ilustrasi ist

AIR MATA DAN DUKA BARATAYUDHA

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Perang Baratayuda refleksi atas hidup dan kehidupan yang dipenuhi angkara murka dan ketamakan. Perang sebagai jalan menegakkan kebenaran dan keadilan. Perang meluluh lantakan banyak kehidupan. Kerusakan hingga kematian menjadi pemandangan dan perasaan duka.

Pihak yang memang ataupun yang kalah semua berduka. Betapa besar pengorbanan keluarga prajurit yang berperang. Yang hidup yang cacat hingga yang gugur di palagan. Darah mengalir di Tegal Kurusetra dimana Baratayudha berlangsung. Kehilangan materi seakan bukan atau belum kehilangan apa apa. Kehilangan sanak saudara menimbulkan duka lara.

Air mata Gandari ibu dari para Kurawa, yang terus mengalir meratapi ke seratus anaknya yang mati di medan laga. Raga mungkin saja bisa berpura lupa namun jiwa akan terus meradang dalam duka. Air mata Kunthi yang meratapi anaknya Karna harus melawan para Pandawa. Kematian Karna menjadi duka panjang rasa sesal dan bersalah tiada henti hentinya.

Duka Arjuna, Drupadi, Subadra dan Utari meratapi Abimanyu yang harus gugur di medan laga. Duka Bima atas kematian Gatut Kaca. Duka Aswatama melihat Guru Durna gugur juga di saat sahabatnya Duryudana tak berdaya. Duka Nakula dan Sadewa melihat pamannya raja Salya menemui ajalnya.

Duka Duryudana meratapi gugurnya para panglima , pamannya Sangkuni dan kematian adik adiknya. Duka Drupadi meratapi kematian ayahnya, kakaknya, anak anaknya.Duka Raja Destrarata atas kekalahan Kurawa dan para panglima Hastinapura. Banyak lagi kisah duka yang tak tercatat dari para keluarga prajurit maupun masyarakat yang harus menderita akibat perang.

Perang seringkali dijadikan suatu solusi atau bahkan kebanggaan. Dari sudut manapun perang merugikan bahkan menyakitkan. Mungkin saja pemuasan dendam atau keserakahan dan angkara murka bisa terpuaskan. Namun penderitaan bahkan kutukan hingga karma akan menimpa.

Tanah Kurusetra hingga kini masih memerah akibat kutukan atas tumpahnya darah. Akan ada gunung tengkorak. Burung burung bangkai akan kebingunhan menghadapi banyaknya mayat yang berserakan. Kerusakan alam lingkungan, peradaban hingga kemanusiaan ikut dimusnahkan.

Perang Baratayudha memang diperlukan untuk menegakan kebenaran dan keadilan. Kekalahan Kurawa dan musnahnya kaum Kuru seakan sudah takdirnya. Basudewa Krisna mengetahui semua itu. Sebagai awatara Wisnu, ia menyadari bahwa tugasnya menegakan kebenaran dan keadilan yang dimulai dari matinya Raja Kangsa, kematian Sisupala, hingga kutukan kepada Aswatama. Strategi Krisna walau tanpa mengangkat senjata mampu menumbangkan kurawa sekaligus menghukum orang orang yang berdosa.

Basudewa Krisna membantu penguatan dan keyakinan Pandawa. Khususnya Arjuna yang dikenal dalam kitab Bhagawatgita. Melepaskan duka dan dosa :” Bisma yang Agung, Guru Durna, Raja Angga Karna. Menghibur Drupadi dari kesedihan dan beban hidupnya.

Menyadarkan dan meredam kemarahan Balarama atau Baladewa. Menghidupkan anak Abimanyu dalam rahim Utari Melepaskan duka Raja Destrarata dan Dewi Gandari. Basudewa Krisnapun harus berduka di depan matanya melihat kaum Yadawa dimusnahkan dengann saling membunuh di antara mereka. Kerajaan ditenggelamkan sampai dasar lautan. Perang tiada untungnya semua hanyalah menjadikam dan menyisakan air mata dan duka. (CDL) Malam kelam 091021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *