SENI BUDAYA

SENI EKOLOGI: SENI BERSIH-BERSIH LINGKUNGAN


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

SENI ekologi sebenarnya bagian dari bersih-bersih lingkungan sambil berkesenian yang tak sebatas menyapu membuang sampah memulung atau jual rongsokan. Apa yang saya pikirkan adalah seni dalam membantu mengatasi sampah. Memberdayakan sampah-sampah dari lingkungan hidup kita yang bisa kita jadikan sumber kreativitas. Dalam kehidupan kita menghasilkan sampah setiap hari dan terus-menerus sampai kita tidak lagi hidup di bumi ini. Para pelopor dan pejuang seni sampah cukup banyak dan karya karyanya juga sangat artistik sarat makna.

Sampah seakan barang buangan, barang kumuh sumber penyakit, barang sisa yang hrs dibuang dan disingkirkan dari kehidupan sosial kemasyatakatan. Para pemulung tukang sampah dan banyak pekerja-pekerja yang menangani sampah terus berjuang dari pintu ke pintu sampai dengan tempat pembuangan akhir. Memang sampah yang akan digunakan diseleksi dan diklasifikasikan dalam bentuk seni instalasi, patung, lukisan bahkan kerajinan-kerajinan dan sebagainya yang akan kita buat.

Para pelopor seni ekologi sudah menorehkan tinta emas dalam kehidupan sosial dari menanam, mengajarkan kebersihan, mendaur ulang dan sebagainya. Pejuang di persampahan perjuangannya bukan sebatas menjual rongsok atau sisa-sisa sampah yang bisa didaur ulang atau bida digunakan kembali, melainkan melahirkan kembali sesuatu yang berguna sebagai tanda atau tonggak peradaban.

Menghadapi plastik, kaleng dan sebagainya yang sulit hancur di dalam tanah akan menjadi bom waktu atas kerusakan lingkungan. Di dalam aliran-aliran seni modern memberikan ruang kemerdekaan berpikir dan berkreasi dengan apa saja dengan cara bagaimana mewujudkannya. Memang kalau disadari dan dipikirkan sungguh-sungguh seni kontemporer Indonesia mengkiblat kebarat-baratan, ada juga yang ketimuran, ada yang ke primitif atau gaya religi bahkan sosial kemasyarakatan.

Corpus Christi karya Teguh Ostenrik dari rongsokan mesin-mesin atau besi-besi tua yang dibuat disusun sedemikian rupa untuk menunjukkan suatu penderitaan dan proses penyelamatan. Karya-karya Tisna Sanjaya yang memberdayakan sampah tanah dan lainnya sebagai wujud ekspresi kritik sosial dan menunjukkan kehidupan sosial kemasyarakatan. Marchendise dari puing-puing tembok Berlin yang dikemas sedemikian rupa sehingga mampu menjadi sesuatu yang baru, unik, menarik, dan memiliki nilai. Karya-karya instalasi Sunaryo yang memberdayakan batu kayu bambu dalam karya-karyanya. Einseln Kiefer dengan berbagai media besi, kertas, kaca, kain dan kayu diolah dalam cita rasa seni menjadi suatu karya baru. Banyak lagi tas daur ulang kain perca. Dan banyak lagi pejuang-pejuang dan seniman-seniman yang layak disebut sebagai pejuang seni ekologi yang dengan kegigihannya, konsistensinya, dan keberaniannya cara berpikir yang no box untuk terus memerdekakan seni yang digelutinya.

Seni dalam menata dan memberdayakan sampah plastik, kain, kertas, kaca, dan besi memerlukan nyali, keberanian, mencoba, mendalami, menggeluti dan konsistensi. Bukan ikut-ikutan atau hanyut arus melainkan suatu kesadaran tanggung jawab dan peka peduli serta bela rasa melalui kepiawaianya untuk memberikan solusi walaupun dalam karya seni. Namun sangat mendasar karena seni menunjukkan suatu kewarasan peradaban dan keteraturan sosial pada semua lini kehidupan terutama politiknya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *