PERISTIWA

KEYAKINAN AGAMA TAK SEHARUSNYA MELAHIRKAN RADIKALISME

HARIANTERBIT.CO – Kesediaan untuk menghormati dan menerima kelompok masyarakat yang berbeda merupakan modal dasar bangsa Indonesia untuk maju. Karenanya sikap toleran antarkelompok masyarakat yang telah tertanam sepanjang sejarah pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) perlu terus dikembangkan.

Kesimpulan tersebut terungkap dalam sebuah seminar yang digelar Ikatan Silaturahmi Keluarga Al-Mahrusiyah (Istikmal) Lirboyo Cabang Jabodetabek, di Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (9/12).

Dalam dialog bertema “Ngaji Toleransi: Peran Santri dalam Menangkal Radikalisme Agama” itu, salah satu narasumber Franz Magnis-Suseno mengungkap kekeliruan orang mengenai toleransi.

“Jangan dianggap sama dengan relativisme agama. Toleransi tidak berarti (menganggap) semua agama sama saja,” kata pakar filsafat yang akrab disapa Romo Magnis itu.

Guru Besar Filsafat STF Driyarkara Franz Magnis-Suseno (dua kiri), didampingi Ustaz Nur Ahmad Satria dari Istikmal Jabodetabek (dua kanan), dan Anggota Gugus Tugas Gerakan Nasional Revolusi Mental Marbawi (kanan), tampil dalam acara dialog Ngaji Toleransi yang dimoderatori Yusak Farchan (kiri), di Desa Wisata TMII, Jakarta, Sabtu (9/12).

Toleransi, menurut Romo Magnis, merupakan kesediaan orang untuk menerima keyakinan yang berbeda. “Dalam sikap itu, tiap-tiap orang tetap berhak meyakini kebenaran dan perbedaan keyakinannya dibanding keyakinan orang lain,” tuturnya.

Romo Magnis mengatakan, sikap toleran masyarakat Indonesia telah teruji dalam sejarah. Hal itu menjadi modal penting bangsa Indonesia untuk maju. “Itu adalah kekuatan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki negara-negara lain, sepeti Jerman,” ujarnya.

Pendapat senada diungkapkan Ustaz Ahmad Nur Satria. Alumni Pesantren Lirboyo ini mengatakan, keyakinan agama seharusnya tidak menjadikan seseorang menjadi radikal. “Agama Islam itu muncul, yang pertama-tama, adalah untuk kemaslahatan umat,” imbuhnya.

“Dalam sejarah gerakan radikalisme tidak pernah mendatangkan manfaat. Karenanya, radikalisme bukan berasal dari ajaran Islam,” pungkas Ustaz Ahmad sambil mengajak para ratusan santri yang hadir di seminar itu untuk menangkal narasi-narasi fundamentalisme. (*/dade/rel)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *