Gerakan Mahasiswa dan Santri Nahdlatul Ulama (Gemas-NU) menggelar aksi di depan Kantor PKB, menyampaikan pernyataan sikap atas tindakan Muhaimin Iskandar (Gus Imin) yang selalu melukai warga Nahdliyin.

TINDAKAN GUS IMIN BANYAK ‘BIKIN LUKA’ WARGA NAHDLIYIN, INI PERNYATAAN SIKAP GEMAS-NU

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak bisa sangat berperan pungkiri terhadap berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sayangnya sejak dipimpin Muhaimin Iskandar (Gus Imin), PKB cenderung keluar dari nilai-nilai ahklak sopan santun ahluh sunah wal jamaah yang menjadi ciri khas warga NU.

Koordinator Gerakan Mahasiswa dan Santri Nahdlatul Ulama (Gemas-NU) Amri mengatakan, beberapa catatan kelam Muhaimin Iskandar dalam lingkaran NU tidak sedikit meninggalkan luka bagi banyak Nahdliyin.

“Seperti sejarah kudeta Muhaimin Iskandar terhadap Presiden Republik Indonesia keempat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang merupakan ulama kharismatik serta aset terhebat NU yang mestinya dijaga bersama nama baiknya, namun karena dibutakan oleh ambisi kekuasaan, Muhaimin Iskandar kemudian berani melengserkan dan mengkhianati Gus Dur di kala itu,” kata Amri, Jumat (12/5/2022), di Kantor PKB, dan dilansir HARIANTERBIT.CO, dalam keterangan tertulisnya.

Tidak hanya sampai sampai di situ, sambung Amri, beberapa waktu lalu ramai juga tentang Muhaimin Iskandar yang dinilai melawan dan melecehkan marwah Ketum PBNU Gus Yahya akibat klaimnya yang mengatakan bahwa PKB tanpa didukung oleh PBNU dan warga Nahdliyin, ia masih punya suara ideologis 13 juta yang mendukung dirinya.

“Kami menganggap pernyataan Muhaimin Iskandar yang disampaikan saat acara buka bersama pada hari Ahad (1/5/2022) lalu, adalah pernyataan yang arogan dan tidak mencerminkan nilai-nilai kesatria yang dianut oleh warga Nahdliyin serta berbahaya terhadap kondisi keumatan di negara Indonesia. Muhaimin Iskandar dalam posisinya sebagai pejabat publik, mestinya lebih berhati-hati dengan ucapannya di depan masyarakat maupun media. Beberapa tindakan kontroversialnya pun dalam kaitannya dengan kedudukannya sebagai pejabat negara sejak 2011 silam membuat publik bertanya,” ujarnya.

Lanjut Amri, tindakan-tindakannya yang demikian jika terus didiamkan selain dapat mencederai persepsi publik terhadap pejabat negara, di sisi lain juga dapat merusak citra institusi/lembaga negara lainnya. Salah satu akibat dari tindakannya yang memperburuk status lembaga negara yang lain yaitu seperti kasus ‘Kardus Durian’ yang hingga hari ini belum ada kepastian hukum yang jelas terhadap Muhaimin Iskandar sebagai pihak yang jelas-jelas terkait dengan perkara itu sebagaimana yang diterangkan oleh salah satu dari tiga pelaku yang ditetapkan sebelumnya.

“Kondisi semacam ini mengindikasikan bahwa Muhaimin Iskandar dapat disebut sebagai ‘virus negara’. Hal demikian perlu jelas kami sampaikan karena sejauh ini dengan fakta-fakta yang ada, akibat dari lisan dan tindakan seorang Muhaimin Iskandar bukan hanya telah memicu gangguan terhadap persatuan bangsa, melainkan juga mencederai fungsi lembaga negara dalam menentukan proses hukum terhadap pejabat publik,” ungkap Amri.

Maka dari itu, kami mahasiswa dan santri yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa dan Santri Nahdlatul Ulama (Gemas-NU) dengan ini menyatakan sikap:

  • Meminta Muhaimin Iskandar segera bertobat dan meminta maaf secara terbuka kepada Almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang masing-masing merupakan presiden RI keempat dan ketua umum PBNU.
  • Meminta PBNU segera melakukan konsolidasi untuk mencopot Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum PKB karena melakukan tindakan yang tidak sepatutnya kepada PBNU yang merupakan pelopor lahirnya PKB sebagai partai politik.
  • Mendesak KPK RI mempertanggungjawabkan yang beberapa waktu lalu melalui juru bicaranya telah berjanji mempelajari kasus ‘Kardus Durian’ serta menaikan status hukum pihak terkait dalam hal ini Muhaimin Iskandar.
  • Meminta KPK RI segera tangkap Muhaimin Iskandar dengan dasar bukti yang ada disertai keterangan jelas dari pelaku suap sebelumnya, karena kasus ini telah didiamkan lebih dari 10 tahun serta membahayakan stabilitas bangsa. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.