MEMAHAMI DAN MENIKMATI KARYA I NYOMAN TJOKOT DAN COKOTISME

Posted on

HARIANTERBIT.CO – I Nyoman Tjokot sebagai seniman patung dengan gaya ekspresive dan memiliki karakter yang berbeda dari para pematung bali lainnya. Tjokot berasal dari Desa Jati Gianyar Bali. Ia tidak pernah belajar mematung secara khusus.

Sebagai keturunan keluarga petani dan orang desa yang pada waktu itu bertani menjadi pilihan hidupnya. Namun berbeda demgan I Nyoman Tjokot yang dengan peralatan yang ada berani memanfaatkan kayu-2 yang hanyut di sungai untuk diukir atau dibuat patung.

Nyali Tjokot dalam berkarya berani membuat sesuatu bentuk atau model yg berbeda dengan orang kebanyakkan. Dari apa yg ia sukai membaca tulisan-2 dari daun lontar tentang ajaran hindu dan kisah-2 mitologi Bali ia berani mengimajinasikan dalam patung2-nya.

Secara garis besar apa yang dilakukan oleh Tjokot dalam mengaktualisasikan ekspresinya dalam patung patungnya dengam model primitive magis menjadi model imajinajisinya di ekspresikan secara spontan. Tjokot mengikuti alur kayu sbg model karyanya, dibuat dg ekspresive atau spontan apa adanya. Model ukiran atau patungnya sbg wujud imajinasi dari ajaran agama hindu.

Memanfaatkan bahan bahan yg ada dan dg konteks alami karya Tjokot bisa digolongkan tribal art maupun brut art yang memiliki karakter kuat. Karya Tjokot bukan sekedar karya biasa namun juga bs menjadi suatu ikon perlawanan atas hegemoni seni yg ditancapkan barat.

Karakter karya Tjokot mendapat apresiasi scr luas sbg suatu aliran baru dg gaya ekspresive magis. Mungkin bisa saja dg kata lain yg benar2 suatu era dg pengaruh Cokotisme yg kuat.

Aliran Cokotisme dikembangkan anak2nya. Pak Tjokot memiliki 7 orang anak, 5 laki laki dan 2 perempuan. Ke lima anak laki lakinya mematung membuat style masing2 walaupun secara garis besar mengikuti apa yg dilakukan ayahnya

Anak anak Tjokot membuat patung dengan model primitive magis yg terus berkembang dalam berbagai model dan bentuknya. Di antara anak anak Tjokot yg menonjol Ketut Nongos dengan gaya berbeda dengan bahan kayu nangka dalam model pahatan dalam menggambarkan mahkluk2 mitologi bali dengan berbagai ornamen2 yg saling terhubungbsatu dengan lainya. Karya Tjokotisme terus mengalir menurun ke cucu dan cicitnya.

Cucu cokot yang konsisten dan trs berkarya ada Made Kanten dan Wayan Pondal. Kanten cucu cokot yg banyak memgembangkan model model baru dan mengikuti banyak aktivitas seni dan keluar dari Bali. Sedangkan Wayan Pondal terus menekuni aliran2 Cokotisme di desa Jati.

Komitmen dan konsistensi cucu cokot inipun menurut ke cicit Cokot yaitu Made Rudana atau yg dikenal dg panggilan Nabix. Cokotisme ditangan nabix terus mengalir imaji imaji kakek, ayah dan paman2nya. Dan iapun mengembangkan dalam berbagai model baru namun tetap setia pd prinsip Tjokot dan Cokotismenya.(cdl) Happy Fathers Day 16 Juni 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *