POLRI

SMART POLICING


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

POLISI sebagai aparat yang bertugas memelihara dan mewujudkkan keteraturan sosial akan menghadapi banyak hal potensi konflik, masalah sosial hingga berbagai isu penting yang terjadi di dalam masyarakat. Di era digital atau e-policing di masa depan atau tatkala menghadapi bencana alam atau bahkan saat terjadi prahara Covid -19 (https://www.worldometers.info/coronavirus/) dituntut adanya polisi-polisi yang cerdas pemolisiannya (smart policing).

Smart policing ini bukanlah sekadar penggunaan IT, tetapi polisinya menjadi super (super cops). Yang super kompetensinya, bukan kewenangannya yang mampu melayani masyarakat dlm kondisi ekstrem sekalipun. Kompetensi dalam memberikan pelayanan kepada publik secara prima yang cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses dibutuhkan kesiapan pelayanan-pelayanan kepolisian kepada publik dalam bidang:

  1. Pelayanan keamanan.
  2. Pelayanan keselamatan.
  3. Pelayanan administrasi.
  4. Pelayanan informasi.
  5. Pelayanan hukum.
  6. Pelayanan kemanusiaan.

Konteks pelayanan-pelayanan tersebut disiapkan atau di mana pada ranah birokrasi maupun pada ranah masyarakat. Model-model pemolisian dengan pendekatan yang berbasis wilayah, berbasis fungsional hingga yang berbasis dampak masalah menjadi suatu ikon pelayanan prima yang dibangun dalam e-policing atau pemolisian berbasis elektronik.

Upaya-upaya yang dilakukan dalam e-policing adalah membangun big data menuju one gate service system. Semangat dari pelayanan kepolisian adalah proaktif, problem solving, mengutamakan pencegahan, pemberdayaan dan mengintegrasikan berbagai stakeholder, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain itu keberadaan polisi mampu menjadi ikon atau simbol polisi yang cerdas.

Membangun pemolisian yang cerdas (smart policing) di era digital diperlukan political will yang cerdas. Kebijakan yang cerdas adalah kebijakan yang visioner dan mampu mengantisipasi dan dikembangkan menjadi solusi. Kebijakan ini menjadikan suatu tonggak inspirasi yang merupakan prinsip-prinsip mendasar dan berlaku umum. Satu prinsip seribu gaya. Bagi anak buahnya dapat melakukan pengembangan-pengembangan sesuai dengan nilai-nilai lokal yang ada. Atau sesuai dengan corak masyarakat dan kebudayaannya.

Kata-kata smart memang sedang menjadi pilihan atau harapan adanya perubahan. Amanat konstitusi bangsa kita pun adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemimpin yang cerdas senantiasa memikirkan apa yang baru, apa yang membuat masyarakat bangga, yang berefek pada kepercayaan publik yang tinggi. Hal tersebut dampak dari kerja profesional yang didukung dengan modernisasi kepolisian dan kepercayaan merupakan buah dari pelayanan-pelayanan yang prima.

Tatkala kita membangun sistem pemolisian sebagai model yang perlu diperhatikan adalah masukan (input), proses (cara mencapainya) maupun keluarannya (output), yang memerlukan adanya standar-standar baku sebagai pedoman operasionalnya (SOP).

Smart policing dalam konteks ini dipahami sebagai model community policing pada sistem online yang kita sebut e-policing. implementasinya pemolisian yang berbasis wilayah, berbasis kepentingan dan berbasis dampak masalah yang berupaya menerobos sekat-sekat ruang dan waktu. Implementasi smart policing adalah dengan membangun back office sebagai pusat data, komunikasi, koordinasi, pengendalian, pengawasan dan informasi, application sebagai bentuk model program-program layanan yang bisa di-install dalam berbagai model dan sistem baik untuk pendataan, pencarian, pemberian informasi, kecepatan merespon dan sebagainya, dan network sebagai jejaring secara elektronik dan secara manual harus terus dibangun sebagai fondasi dasar atas kekuatan dari sistem-sistem pelayanan tersebut. Kesemuanya itu perlu didukung dengan big data.

Big data merupakan bagian penting untuk dapat bekerja sinergi terintegrasi. Big data ini dibangun dalam sistem-sistem pemetaan dan pengategorian sesuai dengan apa yang akan diperlukan untuk sistem operasionalnya. Dari sistem-sistem pengategorian akan dapat dihubung-hubungkan dalam suatu model yang holistik atau sistemik. Dari model-model tersebut akan memudahkan membuat sistem analisis baik prediksi antisipasi dan solusi secara konseptual bahkan teoritikalnya hingga pengoperasionalannya.

Polisi dalam pemolisiannya diharapkan menjadi polisi yang profesional (ahli, dengan mengembangkan ilmu kepolisian), cerdas (kreatif dan inovatif, pilih orang-orang yang berkarakter), bermoral (dibangun dengan kesadaran, tanggung jawab dan disiplin), dan modern (berbasis IT). Semua itu dijabarkan model pemolisianya dalam model smart policing pada tingkat mabes, tingkat polda, tingkat polres, tingkat polsek dan subsektor, bahkan sampai dengan bhabinkamtibmas. Mewujudkan Polri yang profesional, modern dan terpercaya melalui smart policing dimulai dari pemikiran-pemikiran visioner yang luar biasa atau berbeda dengan pemikiran-pemikiran pada umumnya dalam birokrasi yang rasional (berdasar pada kompetensi), kepemimpinan yang visioner, transformasional dan problem solving dalam membangun model pemolisian di era digital dengan berbasis pada sistem online (electronic policing).

Selain itu perlu adanya peningkatan SDM profesional yang memiliki attitude baik dan sebagai pekerja keras dan pembelajar serta mindset sebagai polisi ideal (penjaga kehidupan, pembangun peradaban dan pejuang kemanusiaan sekaligus). Hal ini ditunjukkan pada birokrasi yang mempunyai tata kelola lembaga prima (national class institution) yang memiliki program-program unggulan yang inspiratif, inovatif, kreatif serta dinamis. Dukungan infrastuktur dengan teknologi yang modern masih dapat memberikan pelayanan yang cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses. Di samping itu perlu ditingkatkan kerjasama yang sinergis dan berkelanjutan dengan stakeholder dalam mengaktualisasikan smart policing melalui democratic policing.

Penerapan strategi aktualisasi smart policing melalui antara lain:
1. Membangun program smart policing yang merupakan model community policing yang proaktif dan problem solving sebagai model pemolisian di era digital dengan berbasis pada sistem online yang dapat mengembangkan berbagai model pemolisian seperti: a) E-policing, b) International policing, c) Road safety policing d) Disaster policing, e) Emergency policing, f) Art policing, g) Paramilitary policing, dan sebagainya bisa dikembangkan dalam berbagai konteks yang berkqaitan dengan masalah-masalah sosial atau yang berkaitan dengan isu-isu penting yang terjadi di dalam masyatakat.

2. Capacity building sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas SDM lalu lintas menuju polisi yang profesional, modern dan terpercaya dengan membangun karakter petugas kepolisian serta memperbaiki dan meningkatkan kualitas SDM polantas melalui pendidikan dan latihan baik soft skill maupun hard skill.

3. Pemimpin dengan kepemimpinannya yang cerdas. Pemimpin menjadi harapan adanya kemajuan, kesuksesan, kemakmuran dari apa yang dipimpinnya.

Pemimpin yang cerdas dan kuat akan memberikan perlindungan dan rasa aman bahkan bangga bagi yang dipimpinnya. Setidaknya berbagai kerumitan da kesusahan dapat teratasi atau ada solusinya.

Pemimpin yang cerdas adalah pemimpin yang memiliki kemampuan mentransformasikan pengetahuan dan mampu memberdayakan serta menggunakan sumber daya yang ada, mampu menjembatani, mampu menginspirasi, mampu memprediksi hingga memberi solusi. Mencapai pemimpin yang cerdas bukanlah tiba-tiba atau ditunjuk dari langit.

Pemimpin yang cerdas adalah pemimpin yang sadar cinta dan bangga serta bertanggung jawab mewujudkan mimpi dan harapan-harapan yang ditujukan padanya menjadi suatu kenyataan. Mencetak pemimpin cerdas boleh dikatakan tidak ada cara yang baku. Karena kecerdasan bagi pemimpin merupakan suatu kemampuan mengolah otak otot dan hati nuraninya untuk cinta bangga akan pekerjaannya dengan penuh kesadaran.

Tatkala dinyatakan sekolah sebagai pengkaderan bagi calon pemimpin, maka core value pendidikan tersebut adalah kesadaran. Timbul lagi pertanyaan, bagaimana menanamkan kesadaran dan membangkitkannya? Tentu saja hal yang rumit untk menggugah otak dan hati menjadi sesuatu yang positif bagi tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai patriotisme. Diperlukan adanya keteladanan dari orang-orang yang menjadi ikon atau simbol bagi perubahan atau kemajuan atau sebagai pejuang-pejuang kemanusiaan. Cara melihat akan lebih mudah mentrasformasikan nilai-nilai luhur. Dengan demikian guru, instruktur, pamong, pembimbing, moderator atau apa saja yang disebutnya dapat menjadi ikon atau menjadi teladan. Apa yang dilihat dan dirasakan akan menjadi inspirasi atau akan menjadi penyemangat mencontoh atau setidaknya ada keinginan mengikuti jejaknya.

Tidak mudah mencari orang-orang yang bermental hero yang mampu menjadi ikon. Namun setidaknya apa yang menjadi kata-kata unggulan mereka dapat diambil sebagai kata-kata inspirasi yang memotivasi otak dan hati nurani setiap pembacanya. Kata-kata mutiara dari tokoh dunia di bidang apa saja juga akan menjadi jalan atau pembuka jendela hati memahami sesuatu yang membuat adanya kesadaran.

4. Sistem operasional yang cerdas (smart operation policing) untuk mampu menghadapi dan mampu memberikan pelayanan prima di dalam kondisi ekstrem sekalipun apa yang dijabarkan pada poin 1, 2, dan 3 semua ada grand strateginya, SOP penanganan hal-hal yang bersifat rutin khusus maupun emergency bahkan bencana atau hal-hal yang bersifat kontijensi dapat mengacu pada asta siap:

  • Siap pilun. Apa standar dan langkah-langkah yang dapat dilaksanakan.
  • Siap posko sebagai pusat K3I.
  • Siap latihan sebagai bentuk pra operasi, latihan dapat dibuat untuk petugas posko, petugas lapangan (sesuai satgas yang dibuat),
    bentuk latihan dapat dibentuk skenarios-kenario.
  • Siap cipta kondisi yang dapat diwujudkan pada jejaring atau informan maupun kontak person yang dapat membantu atau menjembatani.
  • Siap mitra yaitu, kesiapan, kesigapan dan kesatuan langkah antar stakeholder dalam bertindak di lapangan.
  • Siap personel yang akan ditugaskan di posko, di satgas maupun pengaturan evakuasi penanganan dan pengaturan bantuan, dan sebagainya.
  • Siap sarpras yakni aarpras perorangan, sarpras kelompok atau unit, sarpras kesatuan.
  • Siap anggaran yang budgeter dan nonbudgeter.

Membangun pemolisian yang cerdas di era digital diperlukan merupakan solusi model pemolisian yang dapat ditumbuhkembangkan dalam konteks masalah sosial dan isu-isu penting yang dihadapi kepolisian.

Dengan demikian petugas polisi mampu tetap eksis di dalam kondisi normal, khusus bahkan kontijensi yang ekstrem sekalipun. Polisi tetap sebagai penjaga kehidupan pembangun peradaban sekaligus pejuang kemanusiaan.

Kebijakan yang cerdas menjadi landasannya sehingga modernisasi profesionalisme semua diupayakan terwujud dan terpeliharanya keteraturan sosial adanya jaminan keamanan dan rasa aman serta mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang dilayaninya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *