SENI BUDAYA

CANDA TAWA DALAM OLAH GERAK, KATA, NADA DAN SUARA


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”

DALAM film Warkop Prambors kalimat itu ditayangkan, sebagai pengingat dan ajakan untuk tertawa. Tertawa menjadi sesuatu kebutuhan dalam hidup manusia sebagai pelipur lara. Membuat tertawa dan mengajak banyak orang tertawa ini merupakan kecerdasan sosial yang mampu mengolah gerak tubuh maupun mengolah kata menjadi sesuatu yang lucu untuk mengundang tawa. Akan terasa lebih lengkap tatkala diikuti olah nada.

Mengajak orang tertawa yang membongkar duka lara tanpa menyentuh harga diri membutuhkan kepekaan, kepedulian dan kemampuan. Bisa saja ajakan tertawa berbuah sebaliknya tatkala rasa yang disuguhkan tidak tepat. Hambar rasanya tak jarang mengubah suasana menjadi tegang, kaku, bahkan bisa menjadi ketersinggungan. Ajakan tertawa dapat dilihat dari rasa, dari suasana kebatinan orang yang diajak tertawa.

Kepiawaian mengajak tertawa ini merupakan kepekaan dan mampu menyentuh hati walau dengan serempetan menjungkir balik logika tak jarang yang porno dan sedikit asusila pun disukai. Lawakan yang dibuat skenario memerlukan pemain yang tepat. Film Bajaj Bajuri misalnya, kekuatan skrip narasi cerita mampu membuat orang terbahak-bahak walaupun yang pelawak hanya Mat Solar. Dalam film Si Doel Anak Sekolahan di tangan Mandra, Benyamin Sueb, dan Basuki membuat suasana semakin hidup walau suasana yang sederhana.

Plesetan lagu-lagu dalam nada lucu seperti: Doel Sumbang, Jula Juli Cak Kartolo, lagu-lagu parikan dalam: ludruk, ketoprak, wayang golek, wayang orang, wayang kulit pun dapat menjadi penggeli hati. Memutar balik kata, memplesetkan fakta, memparodikan yang sedang berkuasa, membuat satire tatkala sesuai dengan rasa dari audiens yang kita ajak tertawa tentu akan mendapat respons dalam gelak tawa atau setidaknya ada senyum simpul.

Dalam suatu dialog basiyo yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari walau tidak dibuat-buat dan apa adanya mampu membuat imajinasi yang mendengar hanyut dalam suasana sarat canda tawa di desa atau perkampungan orang Jawa. Dialog dengan berbasis kesukuan pun dapat menjadi kekuatan bagi sentuhan hati untuk menstimuli pencah dan riuh rendah orang yang tertawa. Benyamin Sueb, Mandra, Mali, Bolot dengan gaya Betawi yang spontan mampu menyentak getar tawa yang melihat atau mendengarnya. Gaya dan logat Sunda: Abah dari De Bodor, gaya Kabayan dari Kang Ibing, plesetan-plesetan Projeck Pop, lawakan dalang wayang golek dengan mengedepankan tokoh Cepot, dan lain-lain mampu menggeli hati walaupun yang mendemgar atau melihatnya bukan orang Sunda bahkan yang tidak tahu bahasa Sunda sekalipun bisa terseret untuk tertawa. Gaya Tiongkok peranakan yang diperankan: Suryana Fatah, Mama Hengki, juga tak kalah manjurnya mengajak orang-orang untuk tertawa. Gaya Batak, gaya orang Minahasa, gaya orang Maluku bahkan mop orang Papua sekalipun menunjukkan kecerdasan dalam menstimuli dawai hati untuk tertawa.

Gaya atau model ajakan tertawa bervariasi, ada yang dalam dialog, ada monolog, ada yang tanpa kata, semua memerlukan suatu kepiawaian olah kata, olah gerak, serta olah nada dan suara. Kemampuan menirukan suara yang dilakukan Gatot Sunyoto, Butet Kartarejasa dalam menirukan gaya bicara pejabat Orde Baru memiliki gaya tersendiri dalam menstimuli lahirnya tawa. Mengeluarkan suara perut dalam pentas boneka Susan yang dilakukan Ria Enes dan Tongki oleh Gatot Sunyoto ini pun menjadi kekuatan dalam menghibur anak-anak sejak usia dini gemar tertawa bahkan melipur lara dengan bercanda.

Sakitnya melucu tidak mendapat respons tawa ini bagai menstater mobil berkali-kali namun mesin tak hidup juga. Kegagalan membuat tawa tatkala terlalu besar rekayasanya sehingga malah mengeringkan suasana. Stimuli yang menggores harga diri pun dapat berdampak pada buntunya daya tawa. Kelucuan merupakan spontan dari sang pemeran walau ada skenario.

Melucu menjadi bisnis hiburan, Srimulat pernah berjaya pada masanya, hingga mampu melahirkan pelawak-pelawak tingkat nasional. Warkop Prambors yang mampu melahirkan puluhan film lebar. Stasiun televisi swasta pun membuka peluang pada program audisi stand up komedi, yang melahirkan pelawak-pelawak stand up seperti: Cak Lontong, Mudy, Mongol, Dodit Mulyanto, dan lain-lain. Film pendek dari Tiongkok, India, pun banyak merebak di media sosial menunjukkan berbagai kelucuannnya. Gags hiburan dalam film-film lucu di pesawat yang dikatakan ‘just kidding’. Sule dan Andre Stinky memilih dunia lawakan daripada musik termasuk dengan komeng yang terkenal dengan teriakan: ” uhuyyyy…”

Ratusan bahkan ribuan pelaku penggeli hati yang piawai mengolah kata, gerak, nada, dan suara mereka berjuang sendiri-sendiri sepertinya jembatan hati politikus penguasa maupun birokratnya untuk terharu mengolah kekayaan kewarasan bangsa. Mungkin mereka merasa tidak perlu karena dengan pikiran, perkataan, perbuatan, dan kebijakannya memang sudah lucu menggelikan walaupun menyedihkan dan menyakitkan rakyat. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *