NASIONAL

PRODUKSI MINYAK TERUS TURUN, MULYANTO PESIMIS TARGET 1 JUTA BAREL TERPENUHI

HARIANTERBIT.CO – Para pembantu Presiden Joko Wiododo (Jokowi) pada bidang perminyakan harus bekerja ekstra untuk menemukan blok minyak baru. Tanpa temuan besar (giant discovery) blok minyak baru, mustahil Pemerintah mampu memenuhi target produksi minyak 1 juta barel perhari di tahun 2025.

Soalnya, ungkap anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kepada Harianterbit.co di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (6/2), tren produksi minyak dari sumur yang ada sekarang terus turun. Padahal, target produksi minyak nasional sudah dikurangi.

Karena itu, Mulyanto yang juga Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI itu meminta Pemerintah bekerjasama ekstra keras untuk mencari giant discovery blok baru yang dapat dieksplorasi. Ini adalah hal penting yang harus segera dilaksanakan untuk mengantisipasi krisis minyak dalam negeri.

“Kalau melihat kinerja Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas yang ada sekarang, saya pesimis target 1 juta barel per hari bisa tercapai. Itu target yang cukup besar. Tidak bisa dicapai dengan cara business as usual,” tegas Mulyanto.

Karena itu pula saat Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR-RI dengan Pimpinan PT Pertamina, Selasa lalu, penyandang gelar Doctor of Engineering jebolan Tokyo Institute Technology (Tokodai) Jepang tersebut
mengingatkan mulai Agustus 2021 bakal dilakukan serah terima pengelolaan eksplorasi Blok Rokan dari Chevron Pasific Indonesia ke Pertamina. Blok Rokan adalah kawasan eksplorasi minyak terbesar kedua setelah Blok Cepu.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, ungkap wakil rakyat dari Dapil III Provinsi Banten tersebut, pengelolaan blok lama terminasi yang diserahkelolakan kepada Pertamina tidak memperlihatkan kinerja yang menggembirakan.

Selain karena secara alamiah cadangan minyak yang ada dalam sumur-sumur tua tersebut terus menurun, pengalaman Pertamina juga tidak terlalu memadai dalam mengelola sumur terminasi sehingga wajar jika tingkat produktifitas kilang lama terus turun.

Sampai hari ini saja, lanjut Mulyanto, Pertamina belum dapat melakukan pengeboran di blok Rokan. Padahal masa transisi pengelolaannya segera berakhir. Di blok Rokan saja kita pesimis lifting minyak bisa dipertahankan.

Karena itu, secara nasional.

“Harus ada gebrakan serius dan strategi-strategi khusus pemerintah di sisi eksplorasi migas ini untuk mendapatkan giant discovery. Sebab eksplorasi temuan raksasa ini perlu biaya besar dengan resiko yang juga besar. Bila tidak target 1 juta bph di tahun 2025 hanya sekedar Pemberi Harapan Palsu (PHP),” demikian Mulyanto. (ART)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *