KOMUNITAS

VOKASI UI GELAR DISKUSI PUBLIK TENTANG BASIS DIGITAL

HARIANTERBIT.CO – Ikatan Wanita Keluarga (IWK) Vokasi Universitas Indonesia bersama Klinik Digital dan HM Vokasi Humas menggelar diskusi publik yang membahas soal berbagai persoalan yang berkaitan dengan basis digital, di Kampus Vokasi UI, Depok, Jawa Barat, pada Senin (8/7/2019).

Diskusi bertajuk Kampung Digital dengan tema “Prasangka Buruk dan Hoaks adalah Musuh Bersama” itu pun dihadiri sejumlah praktisi dan tokoh seperti, Seno Gumira Ajidarma (rektor IKJ), John De Rantau (sutradara), Devie Rahmawati (founder Klinik Digital Vokasi UI), David John S, Toto S dan Ricky Malau (aktor), serta Katherine (aktris).

“Sepanjang tahun 2019 ini kami mendirikan Kampung Digital yang bertujuan membantu masyarakat memiliki banyak keterampilan, memahaminya hingga mampu menghasilkan hal positif. Sayangnya, saat ini materi digital justru sering menjadi alat penyebaran informasi yang tidak benar dan merugikan banyak pihak. Berita-berita positif yang menimbulkan prasangka baik tentu saja perlu dipelihara, sebaliknya berita negatif yang menghasilkan prasangka buruk, harus buru-buru dihapus,” ujar Danurifqi, ketua HM Vokasi Humas UI, dalam keterangan tertulisnya yang diterima HARIANTERBIT.co, Selasa (9/7/2019).

Hadirnya IWK dalam acara ini, tak lain bertujuan mengajak para kaum perempuan agar bisa menyaring berbagai informasi yang diperolehnya. Para kaum perempuan, terutama kaum ibu, diharapkan bisa menahan diri saat menerima sebuah informasi, sebelum disebarkan kepada pihak lain.

“Kami dari IWK sengaja menghadirkan ibu-ibu, agar kaum perempuan semakin mawas diri terhadap pesan-pesan yang selalu masuk ke dalam media sosial kami. Kami berharap para pembicara dapat menggugah kaum ibu agar mampu menahan diri dan menyeleksi setiap berita sebelum membagikannya kepada orang lain,” tambah Riana Herlina Hadiwardoyo, ketua IWK Vokasi UI.

Pembunuhan Karakter
Hal senada juga dilontarkan Founder Klini Digital Devie Rahmawati. Menurutnya, berita bohong yang diserap oleh komunikan, tidak menutup kemungkinan difungsikan sebagai media untuk melakukan misi pembunuhan karakter.

“Prasangka merupakan embrio dari lahirnya stigma yang berujung pada pembunuhan karakter melalui penyebaran berita bohong. Studi modern telah menemukan bahwa memang ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia dengan mudah berprasangka, baik yang positif maupun negatif. Prasangka merupakan salah satu basic instinct (faktor biologis) yang dihadirkan Tuhan, untuk membantu manusia dalam mempersiapkan diri mengantisipasi tantangan yang akan dihadapi,” papar Devie Rahmawati.

Devie menambahkan, di sisi lain prasangka dapat membantu manusia dalam mengatasi kecemasan dan keraguan. “Sedangkan secara psikologis, prasangka membantu manusia mengatasi kecemasan dan keraguan dalam berbagai situasi. Sebagai ilustrasi, ketika berada di lingkungan baru, prasangka terhadap gender, ras, agama dan sebagainya, membantu individu untuk bersikap. Ketika bertemu dengan laki-laki misalnya, seorang individu pasti sudah memiliki prasangka tertentu, yang akan membantu bagaimana individu untuk berkomunikasi,” tambahnya.

Kehadiran Seno Gumira dan para selebritis ialah terkait dengan karya kreatif mereka yaitu cerpen dan film, yang mengangkat isu prasangka dalam kemasan program yang ringan namun cerdas. Pesan-pesan bahwa imajinasi liar yang merasuki pikiran yang berbuah menjadi prasangka negatif merupakan hal yang perlu dikelola dengan baik. (arya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *