PERISTIWA

PELAKU PERCOBAAN PEMBUNUHAN WIRANTO MERUSAK JULUKAN ‘KOTA SANTRI’

HARIANTERBIT.CO – Saat ditemui HARIANTERBIT.co di Alun-Alun Lapangan Menes, Desa Purwaraja, Kecamatan Menes tempat terjadinya penusukan terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, Sutisna (40) warga Kampung Sawah Kecamatan Menes, Pandeglang sedang melihat kedua pelaku yang telah diamankan aparat kepolisian untuk dipindahkan ke Polres Pandeglang dengan menggunakan mobil Gegana. Ratusan orang dari luar Menes berdatangan untuk menyaksikan proses tersebut.

Menurut Sutisna, pelaku penusukan bukan berasal dari Menes, Pandeglang. Mereka hanya perantauan yang memang mencoba untuk merusak nama baik Pandeglang. Tentu akibat peristiwa pencobaan pembunuhan tersebut sudah pasti akan merugikan Pandeglang dan masyarakat Pandeglang yang telah dijuluki ‘Kota Santri’.

Pada saat sebelum kejadian, memang Wiranto tiba di Menes sekitar pukul 08.30 WIB. Beliau kabarnya datang ke Menes untuk menghadiri sebuah acara peresmian gedung perkulihanan baru di Universitas Mathla’ul Anwar (Unma). Sehari sebelum Wiranto ke Menes, memang sempat ada helikopter untuk memastikan beberapa lokasi di Pandeglang yang akan dikunjunginya.

“Memang Wiranto itu sering ke Menes, karena sepengetahuan saya, dia salah satu pembina di Ponpes MA (Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar-red), mungkin pelaku mengetahui kedatangan Wiranto lewat undangan-undangan yang telah disebar seminggu sebelum acara peresmian,” terang Sutisna.

Sutisna menceritakan, setelah Wiranto selesai kunjungan dari Unma, memang pada saat Wiranto tiba di depan pintu gerbang Lapangan Alun-Alun Menes, dirinya sempat meluangkan waktu untuk bersalaman dengan ratusan masyarakat yang sudah lebih dulu hadir di lokasi parkir helikopter. “Banyak warga yang ingin berfoto-foto dengan Wiranto, dan melihat helikopter,” ujar Sutisna.

Masih kata Sutisna, memang warga sudah diimbau juga oleh aparat kepolisian untuk menjauh, namun Pak Wiranto-nya juga ikut menyalami warga satu per satu, dan momen kedatangan dia pas berbarengan keluarnya dengan jam pulang sekolah anak-anak.

“Tiba-tiba SA (diinisialkan-red) pelaku penusukan Wiranto datang dari arah samping mobil, aparat juga langsung mengamankan pelaku, dan segera ditangkap. Kemudian istrinya (FA) langsung membela suaminya yang telah ditangkap, serta menusuk satu ajudan dan Kapolsek Menes yang coba menyelamatkan Wiranto,” jelasnya.

Suasana lokasi terjadinya percobaan pembunuhan terhadap mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto sempat menjadi pusat perhatian masyarakat Pandeglang. Banyak warga dari luar Kecamatan Menes yang mencoba untuk ikut menyaksikan proses pemindahan pelaku kejahatan ke mobil Gegana. Bahkan kondisi jalan di sekitaran alun-alun mengalami kemacetan.

Menko Polhukam Wiranto (dua kanan) saat bersalaman, ditusuk salah seorang warga berinisial SA.

Tertutup
Sementara itu, pemilik kontrakan Yusep Sugiharto menceritakan tentang sosok SA atau biasa dipanggil Abu Rara datang ke Menes, Pandeglang Banten.

Abu Rara tiba di Menes diantarkan Samsudin yang sudah lebih dulu mengontrak di tempatnya yaitu sekitar 1,5 tahun. Dia datang membawa istri dan dua ananknya. Selain itu, Yusep juga sudah mendapatkan informasi terkait perceraian hubungan rumah tangga Abu Rara dengan istri pertamanya.

“Kata Pak RT, dia sudah pisah dengan istri pertamanya, terus sekarang menikah,” ujar Yusep saat ditemui di Kampung Sawah Desa, Kecamatan Menes, Pandeglang Banten, Kamis (10/10/2019), sekitar pukul 17.30 WIB.

Yusep mengaku, belum pernah bertemu secara langsung dengan SA. Warga mengenal sosok Abu Rara sebagai orang yang tertutup.

Hal senada juga diungkapkan oleh Arif, bahwa SA tidak pernah bergaul selama berada di sini. “Saya tak pernah liat dia ikut Salat Jumat. Memang orangnya benar-benar tertutup,” ucap Arif.

Di tempat terpisah, Wakil Rektor Universitas Mathla’ul Anwar (Unma) Pandeglang Banten Ali Nurdin menjelaskan, kabar terjadinya penusukan Wiranto sangat mengagetkan. Sebab, peristiwa yang menimpa Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan itu tidak lama setelah meninggalkan kampus hanya berselang beberapa menit.

“Kejadiannya di Alun-Alun Menes, sekitar enam kilometer dari kampus. Jadi penyerangan itu bukan di lingkungan kampus. Tapi di Alun-Alun Menes ketika Pak Menteri turun dari mobil dan akan naik helikopter untuk balik ke Jakarta,” kata Ali Nurdin, Kamis (10/10/2019).

Ali Nurdin mengatakan, kehadiran Wiranto merupakan sebagai undangan, karena beliau masih tercatat sebagai ketua Dewan Penasihat Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA) periode 2015-2020.

Dalam acara peresmian gedung tersebut dihadiri sekitar 1.000 orang. Selain Menko Polhukam, sejumlah tokoh dan pejabat provinsi hadir di antaranya, Kapolda Banten Inspektur Jenderal Tomsi Tohir, Bupati Pandeglang Ima Narulita, dan Kapolres Ajun Komisaris Besar Indra Lustrianto Amstono.

Masih kata Ali, pada saat melepas Pak Menteri dari lingkungan kampus, kami merasa lega karena ada Kapolda dan Pak Kapolres.

“Selain Wiranto, ada dua orang yang terkena serangan, yaitu Fuad Syauqi dan Kapolsek Menes Komisaris Dariyanto,” pungkas Ali. (jumri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *