Uncategorized

SMART ROAD SAFETY DALAM SISTEM PENGAMANAN KOTA


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

KOTA merupakan suatu wilayah yang menjadi ikon pusat dari berbagai kehidupan sosial kemasyarakatan. Pengembangan kehidupan sosial dilakukan di kota seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, teknologi, pendidikan, industri, bahkan keamanan dan pertahanan pun ada di kota. Konfliknya pun berdampak luas juga ada di kota. Gesekan-gesekan sosial dan perebutan pendominasian dan pemberdayaan berbagai sumber daya pun ada di kota. Sering kali kita tidak menyadari bahwa kota menjadi inti dari berbagai kehidupan sosial kemasyarakatan.

Di era digital ini kota dikembangkan menjadi kota yang cerdas atau populer dengan kata smart city. Kota yang cerdas adalah kota yang dapat fungsional dan terjaminnya keamanan dan rasa aman bagi warganya untuk beraktivitas dan menghasilkan produk-produk yang dapat digunakan untuk bertahap hidup tumbuh dan berkembang. Smart city ditunjukkan dalam berbagai gatra kehidupan yang smart juga termasuk smart keamanan dan rasa aman.

Dalam smart city ditunjukkan adanya smart mobility dan smart activity yang semuanya menumbuhkembangkan produktivitas, dan menunjukkan adanya peningkatan kualitas hidup masyarakat. Teknologi bukan tujuan, melainkan alat atau sarana pendukung mencapai tujuan untuk meningkatnya kualitas hidup masyarakat dan semakin manusiawinya manusia.

Smart city lalu lintasnya juga ditunjukkan dalam penanganan road safety yang smart, juga yang mampu menunjukkan sebagai urat nadi kehidupan yang aman, selamat, tertib, dan lancar. Konteks seperti inilah yang menjadi bagian penting bagaimana smart road safety menjadi pemikiran bersama para pemangku kepentingan membangun sistem yang terintegrasi untuk memberikan pelayanan prima di bidang road safety. Pola implementasi smart road safety merupakan model untuk mewujudkan sistem lalu lintas yang aman selamat tertib dan lancar adalah sebagai berikut:

  1. Peta dan pemetaan wilayah dengan berbagai potensi dan permasalahannya yang dapat ditunjukkan dalam sistem back office yang didukung dengan berbagai aplikasi berbasis artificial intellegence maupun internet of things untuk recognation maupun inputing data wilayah manusia dan kendaraan yang mampu menunjukkan sistem-sistem data untuk menjawab: kebutuhan, kapasitas, prioritas, kecepatan hingga emergensi. Peta dalam back office sebagai pusat K3I k komando, koordinasi, komunikasi, dan informasi saling terhubung dan saling mengisi untuk mampu menunjukkan kualitas road safety secara realtime bahkan dengan cepat menjawab secara ontime dalam bentuk info grafis, info statistik maupun info virtual lainnya.
  2. Sistem pengorganisasian merupakan sistem pengategorian dari sistem pemetaan yang mampu mengoperasionalkan sistem-sistem yang menunjukkan tingkat keamanan, keselanatan, ketertiban, dan kelancaran. Sistem ini dapat dibangun sistem coding atau penandaan dengan warna atau sinyal-sinya tertentu yang memberi peringatan bagi petugas back office untuk melakukan tindakan sebagai solusinya.
  3. Sistem K3I yang digerakkan dengan cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, dan informatif. Dalam sistem K3I ini membangun sistem meminimalisasi sekecil mungkin terjadinya pelanggaran atau penyimpangan yang berdampak pada masalah road safety yang berupa IT for road safety untuk menangani: pelanggaran, kemacetan, kecelakaan atau masalah-masalah lainnya yang berdampak pada terganggu atau rusaknya produktivitas. Pada sistem K3I ini merupakan sistem untuk membangun memelihara road safety agar mampu berfungsi sebagaimana mestinya yang bersifat rutin atau ada hal-hal khusus yang menajdi prioritas maupun pada kondisi emergensi.
  4. Call centre merupakan sistem pendukung K3I untuk komunikasi dan informasi secara mudah dan cepat untuk membangun sistem big data. Misalnya kode panggilan bagi pilar-pilar road safety 110, 119, 108, dan sebagainya. Call centre ini dikoneksikan satu dengan lainnya sehingga saling terhubung dan saling mengisi satu sama lainnya dalam sistem yang terintegrasi.
  5. Big data ini bukan semata-mata data yang terkumpul melainkan data yang dianalisis sehingga dapat dijadikan landasan untuk menjawab berbagai kebutuhan road safety secara realtime dan ontime melalui sistem AI maupun IoT untuk menunjukkan situasi dan kondisi jalan, pengguna jalan kendaraan bermotor pada sistem-sistem info grafis, info statistik maupun info virtual lainnya. Keunggulan big data ini ada pada analisis yang mampu memprediksi, mengantisipasi, dan memberi solusi.
  6. One gate service system atau sistem pelayanan kepada publik dalam satu pintu. Sistem ini akan menjembatani, memudahkan, mempercepat, bahkan mereformasi birokrasi yang parsial, konvensional dan manual. Sistem ini merupakan pelayanan prima sekaligus merupakan inisiatif antikorupsi dalam pelayanan kepada publik yang berupa pelayanan di bidang: keamanan, keselamatan, hukum, administrasi, informasi hingga kemanusiaan.
  7. Cyber security sebagi sistem pengamanan data atau sistem penjaminan atas data agar validitas dan keakurasiannya terjaga maupun sistem-sistem pelayanannya mampu mengatasi serangan-serangan dari para hacker. Sistem ini juga bagian dari akuntabilitas kepada publik atas kepercayaan terhadap aparatur pemerintah untuk memberikan jaminan dan perlindungan HAM walaupun tetap transparan dan akuntabel.

Dari poin-poin di atas beberapa pola penangangan smart road safety dapat menggunakan pola asta siap:

  1. Siap piranti lunak sebagai pendukung dari payung hukum pedoman-pedoman SOP dan sistem-sistem lainnya.
  2. Siap posko sebagi back offoce yang berbasis AI dan IoT untuk menggerakkan berbagai aplikasi sehingga mampu menjadi pusat K3I.
  3. Siap untuk menganalisis berbagai situasi dan kondisi road safety untuk prediksi, antisipasi, dan solusinya.
  4. Siap SDM yang mengawaki sebagai cyber cops yang mampu inputing data, analisis data, menghasilkan produk, dan networking.
  5. Siap jaringan sampai dengan ke bagian-bagian terkecil yang berbasis wilayah, berbasis kepentingan, hingga yang berbasis dampak masalah.
  6. Siap mitra sebagai soft power untuk menggerakkan berbagai tindakan preemtif, preventif, represif, hingga rehabilitasi.
  7. Siap logistik sebagai sarana prasarana yang berbasis IT untuk perorangan, kelompok, maupun kesatuan.
  8. Siap anggaran secara budgeter maupun nonbudgeter.

Secara singkat pola-pola ini dapat dijadikan model yang dapat dikembangkan sesuai dengan corak masyarakat dan kebudayaannya, sesuai dengan situasi dan kondisi wilayahnya. Dan ini juga bisa digunakan sebagai landasan penggembangan atas penanganan masalah bencana, konflik, maupun kerusakan infrastruktur yang berdampak pada kehidupan sosial kemasyarakatan secara prima (cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif, dan mudah diakses). (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *