SENI BUDAYA

RAUN KE BENCOOLEN SINGAPURA

Cerpen: Benny Hakim Benardie

PEKIKAN pengadu burung dara kian mengusik tidur siangku. Belum lagi suara pukulan kentongan petanda burung sudah mendarat, membuat aku memaksa diri untuk menuju MCK umum yang tampak antrean pengantre.

“Siang yang membuat pikiran bertambah kalut aja. Oh iya…. Ini kan hari Minggu! Pantas aja itu orang pada rame main burung,” gerutuku.

Hari ini di Matraman Jakarta Timur, tumbenan tidak lagi turun hujan. Tapi ini merupakan salah satu kecamatan zona aman dari banjir. Hanya saja aku tidak ada aktivitas, karena tahun 1918 ini merupakan tahun mumet bagiku. Belum lagi dipusingkan dengan indeks prestasi kuliah aku yang kayaknya mentok di angka 2,97 dan belum ada tanda-tanda merajak naik.

“Tu la tu tit”, suara handphoneku berbunyi.
Maklumlah tahun itu suara handphone masih poliponik. Itu saja cukup keren dan indah didengar.

Ternyata itu telepon dari adik bungsu emak yang bisanya aku panggil bucik alias ibu kecik, tinggal di Bengkulu, Sumatera.

“Nardi ini bucik. Besok bucik singgah ke rumah kamu, sekalian ngajak kamu tuk ngurus paspor. Kalau kamu tak ada gawean, kamu ikut bucik ke Singapura nemenin bucik lihat sanak kita di sana,” ujar bucik dengan nada berharap agar ditemani.

“Mau…. sangat mau bucik, kan diongkosin hehehe…,” jawabku.

Mbak dan emak yang mendengar setuju aja. “Kan hanya dua minggu”, kata Mbak disambut anggukan kepala emak.

Bukan hanya rasa riangku timbul, namun aku sempat melamun di beranda rumah. Aku baru sadar kalau aku ini merupakan orang Bengkulu, yang kata mbakku orang Inggris dahulu menyebutnya Bencoolen. Saat zaman Belanda, mereka menyebut dengan sebutan Benkoelen.

Aku tersentak, meskipun aku dari kecil di Ibu Kota Jakarta, tapi aku punya kampung halaman. Meskipun tak terbayang bagaimana bentuk negeri nenek moyangku, karena tak ada lintasan pikiran soalitu.
Raun
Dengan langkah gaya mirip turis beneran, aku dan bucik menuju Bandara Soekarno-Hatta dengan iringan lambaian tangan keluarga dan para tetangga yang rumahnya berdempetan dengan tempat tinggalku.

Dalam perjalanan bucik banyak bercerita soal Bengkulu dulu dan kini menjawab pertanyaanku. Sesekali Bucik menyindirku, jarena tidak pernah melihat tanah tumpah darah nenek moyang. Aku pun hanya mesem saja.

“Insya Allah saya mau lihat Bengkulu, bucik,” ujarku diiringi pesawat landing. Aku kira baru beberapa jam meninggalkan Jakarta, pesawat mau transit. Ternyata aku telah tiba di Bandar Udara Changi Singapura.

“Nah sampai kita,” tegur bucik saat aku sedang melongo-longo. Seakan tak percaya aku bisa raun atau melancong ke luar negeri. Bahkan letaknya juga nggak jauh dari Pulau Sumatera.

Usai tiba di tujuan, kembali aku melonggo saat melihat Bucik tidak menggunakan bahasa Inggris atau Melayu Singapura, tapi malah berbahasa Melayu Bengkulu, seperti yang sering aku dengar saat emak ngobrol sama mbak. Ternyata orang itu Datuk Amir penduduk asli Campong Bencoolen. Nenek moyangnya orang Bengkulu dan di lingkungannya masih ada yang menggunakan bahasa Melayu Bengkulu meskipun kini mulai terinfiltrasi dengan budaya setempat.

Datuk Amir seorang dosen. Dari dirinya aku banyak dapat cerita usai makan malam diajak raun melihat kerlap-kelip lampu negara berlambang Singa itu.
Dalam pikiranku sempat terlintas pertanyaan, apakah aku ini berada di negara Singapura atau di Provinsi Bengkulu Sumatera Indonesia? Apalagi saat melintas di jalan bertuliskan Bencoolen Street.

“Jangan-jangan Provinsi Bengkulu ini maju seperti ini?” pikirku jelang berapa lama kendaraan kami menuju parkir sebuah restoran mewah. Aku, Datuk Amir dan beberapa rekannya tampak terbiasa di tempat kuliner ini.

“Fried Carrot Cake orders eight dishes. Hurry up,” kata Datuk pada pelayan perempuan yang cantik dan menarik segera berlalu.

Setelah aku tanya sama bucik, ternyata itu makanan di sini. Terbuat dari potongan tepung beras dan lobak putih yang dikukus lalu digoreng dengan telur dan daun bawang seperti omelet.

Aku cuma mengangguk seperti sudah mengerti saja, padahal sama sekali tidak terdeteksi di otakku soal makanan yang rasanya mungkin mirip kue ongol-ongol yang salah racikan.

Makan sembari bercerita, Datuk mengkisahkan kalau nenek moyangnya dahulu merantau di Singapura ini mengikuti pasukan Inggris.

“Apakah Datuk tak pernah tahu adik sanak Datuk di Bengkulu?” tanyaku.

“Sangan paham…. Dah tiga kali aku ke Bencoolen. Tapi kasihan…….”, kata Datuk terlihat menggelengkan kepalanya berkali-kali. Bucik terlihat sumringah.

Menurut Datuk Amir, negeri Bengkulu atau Bencoolen itu ibarat seorang pria sederhana yang sering acapkali berpuasa Senin dan Kamis. Sementara negara Singapura ini bak umpama sosok wanita cantik, kaya raya pula.

“Jadi Nardi tak tahu sama sekali tentang hubungan Bencoolen sama Singaupura ka?” tanya Datuk Amir.

“Sama sekali Tuk,” jawabku.

Jadi begini ceriteranya. Jelang negeri Bencoolen akan beraluh ke Belanda, Gubernur Jenderal Bencoolen Sir Stamford Raffles datang ke Singapura memboyong nenek moyang Datuk dan teman-teman Datuk ini. Itu terjadi tahun 1819. Kalau peralihan Inggris ke Belanda kan tahun 1824,” jelas Datuk Amir.

Waktu itu ratusan orang Melayu Bencoolen diboyong dan menetap di Bencoolen Street yang tadi kita lintasi. Nama Bencoolen Street diabadikan sebagai pengingat, kalau Raffles pernah di sini. Untuk tempat tinggal tadi dikasih nama Kampong Bencoolen atau orang sini bilang Campong Bencoolen. Ini kampung tua di Singapura yang membentang-membentang Bencoolen Street, Waterloo Street, Prinsep Street, Middle Road dan Albert Street.

“Prediksi Datuk, kenapa banyak orang Bengkulu mau diajak oleh pihak Inggris?” tanyaku, sementara makanan di meja sudah mulai habis, tinggal minuman saja.

Datuk Amir tampak terus bercerita, meskipun sesekali ditimpali beberapa temannya, bila paparan Datuk dianggap kurang pas sejarahnya.

“Jadi bengini,” kata seorang teman Datuk berperawakan seperti orang Tionghoa, tapi nenek moyangnya lahir di negeri Bencoolen.

“Ketika perjanjian Inggris dan Belanda tahun 1824 memberi Bencoolen ke Belanda, memang banyak orang Melayu Bencoolen tiba di Singapura. Sebagian besar orang Melayu tertua di Singapura dan beberapa keluarga Eurasia telah turun dari para pemukim Bencoolen ini,” paparnya dengan tata bahasa Indonesia yang terkadang berulang.

Ini belum lagi yang menyusul di tahun tahun 1825. Lebih dari 900 narapidana India dipindahkan ke Singapura dari Bencoolen. Mereka ditempatkan di gubuk-gubuk kayu. Sementara di Kampong Bencoolen di mana Temenggong dan pengikutnya tinggal.

Aku terkesima dengan cerita ini. “Alangkah cintanya warga negara Singapura ini dengan sejarah yang ada,” pikirku.

Sembari menyudahi makanan dan bersiap menuju pulang ke Campong Bencoolen, mumpung hari belum larut malam, kendaraan sempat berhenti di sebuah masjid. Untuk melaksanakan Salat Isya yang tadi sempat tertunda. Kagetnya lagi hatiku, ternyata itu masjid bernama Masjid Bengkali atau Masjid Bencoolen.

Informasinya, kaum Muslim Bencoolenlah yang membangun Masjid Bengkalis asli, atau Masjid Bencoolen. Itu terjadi antara tahun 1825 dan 1828. Dalam brosur aku sempat membaca, kalau masjid ini diganti pada tahun 1845 oleh versi permanen, yang dibangun oleh seorang pedagang Arab, Syed Omar bin Aljunied.

“Seberapa berkahkah nama Bencoolen, sehingga banyak hal menggunakan nama itu, termasuk ada sebuah jembatan yang dibangun tahun 1885. Pertanyaannya, jangan-jangan Bengkulu yang benar itu ada di Singapura, bukan di Sumatera?” lamunku.

Usai ibadah, Datuk Amir sempat mendekatiku, dan berbisik kalau dirinya akan mengajaku lusa ke daerah Hokkien.

“Daerah apa itu Tuk?”

Menurut Datuk sembari menuju kendaraan, itu nama berasal dari bahasa Cina. Chhai-tng au dan dalam bahasa Kanton, Chai-thong hau berarti letaknya itu di belakang aula vegetarian. Karena dulu ada sebuah rumah pertemuan pujangga vegetarian Cina yang terletak di sepanjang jalan itu.

“Di Hokkien, Mang-ku-lu toa lo berarti Bencoolen big street. Dalam bahasa Kanton, Mong-kwo-lo berarti juga Bencoolen.”

Penasaranku kian tinggi hingga malam menjelang di apartemen milik Datuk Amir yang konon masih satu keturunan dari negeri Bengkulu. Pikiranku kian menerawang, berkhayal Bengkulu menjadi Singapura dan warganya dapat mempertahankan sejarah, walaupun banyak torehan pahit sempat menerpa di hati anak negeri. Sementara bucik telah lama berlayar ke ‘pulau kapuk’.

“Kenapa tidak dilakukan kerja sama di antara dua daerah yang mempunyai keterkaitan sejarah dan darah. Ah…. Kalau aku jadi Gubernur Bengkulu saja, aku akan jalin kerja sama ini,” pikirku, senyap terlelap, dan aku baru bangun saat suara panggilan untuk salat terdengar dari luar kamar. (Cerpenis tinggal di Bengkulu Kota)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *