HARIANTERBIT.CO – Kasus Covid-19 di Indonesia tengah melonjak hebat. Sejumlah wilayah menjadi zona rawan penularan Corona. Tak terkecuali di daerah Jabodetabek dan Jawa Barat.
Kantor kementerian, ramai-ramai menerapkan work from home (WFH) alias bekerja dari rumah. Uji coba pembelajaran tatap muka di sejumlah provinsi dibatalkan, pada Jumat (18/6/2021) lalu.
Semestinya, langkah ini juga harus diikuti oleh pusat-pusat lembaga pendidikan dan pelatihan di seluruh Indonesia, tak terkecuali milik TNI dan Polri. Terutama di wilayah Jawa Barat seperti Bandung, Sukabumi, serta wilayah rawan lainnya.
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengungkapkan, pelatihan yang tengah berlangsung, hendaknya dihentikan.
“Apalagi di zona merah yang rawan penularan Covid-19. Lembaga pendidikan dan pelatihan berbasis asrama atau boarding, sangat rawan penularan Covid-19,” kata Dicky, Sabtu (19/6/2021), dalam rilis yang diterima HARIANTERBIT.co.
Sebab, berbagai kegiatan dilakukan bersama-sama, baik di kelas, kantin, hingga di kamar-kamar siswa. Sehingga susah untuk menerapkan protokol jaga jarak. Sebab, kebanyakan aktivitasnya indoor. Cenderung padat yang meningkatkan risiko penularan.
“Lakukan pendidikan dan pelatihan jarak jauh dulu. Yang sudah terkonfirmasi positif misalnya, segera karantina di tempat dengan fasilitas kesehatan yang memadai. Jangan ditutupi. Harus segera terdeteksi agar tidak tambah menyebar,” ujarnya.
Dicky mengatakan, ini demi mengantisipasi kasus seperti tahun lalu. Apalagi saat ini ada varian Alpha yang cepat sekali proses penularannya. Untuk mengingatkan, Pusat Pendidikan Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD di Bandung, menjadi klaster Covid-19 di Jawa Barat, Juli 2020 lalu.
“Sebanyak 1.262 orang terdiri dari peserta didik dan pelatih Secapa TNI AD positif virus Corona,” ungkap Dicky.
Sementara itu, April 2020 lalu, Polri mengonfirmasi ada 300 dari total 1.550 siswa Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri di Kota Sukabumi, Jawa Barat, yang positif Covid-19.
“Jangan sampai terulang, tahun 2020, yang berbasis asrama ini sangat cepat menular. Banyak contoh klasternya. Yang kasihan tenaga dan fasilitas kesehatan. Bisa tidak meng-cover dan kewalahan,” tandas Dicky. (*/rel/dade)



