RENUNGAN

BUKAN SEKADAR APA, MELAINKAN MENJADI SIAPA


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

JACK MA mengatakan, kalau kamu belum kaya dan terkenal, kata-kata mutiaramu bagaikan kentut. Ketika kamu kaya dan terkenal, kentutmu menginspirasi.

Dari kata-kata Jack Ma menunjukkan, menjadi siapa lebih penting daripada sekadar apa. Mungkin kita berdebat apa saja bisa kita lakukan, yang penting kemanfaatannya bagi diri kita maupun sesama. Benar itu tidak salah tatkala sebatas bisa bertahan hidup. Namun tatkala akan menjadi legenda dan karyanya dikenang sepanjang masa mungkin benar juga kata-kata Jack Ma. Yang menjadi pertanyaan besar bagi kita semua, bagaimana menjadi siapa? Menurut saya memang tidak ada rumusnya bahkan tidak ada kursus atau bahkan sekolahnya sekalipun.

Bisa saja menjadi siapa ini given atau gawan bayi yang sudah menjadi takdirnya sebagai bawaan orok. Atau mereka santai-santai saja dan semuanya turun dari langit? Tentu saja tidak. Semua itu adalah kerja keras dengan perjuangan dan doa, bahkan mereka pun yang telah menjadi legenda tidak pernah memikirkannya. Menjadi siapa ini pun bukan sekadar cita-cita atau puncak pencapaian melainkan penghayatan dan ketekunan dengan segala risiko dan konsekuensinya menjalankan panggilan hidupnya.

Perjuangan tentu sarat risiko, penuh dengan kemungkinan gagal bahkan menjadi korban di tengah jalan. Menjadi siapa bukan sebatas menapaki anak tangga, melainkan sadar bahwa dirinya ada tugas tanggung jawab yang harus diembannya. Kalau dilihat akan nampak lebih di batas rata-rata yang membutuhkan perjuangan pengorbahnan bahkan air mata. Jalanan terjal panal menanjak licin berliku tentu tidak mudah. Di situlah ketekunan konsistensi kemauan keras ketulusiklasan bahkan berani menunjukkan suatu keyakinan yang penuh harapan.

Menjadi siapa ini bagian orang yang telah selesai dengan dirinya tidak lagi egois dan mampu melebur dalam kepekaan, kepedulian bahkan bela rasa kepada sesamanya. Ini bagian patriotisme bukan sekadar mencari panggung atau cari untung sendiri. Ia bukan karbitan. Bukan produk kroni atau klik. Tentu juga bukan golongan pemuja kekuasaan, pangkat, jabatan dan sebagainya. Menjadi dikenal atau terkenal karena karyanya, proses perjuangannya, ketahanan dan ketekunannya, keberaniannya berkorban.

Para pejuang dengan jiwa patriotismenya di dalam berjuang mengatakan: badanku dapat kamu belenggu dan dapat dihancurkan, namun jiwaku, pemikiranku tetap merdeka. Bahkan Tan Malaka mengatakan: suaraku akan lebih lantang dibanding saat saya masih hidup. Benar kata Jack Ma, kata-kata mutiara dari siapa menggelora bahkan membakar jiwa semangat dan menginspirasi di mana-mana. Wiji Thukul menulis dalam puisinya: hanya satu kata, Lawan! Iwan Fals dalam lagunya ‘Bongkar’ bisa menggerakkan banyak jiwa. Pidato-pidato Bung Karno yang menggelora sebagai pemimpin besar revolusi penyambung lidah rakyat. Banyak sekali siapa-siapa yang menjadi patriot bangsa. Sultan Agung menyatakan dirinya sebagai Semopati Ing Alogo Sayidin Panoto Gomo Khalifatulloh, dan masih banyak lainnya lagi.

Apa yang dinyatakan para pelopor, para pemikir, seniman, politikus menunjukkan betapa gigihnya bukan sekadar cari kemudahan kenikmatan semu. Melainkan mampu menjadi inspirator role model. Perjuangan bukan pamrih keduniawian. Tetapi memang ada pengorbanan, ada manfaat bagi hidup dan kehidupan, dan tentu perjuangan bukan karbitan. Seandainya pun direkayasa semua akan semu tidak ada kenangan, karena penuh tipu daya dan kepura-puraan. Menjadi siapa itu spirit bagi jiwa yang tulus ikhlas, tidak larut mabuk puja-puji atau kenikmatqn tipu sana-tipu sini tentu bukan karena uang dan cara-cara curang. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *