NASIONAL

73 TAHUN KEMERDEKAAN RI, 102.976 NAPI DAPAT REMISI

HARIANTERBIT.CO – Pemerintah memberikan reward kepada 102.976 narapidana yang telah menjalani pidananya dengan baik pada peringatan 73 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Mereka dianugerahi Remisi Umum (RU) atau pemotongan masa pidana sebanyak 1-3 bulan, dan 2.220 napi di antaranya langsung menghirup udara kebebasan. Remisi diberikan kepada napi yang telah memenuhi persyaratan administratif dan substantif, khususnya mereka yang berkelakuan baik dan aktif mengikuti pembinaan,” kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas) Sri Puguh Budi Utami, dalam keterangan persnya yang diterima HARIANTERBIT.co, Kamis (16/8).

Sri Puguh Budi Utami

Menurut Sri Utami, remisi selayaknya menjadi hope (harapan-red) bagi narapidana sehingga mereka menyadari akan pentingnya menegakkan integritas selama menjalani pidana. Sebaliknya, apabila melakukan pelanggaran, sanksi tegas akan ditegakkan.

Dari 102.976 narapidana yang dapat Remisi Umum II, sebanyak 2.200 langsung bebas, sedangkan 100.776 narapidana yang mendapatkan RU I masih harus menjalani sisa pidananya.

Dirjen Pas mengatakan, remisi bukan sekadar pemberian hadian, namun momentum untuk mengembalikan marwah Pemasyarakatan dimana dibutuhkan bukan hanya peran strategis dan integritas narapidana dan petugas pemasyarakan, tetapi juga masyarakat bahwa menegakkan aturan adalah wajib, sejalan dengana nafas nawacita yang bernafas revolusi mental.

“Revitalisasi Pemasyarakatan menempatkan penilaian perubahan perilaku menjadi indikator utama dalam proses pemasyarakatan. Tujuan utamanya adalah terciptanya pemulihan dan menurunnya angka resedivis,” jelas Sri Utami.

Remisi umum tahun ini juga telah menghemat anggaran biaya makan narapidana sebesar Rp118 miliar, yakni biaya makan per orang per hari sebesar rata-rata Rp14.700 dikalikan 8.091.870 per hari yang dihemat karena remisi.

Dari 100.776 napi yang menerima RU I, 25.084 orang menerima remisi satu bulan, 22.739 orang menerima remisi dua bulan, 29.451 orang menerima remisi tiga bulan, 14.170 orang menerima remisi empat bulan, penerima remisi lima bulan berjumlah 7.691, dan 1.641 orang menerima remisi enam bulan.

Sedangkan dari 2.200 napi yang menerima RU II, 720 orang langsung bebas usai menerima remisi satu bulan, 382 orang menerima remisi dua bulan, 383 orang menerima remisi tiga bulan, 412 orang menerima remisi empat bulan, 266 orang merima remisi lima bulan, dan 37 orang menerima remisi enam bulan.

Hingga saat ini jumlah warga binaan yang menghuni 522 lapas, rutan, dan LPKA se-Indonesia berjumlah 250.452 terdiri dari narapidana berjumlah 177.691 orang dan tahanan sebanyak 72.761 orang, sedangkan daya tampung yang tersedia hanya untuk 124.696 orang.

“Pemberian remisi ini diharapkan dapat mengurangi daya tampung karena para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) akan lebih cepat bebas dengan pengurangan masa pidana sekaligus menghemat anggaran negara,” ujarnya.

Motivasi Perbaiki Diri
Sementara itu, Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi Dirjen Pas Harun Sulianto mengatakan, syarat untuk mendapatkan remisi yakni narapidana sudah menjalani pidana paling sedikit enam bulan, berkelakuan baik, serta aktif mengikuti program pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan negara (rutan).

“Pemberian remisi ini untuk memotivasi agar narapidana memperbaiki diri, menyadari kesalahannya, tidak mengulangi tindak pidana baik selama maupun setelah menjalani pidana. Selain itu, pemberian remisi juga sebagai wujud negara hadir untuk memberikan penghargaan bagi narapidana atas pencapaian dari perubahan perilaku yang positif itu,” imbuhnya.

Harun mengungkapkan, dari 33 Kantor Wilayah Kemenkum dan HAM, provinsi terbanyak penerima remisi adalah Jawa Barat sebanyak 11.631 napi, disusul Sumatera Utara sebanyak 11.233 napi, dan Jawa Timur sebanyak 9.052 napi.

Menteri Hukum dan HAM (Menkum) Yasonna H Laoly, menerangkan remisi merupakan salah satu sarana hukum yang sangat penting dalam wujudkan tujuan Sistem Pemasyarakatan, yakni sebagai stimulus bagi narapidana untuk senantiasa menjaga perilaku dan berubah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

“Remisi diberikan sebagai wujud apresiasi terhadap pencapaian perbaikan diri yang tercermin dalam sikap dan prilaku sehari-hari narapidana. Jika mereka tidak berprilaku baik, maka hak remisi tidak akan diberikan,” kata Yasonna. (*/dade/rel)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *