RENUNGAN

MENGAPA HOEGENG?


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

KETIKA Polri dihujat sana-sini, sepertinya label jelek terus menerus memojokkan dan melemahkan posisi Polri. Bahkan penangkapan terorisme pun seakan diabaikan, dan lebih suka menghujat, menyalahkan, dan mencari kesalahan.

Sebegitu jelekkah Polri ini sehingga hampir-hampir tak ada daya lagi. Atau memang kita ini sedang sakit, sakit gebyah-uyah (menggeneralisasi, satu dilihat jelek semua yang dilihatnya dan dianggap jelek). Ini harga mahal bagi Polri. Mau tidak mau, suka atau tidak ya begitulah kondisinya.

Saat hujatan korup, markus, terlibat KKN, rekening gemuk, dan berbagai tudingan miring kepada Polri ada suatu oase segar yang dapat diangkat dan didudukkan pada porsi sebagaimana yang seharusnya. Dialah Hoegeng Iman Santoso, sosok seorang polisi, yang pernah menjadi kapolri setidaknya bisa dijadikan ikon atau simbol reformasi Polri.

Namun sepertinya Hoegeng belum mendapat lahan yang subur sebagai simbol polisi yang bersih, pejabat yang bersahaja dan berani. Malahan dari berbagai kalangan menghargai dan memberi penghargaan kepada Hoegeng dan keluarganya.

Kalau Polri tidak memberi penghargaan kepada Hoegeng sebagaimana yang seharusnya maka dapat dipastikan nilai-nilai budaya organisasi yang diyakininya dan dijadikan acuan kerjanya bukan kompetensi bukan pula kemanusiaan tetapi uang. Mengapa bisa begitu? Kalau nilai-nilai budaya institusinya adalah uang atau materi tentu saja Hoegeng bukan pandangan sedap dan menjadi simbol, karena apa yang dilakukan Hoegeng pasti akan berseberangan dengan apa yang aktual dilakukan oleh anggota Polri.

Hoegeng memang pernah dicekal, pernah dilarang hadir pada HUT Bhayangkara, para pejabat Polri takut dan menyingkir dari Hoegeng. Jangankan mengidolakan, mendekat pun takut. Kalau polisinya saja takut, bagaimana masyarakatnya. Suatu ketika ada yang memesan lukisan kepada Hoegeng saat sudah selesai dan akan dibayar, pemesan meminta menghilangkan nama Hoegeng dalam kanvas lukisannya. Hoegeng berkata tidak jadi kamu beli pun tak mengapa, daripada saya harus menghapus nama saya.

Ia seniman (pelukis dan penyanyi sekaligus pemain musiknya), penyiar radio, hobi dalam komunikasi, penyayang binatang, tak neko-neko yang dipikirkanya adalah kemajuan bagi Polri. Sikap dan keteladannya memang patut dibanggakan dalam implementasi tugas Polri. Istri dan anak-anaknya pun tak jarang menjadi korban idealismenya.

Apa yang dilakukan Hoegeng memang nampaknya biasa-biasa saja, tetapi kalau dipahami maknanya apa yang dia kerjakan dan yang ia lakukan dapat dikatakan sebagai polisi sipil, dan ia sudah menerapkan prinsip-prinsip polmas walau secara konseptual belum ditulisnya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *