RENUNGAN

KARNAVAL


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

HORE… hore… hore… teriakan kekaguman atas arak-arakan dalam berbagai peragaan. Banyak orang tua, muda, anak-anak, ibu-ibu yang menggendong bayi pun rela berdesak-desakkan. Meneriakkan pujian kekaguman atau memberi motivasi. Para pelakunya dalam berbagai peran nampak bangga manggut-manggut terus berjalan menelusuri jalan. Mereka paham hanya di situ ia berperan. Ini arak-arakan pesta untuk menghibur dan membahagiakan bukan sungguhan. Walau dalam kepura-puraan semua bahagia. Karnaval hiburan publik yang juga menggelitik dan tetap menarik.

Karnaval itu nyata ada bukan mimpi. Apa yang dipakai benar adanya, hanya untuk peraga. Bukan profesi sesungguhnya karena tanpa kompetensi. Karnaval dalam kehidupan sosial mungkinkan terjadi? Bisa saja kenapa tidak. Semua perlengkapan seragam ada bahkan ada surat perintahnya hanya hati dan kecintaan serta kebanggaan sebagai profesi yang tidak ada. Atau hanya cinta jabatannya, bukan pekerjaannya karena bukan kompetensi dasarnya. Bisa saja ngasal dan tiada dipikirkannya dalam hati nuraninya atas apa yang ia sandang.

Tatkala bercermin pun kembali ia ragu akan dirinya. Siapakah aku? Mengapa aku ada di sini? Ini bukan hari besar tidak ada peringatan apa-apa. Mengapa aku memerankan profesi ini? Bukankah aku hanya dititipkan? Bukankah aku hanya ditugasi untuk menjadi kepanjangan tangan? Bukankah aku sedang menipu diriku sendiri? Terus saja pertanyaan-pertanyaan menggelontor terus tanpa dijawabnya.

Karnaval dalam kehidupan sosial terjadi atas sabda yang memegang kuasa. Maka jadilah. Ragu atau kepura-puraan tiada lagi menghalanginya. Bagai wayang yang pede dalam peperangan yang yakin akan dimenangkan terus dan dibenarkan bahkan dibela mati-matian oleh sang dalang. Tak lagi ragu walau hanya kepura-puraan yang sarat tipu daya bagai sang raja gila pakaian dalam kisah dongeng Hans Christian Anderson. Terus saja berkeliling dengan rasa bangga pamer baju kebesarannya yang senyatanya ia telanjang. Semua yang melihat tahu, namun tetap saja bersorak-sorai memuji-muji karena takut bila jujur… sampai ada seorang anak kecil dalam gendongan ibunya berteriak jujur berkata, raja kita gila ia telanjang diarak-arak di jalan raya… dan karnaval pun bubar. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *