Ilustrasi - ist-

KARENA CINTA WAYANG LESTARI

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Kisah wayang walau sering dianggap kuno, dianggap ketinggalan jaman, namun tetap ada dan dicintai rakyatnya. Wayang model tradisional seakan telah tergerus kemajuan teknologi. Dianggap membosankan, karena alur ceritera yang menjadi asing dan bahasa yang digunakan sudah berbeda.

Pemahaman akan alur ceritera memang perlu membaca, perlu mau memahami yang dilakukan berulang dan berkesinambungan. Melestarikan wayang setidaknya melalui :
1. Adanya political will yang kuat
2. Para pemimpin memiliki kebijakan untuk melestarikan dan menumbuhkembangkan wayang
3. Membangun literasi wayang dan pemberdayaan media
4. Penelitian dan pengkajian akan wayang terus dikembangkan
5. Transformasi ke generasi muda melalui penyesuaian atau pemanfaatan teknologi
6. Nilai nilai luhur dari kisah kisah pewayangan tetap digunakan sebagai acuan tatanan dan tuntunan
7. Pertunjukan wayang dielaborasi dengan kekinian sehingga menarik generasi muda untuk ikut mencintai
8. Diajarkan di lembaga lembaga pendidikan formal
9. Para guru memiliki tanggung jawab moral bagi transformasi wayang kepada para anak didiknya
10. Kaderisasi Dalang, Sinden dan para Niyogonya secara konsisten
Dsb

Tatkala wayang masih dicintai maka nilai nilai luhur bangsa terjaga. Tidak hanyut tergerus pengaruh asing. Kedaulan suatu bangsa dijaga atau dipertahankan melalui seni budaya.

Tatkala seni budaya dijajah sejatinya kedaulatan, ketahanan, daya tangkal, daya saing, melemah mungkin saja tinggal menunggu waktu. Wayang salah satu budaya bangsa yang beragam dari bentuk,cerita hingga pementasannya merupakan kekayaan adiluhung bangsa. Dalam kisah pewayangan setidaknya mencakup refleksi kehidupa yang berkaitan:

1. Kekuasaan dan perebutan kekuasaan
2. Kebaikan dan keburukan
3. Nilai nilai luhur yang menjadi tatanan dan tuntunan
4. Penyimpangan sosial dalam kehidupan
5. Idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan, pertahanan
6. Hukum dan penegakan hukum
7. Karma akibat sumpah dan supata
8. Peperangan untuk harga diri, kehormatan dan balas dendam
9. Keterlibatan kuasa para Dewa hingga kuasa Rakyat
10. Pementasan yang menyatukan antara seni musik, seni suara, seni rupa, seni tari, dalam suatu panggung pertunjukan Dsb.

Melestarikan wayang dimulai dari cinta, tatkala ada cinta maka akan muncul rasa atau hasrat. Tatkala cinta tiada maka kering dan layu bahkan akan rusak hilang selamanya. Para pengrajin wayang, para guru, para dalang para niyogo dan para penanggap wayang memiliki andil besar untuk lestarinya suatu seni budaya bangsa.

Wayang memang pakemnya sudah ada, namun sejatinya wayang itu dinamis dan bisa dikembangkan dalam berbagai pendekatan. Wayang bukan sekedar tontonan namun sejatinya wayang merupakn suatu ruang transformasi edukasi, antara lain :
1. Penanaman nilai nilai luhur dan budi pekerti
2. Pengajaran agama
3. Pendidikan moral bagi masyarakat
4. Transformasi kebijakan
5. Memberikan motivasi
6. Mengcounter issue
7. Rekayasa sosial
8. Kampanye keamanan, keselamatan dsb
9. Modernisasi seni budaya
10. Tontonan yang menghibur Dsb

Cinta akan seni budaya bangsa akan melestarikan bahkan menumbuhkembangkan. Kecintaan memang perlu transformasi, perlu literasi, political will, keteladanan, penelitian dan kajian, kepedulian dari para akademisi dsn sektor bisnis, lembaga pendidikan yang mengajarkan, guru guru yang peduli, kaderisasi yang konsisten dan berkesinambungan dsb. (CDL) Fajar tegal parang 070822

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *