RENUNGAN

SANG PENJILAT DENGAN JILATAN-JILATANNYA


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

PENJILAT memang kerjanya menjilati tak ada daya atau karya selain mengandalkan lidah liatnya. Lidahnya bisa bercabang-cabang ucapan manis bagi sang ndoro tra bagai taburan bunga menggunung. Jangan-jangan banyak para ndoro sakit gula karena kata-kata manis para penjilatnya yg berlebihan. Apa yang dikata ndoro itu bagai sabdo pandito ratu. Benar baik, harum mewangi, walau isinya ngrasani atau untaian rencana mufakat jahat. Aneh di negeri penjilat ndoro mabuk jilatan dan lupa diri serta bersekongkol dengan berbagai kepura-puraan. Ketulusan mungkin hanya diucap saat ada ketakutan akan dilengserkan. Kalau berada dalam dekapan yang berkuasa aman jumawa, dungu pun biasa tetap saja dipuja.

Jilatan demi jilatan sebenarnya mengajarkan ketidakjujuran atau menanamkan asal ndoro senang slamet swargo nunut. Ndoro berganti maka jilatan pun beralih. Yang tak menjambat silakan meraung kesakitan pantatnya habis dijilati semasa punya kuasa. Ada kuasa bagai dewa tiada kuasa hampir gila katanya. Jilatan para penjilat memang penuh bisa menaklukkan atau mematikan rasa pikir dan empatinya. Langsung saja memamerkan taring kuku kuasanya yang bisa membunuh kapan saja, di mana saja, dan siapa saja yang dianggap melawan atau tidak sepaham dengannya.

Jumawa memang kadang ndeso norak gak mutu menjijikkan dan memuakkan bagai lendir keluar dari lubang-lubang manusia dari atas sampai dengan bawah namun tetap saja dijilati para penjilatnya. Penjilat-penjilat ini memang sakti dia ada sepanjang masa dan teruss saja bisa menjilati siapa saja yang berkuasa. Yang punya kuasa bisa berganti namun penjilatnya itu-itu saja. Sang penjilat tak peduli siapa pun bahkan yang dahulu dihujat, dimaki, digonggongi dan digigitnya pun tatkala berkuasa akan dijilati.

Mengerikan kehidupan para penjilat yang tiada lagi karakternya. Hati nurani dan daya nalarnya pun telah diubahnya menjadi lidah. Indera-inderanya pun hanya lidah, dan matanya bisa menjulur lidah menjilat bahkan sampai telinga hidung pun menjadi lidah. Betapa mengerikan bentuknya, wajahnya tak lagi normalnya manusia. Kaki dan tangannya pun menjadi lidah yang menjulur-julur penuh liur.

Tatkala tiada lagi yang dijilati maka sang penjilat berkuasa. Ia resah gelisah. Susah bingung bahkan nampak murung jangan-jangan ia gila. Hanya menjulur-julur lidah dengan liur-liurnya yang lama-kelamaan membasahi lengket dirinya. Ia tak bisa apa-apa walau berkuasa. Ia masih saja ingin menjilat. Naluri dan akalnya hanya menjilati… lama terdiam…. ia mati merana karena tak ada lagi yang dijilati…. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *