PERISTIWA

AKTIVIS 98 GELAR DISKUSI BERSAMA MELAWAN RADIKALISME DAN TERORISME

HARIANTERBIT.CO – Sejumlah alumni aktivis 98 mengadakan pertemuan rembuk nasional. Acara digelar melibatkan ribuan peserta, untuk memperingati perjuangan mereka 20 tahun lalu, membawa Indonesia ke era reformasi.

Acara diskusi mengangkat tema ‘Bersama Melawan Radikalisme dan Terorisme’.

Salah satu aktivis 98, Hengki Irawan mengatakan, ada begitu banyak paham-paham asing yang kini menjadi musuh dan berpotensi merongrong kehidupan bernegara.

“Seperti ideologi transnasional, Hizbut Tahrir dan Ikhawanul Muslimin. Semuanya berakar di negara-negara Timur Tengah. Dan saat ini mengancam negara Indonesia,” kata Hengki di Grand Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Selasa (29/5/18).

Menurut Hengki, Indonesia jadi sasaran penduduk Islam garis keras karena menjadi penduduk Muslim terbesar di dunia.

“Sehingga dia tak mau menyia-nyiakan. Apakah itu dari proksi dari negara barat? Itu harus kita buktikan. Karena kekuatannya berasal dari kekuatan modal dan fundamental yang mengancam kita,” ujarnya.

Hengki menyebut, banyak kelompok transnasional yang membawa Indonesia mundur ke abad pertengahan.

“Pemunduran ideologi dan cara berpikir. Kita diajarkan agama untuk menjadi orang yang baik kepada sesama. Tapi mereka menggunakan agama untuk menjadi jahiliyah dan orang bodoh,” jelasnya.

Sedangkan, Aktivis 98 Wahab Talaohu menuding, gerakan terorisme dan radikalisme yang kini sudah menjalar dinilai sudah merusak nilai-nilai keislaman. Pasalnya, dalam ajaran agama manapun, selalu ditekankan mengenai rasa cinta kasih dan saling menghargai.

Wahab mengatakan, jika berkaca dalam beberapa insiden teroris, maka sudah terjadi transfer ideologi.

“Bahwa telah terjadi transfer ideologi atau transnasional ideologi. Kenapa, karena secara sosisologi masyarakat Indonesia tak mengenal teror sebagai sebuah aksi,” paparnya

Wahab melanjutkan, terorisme selalu mengedepankan kekerasan dan menghabisi nilai kemanusiaan.

“Oleh karena itu terorisme harus menjadi musuh bersama. Jadi kerangka berpikirnya disana,” ucap Wahab.

Dia menilai, Indonesia sudah menjadi pasar ideologi transnasional, seperti HTI, ISIS dan Ikhwanul Muslimin.

“Jadi ini bukanlah ideologi yang tumbuh besar dari bangsa ini . Ini impor ideologi, sedang terjadi dan mengancam negara kita. Mereka menggunakan khilafah sebagai dasar perjuangan mereka. Kalau mereka menang mau ganti Pancasila dan UUD 1945. Kita harus merumuskan format perlawanannya seperti apa,” jelasnya.

“Menurut saya, ini harus benar-benar dilawan, ditangkal. Pertanyaan bagaiamana 98 bersikap. Trans ideologi sama jahat dengan persaingan global dan ideologi sosialis maupun komunis,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *