Abdul Hamid Rahayaan, tokoh muda NU dari Indonesia bagian timur.

JELANG MUKTAMAR KE-34 NU, ABDUL HAMID: PUBLIK TAK INGINKAN KIAI SAID DAN GUS YAHYA

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia bagian timur, Abdul Hamid Rahayaan, mengatakan, perkembangan menghadapi Muktamar Ke-34 NU di Provinsi Lampung. Maka sorotan publik dan warga NU terhadap bakal calon ketua umum PBNU yaitu KH Said Aqil Siradj maupun Gus Yahya sangat terbuka.

“Keduanya dianggap bermasalah, sehingga mudharatnya lebih besar akan membebani NU, warga NU, rakyat dan pemerintah serta bangsa dan negara,” kata Abdul Hamid, Minggu (21/11/2021), dalam keterangan tertulisnya yang diterima HARIANTERBIT.co.

Abdul mengungkapkan, publik lebih menginkan dan mengharapkan figur ketua umum PBNU ke depan bukanlah sala satu dari keduanya, namun lebih sosok tokoh lain, hal itu demi penyalamatan NU dari perpecahan, baik di dalam tubu NU maupun di luar NU.

“Untuk itu diharapkan kepada para ulama, kiai, pimpinan wilayah NU dan pimpinan cabang NU seluruh Indonesia agar dengan sungguh-sungguh memperhatikan aspirasi warga NU maupun dinamika yang berkembang di tengah-tengah publik terhadap calon ketua umum PBNU ke depan,” ujarnya.

Hal ini sangat penting agar NU tidak di tinggalkan pengikutnya akibat pemimpinnya nanti di nilai bermasalah. Abdul pun menawarkan beberapa nama tokoh dan ulama NU yang dapat dijadikan figur alternatif calon ketua umum PBNU ke depan kepada para ulama, kiai, pimpinan wilayah NU dan pimpinan cabang NU seluruh Indonesia yaitu, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), KH As’ad Said Ali, Ustaz Abdul Somad, dan Prof KH Nazaruddin Umar.

“Dari keempat tokoh dan ulama NU tersebut tidak ambisius, tidak mengejar-ngejar jabatan, tapi memiliki ‘track record’ yang baik dan keilmuannya di bidang keagamaan dan lainya. Selain itu, keempat tokoh tersebut sangat layak dan memadai untuk memimpin NU dalam lima tahun ke depan. Hal ini wajib dilakukan dalam rangka menjaga marwah dan eksistensi NU,” ungkap Abdul.

Maka saya mengajak seluruh ulama, kiai, pimpinan wilayah NU dan pimpinan cabang NU seluru Indonesia yang telah bersepakat atau telah menjajikan atau telah berniat untuk mendukung Kiai Said atau Gus Yahya untuk menjadi ketua umum PBNU mendatang agar mengurungkan niatnya demi menyelamatkan NU dari perpecahan. Mengingat mudharatnya sangat besar terhadap perkembangan NU ke depan.

Selain itu, Abdul Hamid juga mengajak pemerintah dalam hal ini Bapak Presiden Joko Widodo agar tidak memberikan dukungan kepada bakal calon ketua umum PBNU, karena tidak menguntungkan bagi stabilitas keamanan negara ke depan yang berdampak pada stabilitas ekonomi negara.

“Maka saya mengimbau kepada Bapak Presiden, atas nama kepentingan negara dapat menolak bakal calon ketua umum PBNU yang akan merugikan kepentingan negara. Mengingat NU adalah salah satu benteng keselamatan NKRI, sehingga pemimpinnya haruslah orang yang dapat membantu negara dalam segala aspek untuk kemaslahatan rakyat bangsa dan negara. Bukan sebaliknya, menjadi beban warga NU rakyat, perintah dan negara,” tandasnya.

Apa yang saya kemukan berdasarkan dinamika maupun aspirasi yang berkembang di tengah-tengah warga Nahdliyin maupun masyarakat yang peduli terhadap NU. “Untuk itu saya mengajak seluruh warga NU, mari kita jaga NU. Kita lestarikan nila-nllai ajaran ahlu sunnah waljamaah, dan kita jaga keamanan, ketenteraman dan keharmonisan antarsesama warga bangsa pada rumah kita Indonesia Raya. Semoga kita mendapatkan pemimpin NU yang diridai Allah untuk kepentingan bangsa dan negara kita Indonesia,” pungkas Abdul Hamid Rahayaan. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.