
Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi
NYEBELIN situasi yang tidak membuat hati nyaman. Atau seseorang yang membuat hati tidak nyaman keberadaannya dianggap duri dalam daging atau dikhawatirkan mengganggu atau merusak suasana nyaman. Nyebelin di dalam pemahamannya tidak selalu yang kontra produktif bahkan yang produktif dan mengajak waras pun dapat dianggap nyebelin. Dalam komunikasi nyebelin bisa jadi frekuensinya tidak nyambung. Di dalam bahasa Jawa mungkin dapat dikaitkan dengan bener durung temtu pener. Benar belum tentu tepat.
Beberapa sikap yang dapat dikategorikan nyebelin antara lain:
- Sikap merasa paling dari yang paling benar sampai dengan yang paling menderita dan menuntut orang lain mau memakluminya.
- Serba berlebih dari yang berkaitan perkataan perbuatan dan tingkah laku senantiasa ingin dominan dan mendominasi.
- Menghakimi dan mencari cari kesalahan menyalah-nyalahkan tanpa solusi.
- Memandang orang lain dalam posisi salah, lemah, tidak ada bela rasa kepada sesamanya.
- Pelit, tidak peduli dengan orang lain.
- Pamer yang berlebihan.
- Selalu menuntut.
- Mau menang sendiri.
- Sulit diajak diskusi.
- Mau untung sendiri.
- Berbelit belit dan senang membuat susah.
- Semaunya sendiri, tidak bida diberi tahu, ngotot dengam apa yang diyakininya bahkan maunya memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
- Iri hati dengki, dan masih banyak lagi contoh nyebelin yamg ada dalam hidup dan kehidupan kita.
Namun di dalam dunia hiburan sikap yang nyebel-nyebelin ini membuat orang terhibur dan terus dinanti sepanjang masa terutama dalam dunia lawak atau panggung, sebagai contoh:
- Sikap Mandra termasuk Benyamin Sueb, tokoh Atun, Mas Karyo, engkong dalam film ‘Si Doel Anak Aekolahan’.
- Gepeng, Asmuni, Subur, Mamik, Triman, Timbul, Basuki, Pak Bendot, Kadir, Gogon dan hampir semua nyebelin.
- Cak Lontong dengan penjungkirbalikan logika dalam monolog dan dialognya.
- Butet Kerta Rajasa dengam monolog kritik dan plesetan-plesetananya hingga gaya menirukan sikap perilaku dan perkataan para pejabat.
- Komeng dengan celetukan-celetukannya.
- Kang Maman Engkoh dan Sastro dari grup lawak De Kabayan.
- Karjo ASDC, Ester Susi Sunaryo, Tesy Mama Hengki yamg berpenampilan wanita dalam panggungnya.
- Cak Silo dengan Cak Ukil, Ucup Klaten dan gaya-gay mop Papua, dongeng ala orang Sangir, orang Manado (Mongol) atau Pak Ndul sebagai Core of The Core juga Herman Polisi Bhabinkamtibmas dengan Dul Kemit atauu Cingire yang saling ngotot dengan pendapatnya yang tidak umum bahkan dengan keluguannya tetap mempertahankan pendapatnya.
- Kancil dengan Belong, ada Kirun dengan Bagio, Topan dengan Lesus yang berpasang-pasangan.
- Dalam pewayangan juga ada Puno Kawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Cepot dan Dawala, Tualen dalam Wayang Bali, Slenteng dan Lupit.
- Dalam ludruk dan dagelan ada Gito Gati, Peyang Penjol, Basiyo, Kartolo dengan Sapari ada Mbah Atemo dan sebagainya masih banyak orang-orang yang nyebelin tetapi malah dicintai karena memberikan hiburan bahkan mencerdaskan. Cara-cara guyon maton pesan-pesan moral dapat ditransformasikan.
Di dalam konteks birokrasi nyebelin ini dapat dikaitkan dengan tempered radical. Kaum ini berani menyuarakan kebenaran walau di dalam kesendirian. Apa yang dikatakan terkadang antimainstream, out of the box, bahkan no box. Sebenarnya sebagai early warning yang mengingatkan atau mengajak waras atau kembali ke rel atau jalur yang benar. Cara menyampaikan ini seringkali menjadi kontra produktif. Kemasan nyebelin yang membuat tawa canda dapat dijadikan cara transformatif. Nyebelin dalam konteks positif dan negatif senantiasa berimbang dalam kehidupan dan komunikasilah jembatannya.
Nyebelin ini. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)



