NASIONAL

COVID-19 MEMORIAL: SENI DALAM IMAJINASI RASA DAN PENGHAYATAN UNTUK APRESIASI BAGI PEJUANG-PEJUANG KEMANUSIAAN


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

PADA masa pandemi Covid-19 yang sarat dengan keraguan ketidakpastian hingga ketakutan ada sesuatu yang muncul di balik semua itu. Manusia sang pemikir, sang imajiner, sang penanya berupaya mencatat dan membuat sesuatu peristiwa itu ada maknanya.

Seni salah satu cara memaknai duka Covid-19. Makna di balik derita dalam gaya tawa canda pun ditorehkannya. Para pejuang kemanusiaan yang gugur tertular saat merawat pun menjadi suatu kenangan. Bagaimana korban infektan Covid-19 pun yang sepi dalam proses pengafanan hingga pemakamannya pun seakan menjadi suatu hukuman.

Dalam duka dan hukuman ada kekuatan iman penghiburan “manusia seringkali terjebak pada raga, rupa maupun hal-hal yang bersifat dunia, namun Tuhan sesungguhnya melihat jiwa”. Ini mungkin yang dapat dijadikan suatu acuan bagaimana seni dari manusia yang memiliki jiwa yang penuh imajinasi bukan sebatas pada rupa raga atau yang kasat mata, namun sebaliknya mampu mengajak menyelami makna di balik dari fenomena itu sendiri. Memaknai sesuatu menjadi berharga, menjadi mempunyai cerita, menjadi tanda bahwa manusia pernah ada hidup mengembara dalam perziarahan di dunia hingga ambang batas kematiannya.

Demikian halnya masa wabah Covid-19 melanda seluruh dunia seolah lumpuh dipadamkan keresahan serangan virus yang begitu cepat menyebar menulari. Manusia makhluk sosial dibunuh dari dirinya sendiri hingga harus melakukan jarak sosial. Era digital, era teknologi masih bisa menjembatani walaupun menjaga jarak bersosialisasi kehidupan sosial di balik layar masih ada.

Di sinilah hati rasa pikiran dan jiwa manusia dihidupkan oleh manusia-manusia kreatif yang mampu menjaga peradabannya dalam menguatkan jiwa melalui seni. Nada, suara, kata, rupa, gerak dan cerita dikemasnya dalam digital art semua itu menunjukkan manusia masih hidup walau dalam kondisi menjaga jarak. Seni memang bukan sebatas yang ada nampak kasat mata, namun justru sebaliknya yang bida dinikmati melalui peziarahan imajinasi. Di situlah rasa indera berperan untuk membawa budi menikmati menyentuh pada hati yang paling haliki.

S Sudjojono mengatakan, ‘jiwa ketok’ jiwa yang nampak. Penampakan jiwa inilah yang ditorehkan menjadi penanda zaman, menjadi cerita sejarah perjuangan akan hidup dan kehidupan manusia. Manusia makhluk Ilahi yang ahli untuk tetap ada dan tumbuh berkembang dalam segala suasana. Memorinya akan sesuatu begitu kuat. Seni dijadikan jiwa yang nampak untuk suatu kenangan bagi peristiwa duka lara. Jiwa manusia ini yang menjadikan ikon atau citra atau gambaran bagaimana ada catatan kenangan untuk suatu keabadian.

Pandemi Covid 19 bukan sebatas wabah yang menjadi bencana bagi hidup dan kehidupan, namun bida saja tanda pra perang dunia ketiga. Dalam duka itu tidak semua bencana, karena dalam perenungan manusia ada nilai-nilai kemanusiaan yang kembali muncul. Seperti untuk tidak semata-mata mengejar dunia yang serba terburu-buru, silent dan metitation menjadi pilihan mendekat pada Sang Khalik, menjadikan home sweet home penghargaan atas hidup dan kehidupan, keluarga hingga mendaraskan doa dalam hati yang paling hakiki sekalipun dilakukan dengan penuh iman dan pengharapan.

Tata dunia baru akan dihasilkan recovery pascapandemi Covid-19 ini memerlukan patriot-patriot peradaban yang sarat ide cemerlang, yang no box mampu memdobrak tata lama. Memori akan pandemi Covid-19 akan terbangun dalam berbagai wujud dari model konvensional hingga digital. Seni memang apa saja, kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja bisa tergantung bgm memaknai mengemas dan menyebarkannya. Covid-19 memorial akan menjadi kenangan apresiasi bagi pejuang-pejuang kemanusiaan yang telah tiada maupun yang masih melanjutkan peziarahanya di dunia fana. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *