Gedung Mahkamah Agung.

DELAPAN BANDAR SABU JARINGAN SUMSEL-SURABAYA DIVONIS MATI MA

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Sebanyak delapan bandar sabu jaringan Surabaya-Sumatera Selatan (Sumsel) divonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung (MA). Satu bandar lainnya masih dihukum hukuman penjara seumur hidup.

Sebelumnya Pengadilan Negeri Palembang (PN) Palembang menjatuhkan hukuman mati kepada sembilan orang bandar sabu tersebut. Namun MA mengubah satu bandar itu dari hukuman mati menjadi penjara seumur hidup.

Atas vonis itu, dua orang di antaranya mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Kedelapan bandar sabu yang divonis mati itu, mereka dinyatakan terbukti mengedarkan sebanyak 80 kg sabu dari 12 Maret hingga April 2018. Sabu 80 kg itu dibawa dari Palembang dengan tujuan Pulau Jawa.

Sabu dimasukkan ke karung dan diangkut dengan satu unit mobil Fuso. Untuk mengelabui polisi, sabu ditutup dengan muatan singkong. Selanjutnya, sabu dibagi-bagikan kepada kaki tanganya di Pulau Jawa.

Sedangkan sisanya, seberat 9,3 kg, disita beserta 4.950 butir ekstasi di dua lokasi, yaitu Bandara SMB Palembang dan Surabaya. Kesembilannya kemudian diadili dengan terpisah.

Pada 7 Februari 2019, PN Palembang menjatuhkan hukuman mati kepada sembilan orang tersebut. Vonis terhadap sembilan bandar sabu tersebut dikutip dari website MA, Selasa (2/3/2021).

Kedelapan dari sembilan bandar sabu yang divonis mati, yakni:

  1. Letto (25), tetap dihukum mati hingga tingkat kasasi.
  2. Candra (23), tetap dihukum mati hingga tingkat kasasi. Pada 19 Januari 2021 ia mengajukan PK.
  3. Andik (24), tetap dihukum mati hingga tingkat kasasi.
  4. Hasan (38), dihukum mati di tingkat pertama dan tidak banding.
  5. Ony (23), tetap dihukum mati hingga tingkat kasasi. Ony kemudian juga diadili lagi di kasus tindak pidana pencucian uang.
  6. Sabda (33), tetap dihukum mati hingga tingkat kasasi.
  7. Putra (23), tetap dihukum mati hingga tingkat kasasi. Saat ini ia sedang mengajukan upaya hukum luar biasa PK.
  8. Dika (22), tetap dihukum mati hingga tingkat kasasi.

Sedangkan satu terdakwa lainnya, yaitu Trinil (21). Pada 23 Oktober 2019, majelis kasasi mengubah hukuman Trinil menjadi penjara seumur hidup. Duduk sebagai ketua majelis hakim agung Andi Abu Ayyub Saleh dengan anggota Gazalba Saleh dan MD Pasaribu. Alasan majelis meringankan hukuman karena Trinil terjerumus ke jaringan narkoba akibat himpitan ekonomi. Trinil dijanjikan upah Rp200 juta (omi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *