NASIONAL

SOAL ATERIA-EMIL SALIM, ANHAR: SAYA BANYAK KENAL POLITISI PDIP CERDAS DAN SANTUN

HARIANTERBIT.CO – Sikap anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, ArteriaDahlan saat berdebat dengan Prof Dr Emil Salim dalam acara Mata Najwa bertema ‘Ragu-ragu Perpu’ yang ditayangkan salah satu televisi swasta nasional, Rabu (9/10) malam mendapatkan banyak kritik.

Berbagai pihak geram dan gerah melihat sikap Arteria yang dinilai sangattidak sopan itu. Soalnya, Ateria bukan hanya bedebat dengan orang yang jauh lebih tua dari pada dia tetapi juga salah satu tokoh nasional. Bahkan acara yang dipandu Najwa Sihab tersebut ditayangkan televisi swasta nasional.

Laki-laki kelahiran Lahat, Sumatera Selatan. 8 Juni 1930 itu merupakan seorang cendikiawan, ekonom dan politisi. Bahkan dalam usianya yang sudah mendekati satu abad, Emil Salim masih aktif memberikan ilmu dia kepada para mahasiswa di Universitas Indonesia (UI).

Pada masa Orde Baru, Emil Salim berkali-kali mendapat kepercayaan dari Presiden Soeharto duduk dalam Kabinet Pembangunan. Beliau pernah dipercaya sebagai Menteri Perhubungan, Menteri Lingkungan Hidup serta Menteri Koordinator.

Bahkan dia juga pernah dipercaya menjadi salah satu pejabat di Badan Pembangunan Nasional (Bapenas). Beliau merupakan salah satu dari tokoh Indonesia yang berperan internasional. Kritik perlakuan tidak sopan Artera terhadap Emil Salim itu datang dari mereka yang pernah menjadi wakil rakyat, pengamat politik, pemantau parlemen, intelektual, budayawan dan kalangan kampus. Bahkan karena ketidaksopanan itu tidak sedikit pula netizen yang mengatakan Arteria sangat tidak layak dipanggil Anggota Dewan Yang Terhormat.

Apalagi Setelah acara selesai, Arteria tidak terlihat bersalaman dengan Emil Salim atas prilakunya yang kurang adab itu Hal ini terungkap dalam video yang diunggah Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI Jakarta, Taufiqurrahman. Video itu memperlihatkan saat acara telah selesai. Terlihat tamu yang diundang saling bersalaman. Tampak Sekjen Partai Nasdem yang juga anggota DPR RI Johnny G. Plate, Supratman Andi Agtas (Gerindra) bersalaman dengan Emil Salim setelah foto bersama di ujung acara.

Tidak terlihat Arteria bersalaman dengan Emil Salim. Bahkan hingga akhir acara setelah mereka berfoto bersama Arteriaterlihat buru-buru meninggalkan panggung terlebih dahulu. Taufiq menulis cuitan, “setelah acarapun gak mau salaman sama prof emil salim,kebangetan!”. Video tersebut diunggah Taufiq, Kamis (10/10). “Kalau kita melihat vidio ini, inilah salah satu contoh anggota DPR yang tidak sopan dan sombong alias angkuh penampilanya. Tetapi, kok yang beginian bisa lolos jadi anggota DPR RI,” kata anggota DPR RI 2004-2009,

Anhar Nasution,” kepada Harianterbit.co, Minggu (13/10). Pemegang sabuk hitam bela diri karate tersebut mengaku heran kenapabisa orang seperti ini lolos menjadi wakil rakyat ya. Seharusnya dia sadar dan yang mencalonkan serta pemilih harus selektif, sebab anggota DPR itu mewakili rakyat. “Mudah-mudahan orang angkuh dan sombong seperti ini tidak banyak di lingkungan DPR maupun di Pemerintahan. “Ke depan partai politik harus selektif dan jangan lagi mencalonkan orang seperti ini,” jelas Anhar.

Sebagai anggota DPR RI, lanjut Anhar, seharusnya Ateria menyadari dan memperlihatkan kepada rakyat di negara ini bahwa dia itu adalah wakil rakyat yang beragama, berakhlak mulia serta berbudi pekerti luhur. Lawan bicara Ateria, kata Anhar, orang tua yamg sudah berpengalaman dalam hal mengelola negeri ini bila dibandingkan dengan ilmu politisi muda PDIP tersebut

“Kalau boleh dibaratkan, anggota DPR seperti ini adalah ‘tong kosong keras bunyinya’. Karena itu, janganlah memperlihatkan perangai yang kurang baik kepada rakyat terutama generasi muda. Apalagi kita ini orang timur yang terkenal dengan sopan santun dan tata krama,” kata Anhar.

Saat saya duduk di Komisi III DPR RI, jelas Anhar, saya sangat mengenal banyak tokoh-tokoh PDIP yang hebat. Mereka cerdas dan santun dalam bertutur kata. “Ada Bang Pataniari Siahaan yang kami sebut UU berjalan. Ada pula Bang Teras Narang sebagai Ketua Komisi. Beliau sangat santun serta tegas dalam memimpin. Demikian pula sahabat saya Bung Trymedia Panjaitan. Dia orang Batak yang lebih Jawa dari orang Jawa. Santun, cerdas dan tegas. Saya banyak belajar dari mereka yang lebih duluan satu periode sebelum saya masuk DPR RI.”

Anhar teringat ketika peristiwa ucapan ‘Jangan Sampai Keberadaan Bapak Bagaikan Ustadz di kampung Maling’ saat RDP Gabungan Komisi II dan III dengan Kejaksaan Agung yang akhirnya menjadi polemik dan gaduh luar biasa. “Pertama kali terjadi ketika RDP DPR RI dengan pemerintah. Walau saya dari partai kecil berazaskan Islam tetapi sangat dihargai, dihormati serta dibela sahabat-sahabat saya dari PDIP seperti Bang Teras Narang dan Trymedia Panjaitan luar biasa rasa persaudaraan dan kekeluargaan kami saat itu,” kenang Anhar.

Pada kesempatan terpisah, budayawan Sudjewo Tedjo juga gerah melihat tingkah Arteria. Bahkan Sudjewo minta agar Ketua Umum PDIP Megawati minta maaf kepada Prof Dr Emil Salim. “Harus Mbak Mega yang minta maaf. Kalau Ateria yang minta maaf, ini sudah tidak level,” kata dia.

Sementara itu, Rendy Fitria Reza dari kalangan akademisi menilai Ateria sebagai politisi urakan. “Tidak kali ini saja dia demikian. Saya sering melihat yang bersangkutan melalui layar kaca. Arteri saya nilai arogan dan sangat tidak layak untuk dicontoh,” jelas dia. (ART)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *