SENI BUDAYA

MENEMUKAN TAKSU UNTUK MEMAHAMI, MEYELAMI DAN MENIKMATI KARYA SENI


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

TATKALA berbicara mengenai seni seakan dunia penuh dengan sesuatu yang kadang hanya sang seniman dan Tuhan saja yang tahu. Sesungguhnya tidak juga begitu, karena seni itu memerlukan suatu dialog antara rasa dan jiwa agar dapat menghayati, menyelami, menelusuri lorong-lorong, relung-relung sekat labirin dalam karya. Dialog pemahaman seni memerlukan kontemplasi bukan terburu-buru. Tentu saja tidak menghakimi atau melabel secara subjektif. Sikap terburu-buru dan melabel inilah yang membuat rasa tidak peka sehingga terjebak pada kulitnya. Penghayatan menjadi hampa. Apa yang dikata menjadi penghakiman semata.

Penikmatan karya menjadi semacam iklan atau mengekor apa kata siapa. Dirinya menjadi tidak tahu apa apa bahkan yang parah pura-pura tahu dan apa saja ia mengeluarkan kata. Seni itu produk imajinasi, yang diciptakan atas cipta dan karsa dalam suatu karya. Walaupun tatkala karya ada maka otoritasnya merdeka di luar dari sang senimannya. Interpretasi pun bebas boleh apa saja. Kata suara nada cerita gerak dan rupa menjadi multi-interpretasi yang dapat ditafsirkan apa saja bahkan berbeda hingga bertentangan dari sang senimannya.

Dalam dialog rasa dengan jiwa dalam memahami menelusuri dan menikmati suatu karya memerlukan penemuan taksu atau ruhnya. Tatkala taksu tidak ketemu maka grengnya pun tidak akan terasa. Bagai ada rasa jatuh cinta, di situ ada jembatan hati dalam memasuki taman asmara. Ada rasa rindu di situ. Demikian halnya dengan karya seni yang sarat makna atas apa yang disimbolkan di situ.

Pengajaran atas seni dan budaya melalui proses dialog bukan lagi penghafalan atau sebatas pengenalan. Tingkat peradaban suatu bangsa terlihat bagaimana masyarakat kebanyakannya mengapresiasi seni budaya seniman dan budayawannya. Semakin mampu mengapresiasi maka ruang-ruang penikmatan atas karya seni semakin luas baik arena publik maupun di berbagai lingkungan kampus akademisi dan lingkungan birokrasi. Seni memerlukan political will. Bukan sekadar laku atau ada pasarnya melainkan ruang apresiasi publik sebagai suatu pembelajaran atas jiwa rasa kewarasan dan kelembutan atas pemanusiaan manusia agar semakin manusiawi. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *