SENI BUDAYA

SENI: OLAH RASA SEKALIGUS OLAHRAGA KETERATURAN SOSIAL DALAM REKAYASA SOSIAL


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

SENI dalam hidup dan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial merupakan suatu refleksi atas kewarasan atau kekuatan berbagai gatra kehidupan. Konteks kewarasan ini berkaitan dalam manajerial atau menata untuk mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial. Pengelolaan secara geografis, demografis, sumber daya alam, ideologis, politis, ekonimis, sosial budaya, pertahanan, keamanan, hukum hingga secara teknologis menunjukkan adanya saling keterkaitan satu dengan lainnya untuk mengimplementasikan amanat dari konstitusi. Yaitu agar berdaulat berdaya tahan berdaya tangkal dan berdaya saingnya NKRI. Melindungi segenap warga negara, Tanah Air dan segenap tumpah darah Indonesia, menyejahterakan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga mampu ikut dalam politik dunia yang bebas aktif dalam menjaga perdamaian dunia.

Makna di balik amanat konstitusi tersebut dapat dipahami bahwa kekuatan suatu bangsa yang bersatu berdaulat adil dan makmur memerlukan adanya kemampuan dan kekuatan dalam menjaga keutuhan NKRI. Mampu mengimplementasikan dan mengamalkan Pancasila sebagai falsafah dan landasan ideologi bangsa dan negara. Menjalankan amanah konstitusi UUD 1945 dan mampu merawat dan memberdayakan kebhinekaan dalam wadah suatu bangsa yang multikultural.

Kekuatan ideologi politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, hukum dan teknologi memerlukan adanya kekuatan dan kewarasan di dalam mewujudkan dan menjaga serta menumbuhkembangkan segala potensi sumber daya yang ada. Terutama sumber daya manusia sebagai aset utama bangsa. Para bapak bangsa menyadari bahwa bangsa yang cerdas akan mampu mandiri berdikari memberi inspirasi bahkan memnjadi sesuatu yang berstandar sebagai alkemi. Bangsa yang mampu menginspirasi akan mampu menahan gerusan rongrongan gempuran bahkan adu domba dan pembodohan dari luar.

Seni yang dapat diimplementasikan melalui olah rasa maupun olahraga akan memberi ruang komunikasi sosial bahkan sebagai saluran-saluran ice breaking dalam kehidupan sosial. Seni yang disadari dan diyakini serta dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosial akan menjadi tradisi agar lestari dan membudaya. Bahkan menjadi bagian dari religi dari ritual hingga perayaan-perayaan atau festival. Seni sebagai wujud dialog antara rasa dalam jiwa atas sesuatu sehingga mampu merasakan bahkan menyelami kedalamanya. Melalui imaji hingga mimpi-mimpinya atas sesuatu hidup dan kehidupan manusia.

Seni dalam olah rasa maupun olahraga menjadikan kehidupan sosial berwarna dan sebagai tanda kewarasan atau kekuatan dari peradabannya. Tatkala seni mampu diimplementasian maka akan muncul orang-orang yang menjadi pelopornya. Para pembangkit dan motivator ini akan mampu menjadi ikon. Karena setiap masa ada orangnya dan setiap orang pun ada masanya. Seni dalam dialog rasa dengan jiwa yang mampu menyelami kedalaman atau menemukan sesuatu yang hidup atau taksunya atau jiwa ketoknya atau grengnya maka dapat berdampak pada kehalusan budi dan kemampuan menghormati dan memperjuangkan bagi kemanusiaan. Semakin manusiawinya manusia dan semakin meningkatnya kualitas hidup manusia akan terlihat di situ. Bagaimana political will hingga implementasinya dalam religi tradisi hobi komuniti hingga teknologi.

Seni terwujud dari kemampuan mengolah atas cipta karsa dalam karya baik dalam nada, suara, kata, cerita, gerak, garis warna maupun rupa semua sarat makna. Simbol-simbol peradaban akan menjadi tanda kualitas kewarasan dalam mengelola atau dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tatkala seni baik olah rasa maupun olahraga menjadi ikon atau mampu menjadi solusi sosial dan bagian dari rekayasa sosial maka kualitas keteraturan sosialnya pun dapat dilihat di sini. Demikian halnya jika yang terjadi sebaliknya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *