SENI SEBAGAI TERAPI DI MASA PANDEMI

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Berbicara terapi seakan berbicara pengobatan yang berbasis keilmuan atau kekuatan. yang berbasis keilmuan tentu saja pada kedokteran dan berbagai turunannya. Yang berbasis kekuatan biasanya para normal dan berbagai bunga bunganya. Seni untuk terapi berbasis pada siapa?

Bisa keduanya bisa juga ke diri sendiri. Mengapa bisa keduanya seni membolehkan berkonsultasi atau mencari hepi pada kebahagiaan hatinya. Dimana percaya ditautkan. Bahkan dari diri sendiri ini yang sebenarnya paling dianjurkan. Mengapa? Karena hemat. Hemat segalanya kapan saja di mana saja dengan apa saja bisa. Seni sebagai terapi itu yang penting hepi. Jadi teringat lagu yang pernah populer di radio daerah tahun 80an yang berjudul ” ayo ngguyu”.

Pepatah mengatakan :” hati yang gembira adalah obat”. Menggembirakan hati dengan seni adalah obat? Bisa jadi iya. Asal seninya menggembirakan dapat menjadi katarsis dan kemerdekaan walau yg digambar ttg duka. Ada kelegaan hati.

Menjebol sumbatan rasa di hati. Seni yang melayani hati akan menggembirakan membuka jalan dan peluang bahkan harapan hidup yang lebih panjang. Seni ada dan hidup dalam kehidupan masyarakat.

Seni menjadi jembatan hati pemecah kejenuhan dan kebuntuan hidup. Seni bisa apa saja tergantung kepekaan dan kepedulian dan nyali melakukan. Seni seringkali menakutkan. Takut salah takut jelek takut dihina takut menjadi bumerang dsb. Ketakutan ini membuat seni dying bahkan setengah mati diakui dalam hidup dan kehidupan sehari hari.

Seni biasa saja dan bisa dilakukan siapa saja untuk membuka cakrawala jiwa dan membuat hati gembira. Bernyanyi misalnya walau kelas kamarmandi bisa dilakukan. Menata rumah agar asri dan ngangeni tdk perlu mewah apa saja bs dilakukan. Menanam pohon di pekarangan atau teras rumah.

Dari tanaman buah sampai bonsai semua bisa dilakukan. Membuat kolam, memajang peralatan rumah tangga, memberi nama rumah kita, bermain main kata dalam rumah bahasa( meminjam kata kata Rm Banar). Seni pokok e hepi.

Lepaskan belenggu mutu yang penting metu dulu. Bakat bisa dikalahkan dg nekat. Dari rumah kita kalaupun berat dr kamar kita kalaupun berat dari diri kita. Tunjukkan pikiran perkataan perbuatan dan bela rasa yg membagikan kegembiraan kpd siapa saja yang kita temui secara virtual maupun aktual. Nashar mengajarkan 3 non dalam berkarya. Non teknis non estetis non konsep.

Tentu Nashar akan dihantam kanan kiri depan belakang atas bawah. Nashar menyampaikan 3 non sebagai cara melepaskan belenggu seni yang memandulkan daya kreasi. Seni yang penting hepi dan berbagi kegembiraan.

Apapun pendapatnya biasa saja. Nyali berseni menjadikan hati merdeka dan bergembira. Apapun situasinya apapun kondisinya senantiasa ada alternatif dan jalan keluar dg pikiran yang positif. Seni menjadi jembatan hati untuk adanya rasa syukur dan mampu melihat sisi kebaikan yg menstimuli untuk terus berkreasi. Semoga ….. selamat menjadi orang yg terus menerus berbagi hepi. (Cdl) Fajar dalam dinginnya kabut ringin putih 220721

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *