POLRI

MOBIL GUNAKAN ROTATOR DAN SIRENE DITILANG

HARIANTERBIT.CO – Satuan Lalu Lintas Wilayah (Satlantaswil) Polres Metro Jakarta Timur memberhentikan satu unit mobil jenis sedan warna hitam B 1781 TAF, karena menggunakan rotator dan sirine. Polisi melakukan tindakan penilangan, serta pencopotan rotator dan sirine.

“Petugas secara persuasif maupun represif menyuruh pengemudi mobil mencopot penggunaan rotator dan sirine yang tidak sesuai dengan peruntukkannya,” jelas Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP M Naser melalui pesan WhatsApp, Senin (17/6/2019).

Disampaikan Naser, mobil Toyota hitam tersebut diberhentikan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur.

Untuk diketahui, semua kendaraan bermotor tidak bisa menggunakan sirene dan lampu rotator. Pemasangan sirene dan lampu rotator pada kendaraan bermotor telah diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Sirine dan rotator hanya boleh digunakan kendaraan tugas polisi, mobil tahanan, pengawalan, pemadam kebakaran, PMI, mobil jenazah, dan mobil dinas lainnya.

Berikut penjelasan Undang-undang No. 22 Tahun 2009 Pasal 59 ayat (5) terkait penggunaan lampu isyarat dan sirene:

  1. Lampu biru dan sirene digunakan untuk mobil petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
  2. Lampu merah dan sirene digunakan untuk mobil tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulans, palang merah, dan jenazah.
  3. Lampu kuning tanpa sirene digunakan untuk mobil patroli jalan tol, pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek kendaraan, dan angkutan barang khusus.

Warga yang melanggar pemakaian sirene dan lampu rotator dikenakan ketentuan pidana sesuai dengan Pasal 287 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009.

“Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan atau hak utama bagi kendaraan yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, Pasal 106 Ayat (4) huruf f, atau Pasal 134, dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp250.000,” pungkasnya.  (**)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *