi Zahrok.(sum)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *