KASUS

MEDIASI GAGAL, ALIA JUMHUR HIDAYAT GUGAT PT ELITE PRIMA HUTAMA

HARIANTERBIT.CO – Persidangan mediasi antara Alia Jumhur Hidayat dengan PT Elite Prima Hutama di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan gagal membuahkan hasil perdamaian.

Di mana proses mediasi yang diwadahi Alia Jumhur Hidayat dengan memberikan kuasa kepada para Advokat Auditor Hukum dan Konsultan Hukum pada Law Office ARPM & Co, mengajukan gugatan perbuatan melanggar hukum kepada PT Elite Prima Hutama (EPH) atas Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Pembelian Unit Apartemen Casa Grande Residence Tower Montana, terletak di Jalan Casablanca Raya Kav 88 RT 14/RW 5 Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, yang dinilai telah menyalahi perjanjian atau maladministrasi.

Saat di persidangan, Hakim Ketua PN Jaksel R Iim Nurohim SH bertanya kepada kedua belah pihak yakni, penggugat yang diwakili oleh kuasa hukumnya dari Law Office ARPM & Co, Geraldy Sinaga SH dan Masrina Napitupulu SH, MH, sedangkan tergugat yang diwakili oleh kuasa hukumnya Ai Siti Fatimah dan Sandra Marlen, bagaimana mediasi yang dilakukan.

“Media stag yang mulia. Sidang dilanjutkan,” kata Geraldy, menjawab pertanyaan hakim pada Selasa (24/9/2019), di Jakarta.

“Hasilnya tidak sampai damai, selanjutnya mau dibacakan gugatannya,” tanya hakim.

“Iya pak hakim, dibacakan poin-poinnya,” jawab penggugat, yang selanjutnya membacakan gugatan.

Dalam gugatan yang dibacakan dengan dasar-dasar gugatan yang berjumlah 25 alasan, menekankan kerugian atas unit yang salah satunya telah dijual oleh pihak penggugat dengan mengalami kerugian mencapai Rp1,095 miliar, agar tergugat membayarkan kerugian material tersebut.

“Untuk unit apartemen yang kini sudah dibeli oleh klien kami, salah satunya jual rugi. Unit yang satu ini bagaimana caranya jangan jual rugi. Karena yang sudah terjual, klien kami merugi Rp1,095 miliar, selisih dari membeli dan menjual. Di mana keduanya belum ada Akta Jual Beli (AJB),” ungkap Geraldy, seperti dikutip HARIANTERBIT.co dalam keterangan tertulisnya yang diterima Rabu (25/9/2019).

Geraldy menjelaskan, kliennya tidak pernah mendapatkan pemberitahuan dari tergugat kapan dilaksanakan penandatanganan AJB untuk menentukan perkiraan jangka waktu mendapatkan Sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (SHMSRS) atas unit apartemen yang dibeli, yang ternyata kemudian turut tergugat memberitahukan bahwa kliennya telah mengirim surat Nomor: 212/LGL/CGR-EPH/IX/2012, yang menyatakan tergugat akan melakukan proses pemecahan dan penerbitan SHMSRS atas unit apartemen yang dibeli kliennya selambat-lambatnya selesai 36 bulan sejak serah terima unit apartemen.

“Mereka harus terbuka jika ada kesulitan. Beri tahukan kepada konsumen, karena mereka menyampaikan kepada konsumen bahwa membeli unit apartemen sebuah investasi yang bagus dan menguntungkan. Jadi jelas mereka harus terbuka kepada konsumen bagus dan tidaknya,” ujarnya.

Terkait dengan mediasi yang tidak menghasilkan perdamaian, Geraldy menyampaikan, mediasi tidak menghasilkan perdamaian karena pihak tergugat bersikeras apa yang dijual adalah apartemen.

“Jadi tidak ada tawar-menawar lagi, kalaupun tidak ada penyelesaian, ucap mereka sidang kembali silakan. Kami terus. Kita tergantung mereka, ketidakpuasan kami kepada mereka tidak ada penawaran apa-apa kepada kami, ya kita lanjutkan pengadilan, biar hakim yang memutus,” tandasnya.

Soal jawaban dari gugatan yang diajukan, Geraldy menyampaikan, pihaknya akan menunggu jawaban apa yang akan disampaikan oleh mereka, yang selanjutnya baru akan diketahui apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Kita menunggu jawab dari mereka, kita melihat jawaban mereka nantinya kita baru bisa bereaksi. Kita tetap berpatokan pada ketentuan yang ada seperti UU Perlindungan Konsumen,” ujar Geraldy.

Sebagai informasi, sidang ditunda selama satu pekan ke depan, tepatnya pada 1 Oktober 2019 dengan mendengarkan jawaban dari gugatan yang dilayangkan oleh tim kuasa Alia Jumhur Hidayat pada sidang kali ini.

“Masih ada yang mau disampaikan…? Yang dijawab kedua belah pihak, “tidak”.

“Sidang diundur satu pekan, Selasa 1 Oktober 2019,” kata hakim, sambil mengetukkan palunya. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *