Rektor Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI Prof H Sumaryoto.

NADIEM PIMPIN KEMENDIKBUD-RISTEK, INI KATA REKTOR UNINDRA

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan melebur Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Mendikbud Nadiem Makarim dipercaya memimpin lembaga yang kini bernama Kemendikbud-Ristek tersebut.

Rektor Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI Prof H Sumaryoto mengungkapkan, keputusan penggabungan ini dinilai sebagian akademisi tak tepat momentumnya. “Tapi saya hanya berpikir bahwa alasannya itu yang sangat urgen itu apa?” kata Sumaryoto, Rabu (5/5/2021), dalam keterangan tertulis yang diterima HARIANTERBIT.co.

“Karena lima tahun lalu awal 2014 kan dipisah, Dikti (Kemenristekdikti) dari Dikbud (Kemendikbud), kemudian tahun 2019 dilebur lagi, baru dua tahun ristek BRIN dipecah lagi, nggak masuk Dikbud. Ini yang menjadi pertanyaan dan membingungkan apa sih sebetulnya di balik itu semua?” sambungnya.

Sumaryoto mengatakan, penggabungan tersebut bukan sekadar mengganti nomenklatur. Tapi juga perubahan manajemen dan lainnya. Di sisi lain, ia menilai Kemendikbud dan Kemenristek yang terpisah tak menimbulkan persoalan berarti.

“Jadi pindah sana pindah sini. Kop surat segala macam juga harus diganti, lalu tata kelola juga mengenai kepegawaian juga berubah. Itu yang menurut saya yang harus dipikirkan, manfaat dan mudaratnya. Karena pengalaman saya dipisah dari Dikbud, Ristek-Dikti tidak ada masalah kok, tidak ada yang beda, secara umum sama saja. Karena akhirnya urusan perguruan tinggi otoritas masing-masing kampus. Apalagi swasta, swasta kan tunduk pada statuta yang ditetapkan melalui undang-undang,” ujar Sumaryoto

“Tata kelola PTS itu ada di statuta, statuta diatur oleh penyelenggara, itu merupakan amanat UU tentang Perguruan Tinggi. Selain pejabat atau pegawai yang di lapangan yang jadi korban, menurutnya apa yang menjadi tujuan dari penggabungan dua kementerian tersebut takkan mudah dicapai. Terutama target-target yang dicanangkan di sektor riset atau penelitian. Apalagi bicara riset, riset bukan pekerjaan mudah. Riset adalah kegiatan yang tidak kelihatan, dananya besar dan tidak instan, meneliti tentang apa, hasilnya bagaimana,” imbuhnya.

Pemerintah, kata Sumaryoto, seharusnya fokus terhadap penanganan pandemi Covid-19. Khususnya dampaknya di tingkat bawah di Kemendikbud. Sebab, menurutnya, pandemi membawa dampak yang sangat merusak di level terendah kementerian. Lebih baik anggaran dikerahkan untuk mengatasi Covid.

“Di Dikbud ini, dengan Covid ini seharusnya memikirkan yang di bawah, bukan yang di atas. Bukan bicara kampus merdeka, merdeka belajar. Di bawah itu yang berantakan sekarang. Menafsirkan motto Ki Hajar itu sepertinya guru, bukan yang lain, dosen. Di depan memberikan teladan itu ya guru, bukan siapa-siapa, di tengah membangun motivasi itu juga seorang guru. Dari belakang memberikan dorongan, itu dosen,” tandasnya.

Meski begitu, Sumaryoto enggan mengomentari terpilihnya kembali Nadiem Makrim memimpin Kemendikbud-Ristek. Sebab, menurut dia, hal itu bukanlah kewenangannya. Yang terpenting bagi Sumaryoto, siapa pun menterinya harus bisa memimpin atau memiliki jiwa kepemimpinan yang baik.

“Yang penting kemampuan leadership, manajerial. Karena di bawah menteri kan ada dirjen, di bawahnya ada direktur, subdit dan seterusnya, mereka-mereka yang harus ahli. Menteri lebih ke manajemen, kebijakan, leadership, itu saja. Wibawa seseorang itu terletak pada kemampuan manajerial skill-nya. Kalau kemimimpinanya bagus, manajerial bagus, wibawa. Walaupun bukan bidangnya,” pungkas Rektor Unindra PGRI Sumaryoto. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *