DAERAH

JAWA TIMUR SIAP PERANG MELAWAN CORONA (COVID-19)

Oleh: Umi Zahrok

WABAH virus Corona (Covid-19) yang menjadi musibah global dan menjadi keprihatinan dunia serta antisipasi nasional, kita semua wajib melakukan upaya pencegahan sebelum wabah tersebut merebak, menjalar ke wilayah yang lebih luas di Indonesia.

Kaidah ushul fiqh menyatakan, “menyumbat sesuatu yang menghadirkan kemadharatan lebih utama, untuk menghindari sesuatu kemafsadatan atau kerusakan yang lebih luas ‘dar’ul mafasid muqadamun ‘alaa jalbil mashalikh’.”

Ibu Khofifah Indar Parawansa gubernur Jatim sudah menyatakan KLB (Kejadian Luar Biasa) terhadap Covid-19 berarti kondisi Jatim saat ini perang melawan virus dengan balatentara adalah dokter dan paramedis yang bertempur di depan didukung dengan regulasi tentang wabah penyakit menular, tentang kekarantinaan kesehatan, tentang kesehatan, dan tentang keamanan.

Di antaranya kesiapan Rumah Sakit Syaiful Anwar (RS Pemprov Jawa Timur) selalu siaga menangani virus Covid-19 (Corona) dengan berberapa skenario, di antaranya ada ruang isolasi, ruang psikiater, ruang treatment dengan estimasi ruangan untuk 60 pasien. Tidak hanya itu, paramedis harus sehat terus karena kalau sakit akan menjadi transmition, kalau ada indikasi diharapkan isolasi diri dan RSSA (Rumah Sakit Syaiful Anwar) juga mengkluster status paramedis tersebut.

Penyebaran virus Corona (Covid-19) ada kontak langsung adalah individu dalam radius kurang dari 1 meter dengan pasien, dan kondisi ini terkonfirmasi paling banyak adalah pekerja medis, sehingga kerawanan yang berat terpapar virus Corona adalah paramedis.

Sudah ada 44 RS untuk penanganan Covid-19, dan ada tiga rujukan utama yaitu RS Soetomo (Surabaya), RS Soedono (Madiun), dan RS Syaiful Anwar (Malang).

Cara mencegah penyebaran Corona (Covid-19) di antaranya:

  1. Menjaga ‘kebersihan’ dalam banyak hal (keluarga dan lingkungan).
  2. Dengan cara olahraga.
  3. Mengonsumsi makanan empat sehat lima sempurna (makanan pokok, lauk-pauk, sayur-mayur, buah-buahan, dan Susu) serta vitamin, herbal, dan lain-lain.
  4. Memenej psikologi kita sendiri dalam menghadapi jarak sosial (social distancing).
  5. Pakai masker bila berpotensi sakit dan berkonsultasi dengan dokter.

Mekanisme atau petunjuk teknis terhadap:

  1. Community base, yakni areal yang berbasis komunitas atau kerumunan sosial, misalnya bandara, pelabuhan, stasiun , mal, pasar, tempat hiburan, wisata, dan forum-forum pertemuan, hajatan, diskusi, seminar dan bentuk sejenisnya yang berskala di atas 100 orang harus segera disampaikan kepada masyarakat agar dapat memaklumi dan mematuhi, tentu dengan batas waktu tertentu.
  2. Menyiapkan hospital (rumah sakit yang dapat menangani Covid-19, dan rumah sakit rujukan utama khusus virus Covid-19).
  3. Diharapkan ada satgas Covid-19 untuk memastikan di tempat-tempat umum ada disinfektan, call center selama 24 jam, dan berbagai cara pencegahan dini penyebaran Covid-19.

Penyebaran virus ini selain dari orang yang sakit (positif Covid-19), penyebarannya juga terjadi melalui orang yang tidak sakit dan hewan.

Secara historis kebiasaan nenek moyang bangsa Indonesia minum jamu tradisional semacam, beras kencur, kunir asem, temu lawak, daun sirih, dan sejenis ramuan pahit brotowali dan lain lain. Sehingga dunia penelitian menyebut Indonesia sebagai live laboratory. Di Indonesia sendiri, meskipun memiliki kurang lebih 90 persen total jenis tumbuhan-tumbuhan berkhasiat jamu ada di Indonesia, ternyata hanya terdapat sekitar 9.000 spesies tanaman yang diduga memiliki khasiat obat. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 5 persen yang dimanfaatkan sebagai bahan fitofarmaka, sedangkan sekitar 1.000-an jenis tanaman sudah dimanfaatkan untuk bahan jamu.

Obat tradisional merupakan warisan budaya masyarakat daerah yang dipergunakan untuk pencegahan, pengobatan, perawatan dan atau pemeliharaan kesehatan secara turun temurun sehingga perlu dilestarikan, dikembangkan dan dilindungi. Empon-empon (ramuan tradisional) mampu menguatkan daya imun atau kekebalan tubuh, dan berpotensi mencegah penularan ragam penyakit termasuk virus Corona.

Dari aspek sosiologis menunjukkan bahwa kebutuhan dan kecenderungan masyarakat untuk mengonsumsi obat tradisional karena adanya pengaruh kemajuan dunia dan teknologi sehingga membawa perubahan gaya hidup back to nature, dan mahalnya obat-obatan modern yang membuat permintaan tanaman obat-obatan semakin tinggi.

Tanaman obat-obatan di Indonesia yang dikenal dengan rempah-rempahnya atau empon-empon masih sebatas jamu tradisional (lokalan) belum diproduksi sebagai obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmakan sehingga mempunyai nilai jual yang tinggi, dan punya daya saing yang lebih baik di pasar nasional dan internasional.

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Adapun perlindungan terhadap obat tradisional dimaksudkan, antara lain:

  1. Menjamin keamanan, khasiat/manfaat dan mutu produk obat tradisional yang dihasilkan di daerah.
  2. Mengembangkan bahan baku dan produk jadi (obat tradisional) di daerah.
  3. Meningkatkan pemanfaatan obat tradisional untuk promosi, pencegahan, pengobatan, perawatan dan atau pemeliharaan kesehatan di daerah.
  4. Mengurangi ketergantungan pada penggunaan obat kimia dalam pelayanan kesehatan di daerah.
  5. Menjaga dan melestarikan warisan budaya. (Penulis adalah Anggota Fraksi PKB DPRD Jawa Timur)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *