NASIONAL

PRODUKTIF TANPA PERGERAKAN MAMPUKAH UNTUK KETAHANAN SOSIAL?


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

SUATU masyarakat dapat bertahan hidup tumbuh dan berkembang kalau ada produktivitas. Untuk berproduksi memerlukan aktivitas produktif. Aktitivitas produktif salah satu pilarnya adalah pergerakan. Tatkala pandemi Covid-19 melanda pergerakan-pergerakan dibatasi bahkan dilarang, akankah daya tahan untuk hidup ini masih ada? Bisa saja akan terdampak. Terutama yang memerlukan pergerakan-pergerakan yang aktual. Mau tidak mau produktivitas mereka akan menurun bahkan bisa mati karena memang tidak ada lagi yang dihasilkan.

Melihat situasi seperti ini apa yang menjadi pemikiran untuk mendapatkan solusi. Bisakah produktif tanpa pergerakan atau dengan gerak yang sangat terbatas? Bisa saja untuk pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan manajerial, transformasi, informasi dan komunikasi. Namun untuk yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pokok atau yang berkaitan dengan kehidupan yang mendasar tentu ini menjadi pemikiran melalui team work atau mungkin sistem pihak ketiga.

Literasi ilmu teknologi (IT) menjadi bagian penting dan mendasar bagi daya tahan, bagi hidup dan kehidupan yang berkaitan dengan sistem manajerial, sistem transformasi, informasi, edukasi, konunikasi. Sistem-sistem online, sistem big data yang dikelola melalui sistem back office, application, dan sistem network yang berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) mesti dibangun entah swasta entah pemerintah. Sistem analisis dan sistem algoritma sudah dapat menajdi bagian pemetaan dan sebagai upaya-upaya untuk memberikan back up system pada pergerakan yang aktual dan manual.

IT merupakan solusi pandemi Covid-19? Bisa jadi begitu, tatkala kita tidak berubah maka akan dilibas. Mungkin vaksin bagi pengobatan Covid-19 sangat penting. Namun kemampuan berubah atau mengubah produktivitas tanpa pergerakan atau dengan gerak yang terbatas ini menajdi landasan yang mau tidak mau harus dilakukan. Mungkin kita melihat data persebaran pandemi Covid-19 yang begitu masif dalam waktu dekat akibat pergerakan. Penularan melalui traveling atau pergerakan.

Perubahan mindset tata kelola kehidupan untuk mengandalkan cara-cara virtual. Tanpa literasi IT berat. Di era revolusi industri 4.0 sekat batas ruang dan waktu sudah dirontokkan. Sistem birokrasi pun saatnya diubah menjadi one gate service system. Sistem data sistem pelayanan dan back up sosial atas pergerakan yang aktual, yang tetap masih dibutuhkan. Jasa kebersihan, perbaikan, kesehatan, makanan, kebutuhan sehari-hari lainnya. Mungkin rumah menjadi pusat kegiatan sosial. Semua pergerakan didekatkan atau melalui pihak ketiga yang telah dikoordinasi melalui sistem-sistem pelayanan pada one gate service system.

Solidaritas sosial memerlukan suatu implementasi nyata pada kawasan atau komunitas-komunitas untuk saling menjaga, saling membantu. Bagi yang terdampak langsung sangat rentan dan mudah terprovokasi. Kemampuan berdaya tahan pada level bawah tanpa pergerakan atau dengan pergerakan yang sangat terbatas, solidaritas menjadi kekuatan dan dengan sistem-sistem back up secara virtual akan sangat membantu bagi mereka untuk dapat bertahan hidup. Saling menjaga, saling berbagi, saling mendukung sebagai gerakan moral yang bida disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat dan corak kebudayaannya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *