KEPADA YANG TELAH MENINGGAL DAN YANG HIDUP KITA HARUS MENJADI SAKSI IN MEMORIAM PROFESOR PARSUDI SUPARLAN PHD (BAGIAN V)

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Sebagai asisten dosen beliau, saya berupaya untuk meningkatkan kemampuan saya dibidang akademik. Saat saya menyampaikan kepada beliau untuk melanjutkan studi ke jenjang S3 di KIK UI beliau sangat antusias dan mendukung : ”Saya bersedia menjadi promotor saudara”.

Bangga betul rasanya ada profesor yang sudi memperhatikan dan mendorong saya. Jujur secara pengalaman, secara intelektual saya semua serba terbatas dan saya bukan golongan orang yang dipandang pandai baik di lingkungan keluarga maupun teman seangkatan di Akpol.

Tetapi dengan penuh kesabaran dan keyakinan Prof. Parsudi meyakinkan saya bahwa saya mampu untuk menempuh pendidikan S3: “Sebelum umur 40 tahun saudara harus sudah doktor, umur diatas 40 tahun biasanya sulit dan sudah banyak saraf yang rusak”. Mulailah saya membolak-balik buku-buku penelitian, buku-buku pelajaran yang berkaitan dengan ilmu kepolisian.

Masalah kinerja di lingkungan personel yang akan saya angkat khususnya yang berkaitan dengan rekruitment. Selama kurang lebih 6 bulan saya mencatat, mendengarkan, melihat tindakan-tindakan para petugas polisi dalam menangani perekrutan. Semua saya catat dengan rapi dan siap saya jadikan tema penelitian saya.

Saya sampaikan berulang kali kepada Prof. Parsudi tetapi beliau tidak tertarik bahkan seolah enggan mendengarkan. Saat yang ke enam beliau mengatakan: “Saudara, ini berbahaya, karena menyangkut para petinggi Polri”. “ Saya usahakan tidak menyangkut mereka Prof”. “Ya tetapi ini berbahaya, datanya saudara simpan dan suatu ketika setelah saudara cukup kuat keluarkan itu semua. Dan carikan teori yang relevan untuk mengkajinya”.

Sedih rasanya ditolak, dalam hati saya ingin berteriak :” ini salah satu penyebab rusaknya Polri”. Sebulan kemudian saya mengikuti ujian seleksi untuk studi banding di kepolisian Jepang, dan saya dinyatakan lulus. Saat di Jepang saya bingung dalam kegiatan sehari-harinya hanya ditunjukkan ini, itu dan berbagai kegiatan, padahal di akhir seminar kami diwajibkan menghasilkan suatu produk.

Iseng-iseng saya mengirim email ke Prof. Parsudi, saya ceriterakan apa yang saya alami. Beliau menjawab dalam email: semua baik-baik saja. Saudara Yoyon Haryono (mahasiswa KIK angkatan ke 6) meninggal dunia. Agar saudara dapat menghasilkan produk, maka saudara harus mengetahui pedoman-pedoman yang mereka gunakan.

Jawaban singkat tersebut selain menggembirakan karena saya terinspirasi akan mampu membuat produk dari studi banding, tetapi juga sedih karena teman saya meninggal dunia di usia yang relatif muda. Kebetulan almarhum Yoyon Haryono adalah teman satu angkatan saya di Akademi Kepolisian.

Setelah pulang dari Jepang beliau sangat bahagia saya beri satu copy hasil studi banding. Dan saat akan mengajar di PTIK saya ceritera kepada beliau kalau rencana usulan penelitian saya adalah tentang community policing. Tanpa pikir panjang beliau langsung berkata:”Setuju, segera buat, nanti saya koreksi”.

Legalah hati ini rasanya plong, seolah rintangan pertama sudah dapat saya lewati. Dengan penuh semangat rencana usulan penelitian saya buat dan saya serahkan beliau. Di kritik dan di koreksi berkali-kali, hingga akhirnya saya dinyatakan diterima sebagai mahasiswa S3 KIK UI angkatan ke dua bersama empat mahasiswa lainnya.(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *