ilustrasi

CINTA BUTA YANG MENYESATKAN DAN MENYENGSARAKAN

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Sengkuni anak dari Raja Subala dari Gandara sebagai seorang kesatria yang cerdas. Sangkuni seorang yang cinta akan bangsa negara dan keluarganya. Ia amat mencintai adik perempuannya ” Gandari”. Ia marah besar kepada ayahnya tatkala dirinya mengetahui kalau adiknya akan dinikahkan dengan pangeran dari Hastinapura ” Destarata ” Destarata seorang yang buta sejak lahir.

Sengkuni sangat emosi bahkan ia berbelarasa dengan melukai pahanya sendiri dengan belatinya. Ia berjanji akan membahagiakan adiknya. Apapun caranya ia berupaya menjadikan anak anak Destrarata dan Gandari yaitu para Kurawa ( berjumlah 100 orang ) untuk menjadi raja. Duryudana anak tertua dari para Kurawa memiliki sifat jumawa, serakah, licik, ingin menang sendiri, menghalalkan segala cara demi memenuhi hasrat atau keinginannya.

Sengkuni sebagai paman para Kurawa membimbing dengan cinta buta dan memanjakan para Kurawa. Kurawa lemah tidak terlatih hidup dalam kemewahan dan segala kemudahan serta selalu dimenangkan. Perilaku para Kurawa dengan para Pandawa saudara sepupunyapun sangat tidak adil dan berulangkali berupaya membunuhnya.

Cara cara culas dan keji dilakukan dalam berbagai kisah seperti bale sigala gala, Pandawa Dadu dsb. Kecerdasan Sengkuni digunakan untuk mengelabuhi para Pandawa, dengan berbagai tipu daya. Sengkuni berupaya mati matian melindungi Kurawa. Benar atau salah pokoknya benar.

Sikap menang menangan inilah yang membuat Kurawa Jumawa. Sengkuni melakukan banyak penyimpangan dan perilakunya penuh trik licik. Cinta butanya demi Duryudana menjadi raja Hastina berdampak pada terjadinya perang Bharatayuda yang membuat para Kurawa semua tewas di medan Kurusetra. Cinta Sengkuni yang tidak bijaksana menjadikan sesat dan kehancuran Wangsa Kuru.

Sengkuni sendiri terkena karmanya mati di dalam perang Bharatayuda. Kesaktiannya yang tidak dapat dilukai senjata apapun dan tidak dapat mati, karena sekujur tubuhnya telah diolesi minyak tholo tholo. Namun Krisna mengetahui kelemahannya. Yaitu dengan disobek dari duburnya dan dikuliti sekujur badannya dan disobek bulutnya dan ditarik kerongkongannya. Kisah tragis para Kurawa termasuk dirinya sendiri mati di medan Kurusetra, akibat cinta buta.

Cinta buta tanpa melihat kebenaran keadilan akan berujung pada petaka dan kehancuran. Dalam berbagai sumpah kata : kejujuran, kebenaran dan keadilan menjadi landasannya. Membela kebenaran keadilan dengan jujur merupakan keutamaan bagi kemanusiaan, keharmonisan dalam kehidupan dan bagi peradaban. Kurawa hancur lebur akibat mengabaikan keutamaan. Keutamaan merupakan kekuatan untuk selalu dalam kewarasan. (CDL) Kwantung 310722

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *