Aktivis mahasiswa mendesak KPK untuk segera menangkap Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin atas dugaan keterlibatannya dalam jual beli jabatan di Kota Tanjungbalai yang menyeret nama Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial dan Penyidik KPK Robin Pattuju.

AKTIVIS MAHASISWA DESAK KPK TANGKAP AZIS SYAMSUDDIN

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Sejumlah aktivis mahasiswa mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera menangkap Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin atas dugaan keterlibatannya dalam jual beli jabatan di Kota Tanjungbalai yang menyeret nama Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial dan Penyidik KPK Robin Pattuju.

Menurut para aktivis tersebut, KPK harus tegak berdiri di atas kepentingan pemberantasan korupsi dan jangan ditunggangi oleh kepentingan elite politik.

“Ini jadi keprihatinan kita bersama bahwa KPK kian lemah dan tak berdaya di hadapan elite politik yang korup. KPK harus menjadi cerminan semangat reformasi yang antikorupsi. Azis sudah disebut terlibat dalam kasus korupsi Tanjungbalai, silakan KPK tangkap!” kata mantan Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Blasisius Jacky Jamrevav, Kamis (22/7/2021), dalam acara diskusi yang digelar Forum Mahasiswa Sadar Hukum dengan tema, “KPK vs Azis Syamsuddin: Ujian Integritas dan Komitmen Pemberantasan Korupsi KPK”, yang dilansir HARIANTERBIT.co.

Mahasiswa menilai, usaha pemberantasan korupsi di bawah kepemimpinan Komjen Pol Firli Bahuri tebang pilih dan tidak memperlihatkan semangat pemberantasan korupsi yang utuh dan masif.

“Leadership para pimpinan KPK sangat lemah, dan hal itu diperlihatkan di dalam rapuhnya integritas mereka dalam penanganan kasus korupsi. Bagaimana korupsi bisa diatasi jika perilaku para komisioner itu sama sekali tak mencerminkan semangat antikorupsi,” tandas Blasisius Jacky.

Sementara itu, Aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, Alboin Samosir melihat, lemahnya komitmen pemberantasan korupsi itu disebabkan oleh pelemahan secara substantif dan struktural yang dialami KPK selama ini.

“Sejak UU KPK direvisi, kekuatan KPK sebagai salah satu lembaga pemberantasan korupsi yang garang mulai rapuh dan cenderung tak berdaya. Segala peran mereka tak lagi sama seperti dulu. Yang paling anyar terlihat dari pencopotan 75 pegawai KPK yang dianggap kritis itu melalui mekanisme tes wawasan kebangsaan,” ungkap Samosir.

“Hal ini menandakan reformasi penegakan hukum di Tanah Air masih lemah dan jauh dari panggang api,” tandas Alboin Samosir.

Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam, Adim Rajak menilai, bahwa di tengah pandemi seperti ini fokus masyarakat sipil teralihkan pada isu-isu seputar virus dan cenderung melupakan soal lemahnya penanganan korupsi di KPK.

Itu makanya, Adim mengajak para aktivis mahasiswa untuk selalu awas dan waspada terhadap usaha pelemahan KPK di era pandemi ini.

“Lambannya KPK menyelesaikan kasus Azis Syamsuddin menunjukkan kepada kita bahwa isu pandemi Covid-19 ini begitu besar dan masif, sehingga usaha pemberantasan korupsi masih bertepuk sebelah tangan. Kita belum melihat adanya keseriusan KPK di era Firli Bahuri dalam menyelesaikan kasus korupsi yang melibatkan Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin,” imbuhnya.

Para aktivis mahasiswa itu menyatakan akan terus mengawal kasus korupsi yang menjerat nama Azis Syamsuddin. Menurut mereka, konsolidasi di tingkatan mahasiswa harus segera dilakukan agar komitmen pemberantasan korupsi sebagai buah reformasi semakin tegak berdiri.

“Perlu konsolidasi, baik daring maupun luring agar KPK semakin kuat dalam upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di Tanah Air,” pungkas Blasisius Jacky Jamrevav. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *