HARIANTERBIT.CO – Ketamakan, angkaramurka dan kejumawaan Duryudana menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya perang besar Baratayudha di Tegal Kurusetra. Duryudana ingin menguasai tahta Hastinapura yang menjadi hak Yudistira dan para Pandawa.
Keserakahan Dewi Setyawati neneknya juga menurun kepada Destrarata hingga Duryudana dan para Kurawa. Cinta buta Drestarata maupun pamannya Sangkuni telah menjerumuskan Duryudana dan para Kurawa. Iri hati Duryudana yang tega merencanakan pembunuhan atas Pandawa bersama ibunya dengan membakarnya. Yang tertulis dalam kisah Bale Sigala Gala.
Kekalahan dengan Pandawa pada saat sayembara di Pancala memperebutkan Drupadi menyimpan dendam yang mendalam. Sifat iri dengki Duryudana atas kemajuan dan kemakmuran Indraprasta yang telah dibangun Pandawa. Keinginan merebut Indraprasta didukung pamannya Sangkuni untuk mengelabuhi Pandawa dalam permainan Dadu.
Kejahatan dan pelecehan terhadap Drupadi yang merendahkan martabat wanita berujung pada sumpah Bima untuk membunuh semua kurawa, merobek dan meminum darah Dursanan dan meremukan paha Duryudana.
Kelemahan Kurawa membuat berbagai kelicikan untuk memberdayakan kakeknya yaitu Bisma yang Agung. Memberdayakan gurunya Begawan Durna. Memberdayakan persahabatanya dengan Raja Angga Karna. Orang orang yang baik dan benar dibuatnya tak berdaya untuk membela kejahatan Duryudana.
Masih ada Bala rama atau Baladewa kakak Basudewa Krisna. Raja Salya dan juga Aswatama anak dari Guru Durna. Tiada habisnya ketamakan Duryudana, iri dengki dendam dan kejumawaan menyatu. Tak hanya itu penghormatan kepada ayah ibu kakek dan gurunyapun ia tidak lakukan. Selalu merasa yang paling baik dan benar. Membuat semua terperdaya Duryudana.
Perang Baratayudha sebenarnya telah dicegah oleh para petinggi Hastinapura. Perdana menteri Widura, Sanjaya, Karna, Durna, Bisma, Dewi Gandari ibunya, Raja Drestarata ayahnya. Mereka semua menyarankan untuk mengembalikan apa yang menjadi hak Pandawa. Bahkan Basudewa Krisna menjembatani sebagai duta perdamaian.
Syarat yang diminta hanya untuk menyentuh kaki Drupadi dan meminta maaf maka pertikaian atau konflik dimaafkan dan dianggap selesai. Namun harga diri Duryudana yang begitu tinggi dan kejumawaanya menganggap syarat itu tidak masuk akal.
Basudewa Krisnapun mengingatkan kepada Raja Angga Karna untuk tidak memihak Duryudana. Lagi lagi ditolak. Dan Basudewa Krisna meminta hanya 5 kota yang berada di wilayah Hastinapura diberikan kepada Pandawa. Semua kesepakatan damai tidak ditemukan. Bahkan Basudewa Krisnapun diperlakukan kasar dan kembali Kurawa mendapatkan kutukan dan karma dari Basudewa Krisna.
Kemusnahan bangsa Kuru seakan sudah ditakdirkan. Kurawa merasa memiliki panglima Bisma yang Agung yang kesaktiannya tidak tertandingi. Guru Durna yang takterkalahkan. Raja Angga Karna kesatria terbaik murid Begawan Parasurama.
Ditambah lagi sekutu sekutu yang begitu hebat ditambah pasukan Narayani yang dalam kualitas dan kuantitasnya serta berbagai unsur lainnya menunjukkan pasukan terbaik dan unggul dalam peperangan. Sumberdaya Kurawa jauh lebih unggul dari apa yang dimiliki Pandawa.
Pepatah mengatakan :” surodiro jayaningrat lebur dening pangastuti”. Segala angkara murka dapat dikalahkan dengan kebaikan dan kelembutan hati. Pandawa senantiasa menunjukkan sikap dan perilaku yang santun baik dan benar. Sebagai ksatria menjunjungtinggi kehormatannya kepada Yang Maha Kuasa, kepada orang tua, kepada guru, kepada sesama.
Bahkan kepada kaum yang termarjinalkan sekalipun. Para kesatria yang terkena supata atau kutukan menerima karma dan gugur di medan laga. Seakan hukum tabur tua berlaku dan musnahnya bangsa Kuru.(CDL) Lier lier menjelang tengah malam 230921



