RENUNGAN

SOPO NGIRO?


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

SIAPA sangka menjadi sebuah ungkapan atas sesuatu yang terjadi di luar dugaan. Konteks ‘sopo ngiro’ dalam hal ini dikaitkan dengan hal yang positif untuk memberi energi yang inspiratif dan kontemplatif. Siapa sangka bagi kita bangsa Indonesia yang beraneka ragam suku, bangsa, dan budaya serta alam yang luar biasa menjadi suatu negara kesatuan. Tempaan alam dan konflik sosial yang bertubi-tubi terjadi dengan berbagai dalihnya mampu diatasi atau kembali hidup rukun, damai, aman, tenteram. Bisa dilihat dari catatan sejarah panjang nenek moyang kita yang dari bangsa yang besar mampu menghasilkan berbagai mahakarya tiba-tiba hilang karena alam dan konflik antarsesamanya. Berabad-abad menjadi bangsa jajahan dikecilkan, dibodohkan, namun mampu merebut kemerdekaan.

Bung Karno mengatakan, “Perjuanganmu akan lebih berat dari perjuanganku untuk mengusir penjajah karena kamu akan memghadapi bangsamu sendiri”. Perjuangan menghadapi bangsanya sendiri yang paling berat adalah menghadapi kebodohan, karena akan mudah diadu domba. Saling serang, saling hujat, bahkan saling memghancurkan tentu saja berdampak ke berbagai lini kehidupan. Kebodohan inilah yang menjadi kuman penyakit karena mudah terprovokasi, mudah termakan hoaks, mudah untuk dijerumuskan pada jurang KKN, dan banyak hal lain yang berdampak buruknya citra bangsa. Namun semua itu siapa sangka selalu saja ada jalan untuk kembali menapaki jalan kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun, damai, aman, tenteram. Walaupun bencana meluluhlantakkan, penjajahan mematikan peradaban, konflik-konflik berpotensi memecah belah persatuan, namun sopo ngiro ada jalan Tuhan. Gusti mboten sare, Tuhan tidak tidur, selalu saja ada utusan-utusan-Nya entah disadari atau tidak.

Sopo ngiro ini juga menjadi renungan bagi kita semua untuk tidak meremehkan, mengecilkan, menyepelekan, apalagi melecehkan terhadap sesuatu. Sopo sing nyepelekake barang sing cilik bakal tumiboo ing barang sing gedhe. Siapa saja yang menyepelekan barang yang kecil akan jatuh dalam perkara yang besar. Orang jatuh tersandung kerikil. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara banyak hal lecil yang biasa dalam kehidupan sehari-hari dianggap hal biasa, namun sejatinya ini merupakan sesuatu yang luar biasa potensinya. Demikian juga orang yang biasa-biasa saja malah mampu memjadi juru pencerah, pembawa harapan bagi peradaban dan kehidupan.

Sopo ngiro yang biasa menjadi luar biasa karena kecerdasan, ketulushatian, ketekunan untuk selalu waras dan memberdayakan. Hidup ini indah penuh keajaiban, keistimewaan, hanya saja mampukah kita menemukan dan menikmatinya? Monggo silakan direnungkan sopo ngiro emas berlian, intan permata bagai mutu manikam ada dalam karsa, karya, dan cipta dalam diri kita. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *