DAERAH

RENOVASI PASAR GEMBRONG LAMA AKAN DIRENOVASI, SOLUSI PEMKOT DIKELUHKAN PEDAGANG

HARIANTERBIT.CO – Rencana renovasi Pasar Gembrong Lama, Galur, Johar Baru oleh Pemerintah Kota Jakarta Pusat menjadi polemik, terutama bagi para pedagang yang menggantungkan nasibnya di pasar tersebut.

Menurut pedagang, kendati telah disepakati tempat relokasi sementara di sepanjang jalan sekitar Masjid Nuraini atau Jalan Rawa Sawah II hingga Jalan Rawa Sawah III, masih ada persoalan tersisa lainnya.

“Apakah cukup 380-an pedagang pindah ke sekitar jalan itu semua?” ujar Zulkarnaen, salah satu perwakilan pedagang, dalam keterangannya, Senin (7/10/2019).

Pedagang telur itu tak yakin kawasan sementara cukup ditempati ratusan pedagang. Sebab lapak yang telah disepakati seluas 1×1 meter persegi tiap pedagang. Akibatnya penjual seperti pedagang kosmetik, aksesoris, serta yang memiliki banyak barang dagangan dan tak cocok dijual di lapak sejenis kaki lima, diperkirakan tidak bisa berjualan di tempat relokasi.

Kata Zulkarnaen mengatakan, pihak Pemkot Jakpus harus memikirkan solusi dari persoalan ini. Mengingat waktu renovasi tak sebentar, dan kios lama harus dikosongkan pedagang sesegera mungkin. Renovasi rencananya meliputi pembenahan atap, pembuatan saluran air, dan lain sebagainya.

“Renovasi berlangsung selama 75 hari. Jadi ada yang tidak bisa berdagang selama 75 hari, pada Rabu (9/10/2019) harus kosong kios,” kata Zulkarnaen.

Sebagian pedagang menilai perintah pengosongan disampaikan mendadak dan waktunya teramat singkat. Sosialisasinya juga dianggap minim.
“Tentu tidak bisa begitu, karena ini menyangkut perut dan tidak ada kompensasi,” ujarnya.

Suku Dinas Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Jakpus sempat menawarkan tempat relokasi sementara di daerah Johar Baru ke pedagang. Namun tawaran itu ditolak, lantaran mereka khawatir di lokasi itu tak ada pembeli. Belum lagi kapasitas di area tersebut dikatakan tak memadai.

Zulkarnaen berharap, agar solusi terbaik diberikan, khususnya bagi seluruh para pedagang, bukan hanya sebagian. Ia dan pedagang lainnya tak ingin kebijakan positif tersebut justru merugikan para pedagang.

“Sebab jika itu terjadi, potensi masalah lainnya timbul menjadi besar. Karena ini urusan perut. Kalau perut lapar, bisa jadi masalah baru,” katanya. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *