KENANGAN CHRYSHNANDA KETIKA TARUNA AKPOL THE MAN BEHIND THE SCREEN (3)

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Pada waktu taruna saya menjadi tim dekor sekaligus tim taman. Jadi sambil kuliah diwaktu senggang atau saat ada acara perayaan atau hari hari besar selaku menyiapkan dekorasinya. Semua serba manual untuk membuat layarnyapun harus dihiasi satu persatu dengan kertas krap.

Membuat layar back ground di gedung manunggal Akpol bisa sampai 2 hari baru selesai. Belum gambar gambar orang sesuaI temanya. Semua serba tempel menempal dg kertas krap dan asturo sesuai warna warninya. Juga tulisan tulisanyapun manual.

Di Akpol tidak ada keistimewaan atau penghargaan atas kerja tambahan sebagai tim ini itu. Pelajaran nilai jelek diberi kesempatan mengulang satu kali kalau masih jelek maka tidak naik pangkat. Kehebatan apapun tidak ada kaitan dg akademik maupun pelajaran lapangan.

Fisik, jasmani dan akademik semua harus seimbang. Menjadi tim dekorasi sebenarnya nyaman aman kerja keras kalau tidak pandai pandai mengatur waktu akan her bahkan bisa tidak naik tingkat. Label bagi tim dekor adalah aman. Bahkan yg sirik menjudge ninja atau makan tulang atau elek elek an.

Mereka tdk merasakan beban tanggung jawab dan resiko atas kerja yg tdk pernah dianggap sebagai prestasi. Karena tim dekorasi sering makan belakangan tidak ikut kegiatan2 pengasuhan yg juga berdampak pada penindakan senior jika ada kesalahan.

Kehidupan korps taruna unik menarik dan para senior diberi kesempatan memimpin yunior2-nya dan juga teman2 seangkatannya. Pada saat makan bersama yang sering membuat nyali ciut karena hrs menghadapi banyak senior. Salah ijin salah melayani apatis thd lingkungan akan mendapat perintah menghadap senior ke kamarnya pada malam hari.

Menghadap senior ini juga bervariasi tindakannya ada persuasif hingga body contac. Persuasif biasanya dinasehati sampai berjam jam . Bodi contac biasanya lbh cepat. Ada juga yang satu set ( push up sit up squat jump dan pul up) dalam jumlah tertentu.

Chryshnanda tersenyum

Penanaman nilai nilai nilai jiwa korsa disiplin dan budaya kepolisian sebagian besar ditangani oleh taruna senior. Para tim dekor bekerja tidak hanya membuat dekorasi saat acara saja tetapi juga menulis nama nama di semua kamar yunior maupun di angkatannya.

Juga membuat slide kalau diperintah para dosen juga manual. Mengisi buku induk taruna. Membuat panel data di kantor resimen dan batalyon. Menata taman di kawasan resimen korps taruna yg tandus dan saluran air belum ada jd perawatan hrs disiram satu persatu dg cara manual.

Ngangsu atau menimba air. Suatu ketika saat apel pesiar saya sudah siap pesiar wangi dan dengan baju mlithit. Tiba tiba Dan Yon tar kami letkol Adrian Dahniel berteriak :” chryshnanda mau ke mana kamu? Tanam dulu pohon pohonmu itu!”.

Tentu jawaban singkat jelas tegas yaitu ” siap ndan”. Saya naik lagi ke flat dan berganti dg training membawa cangkul dan peralatan kebun. Karena saya sudah tingkat tiga maka taruna tingkat dua juga saya perintahkan ganti baju berkebun. Teman teman lain pesiar kami nyangkul2 nanam pohon.

Pada saat kami sedang asyik2-nya macuk macul eh taruna tingkat satu dengan gaya bersama pacarnya foto-2 di antara kami senior yg sedang menyamar jadi tukang kebon. Untung tidak bilang tukang kebonya kok ganteng2 hhhhh. Setelah kami teriak :” hai kopral kamu rilex sekali”.

Sang taruna tingkat satu baru sadar yg menjadi back ground foto2nya td seniornya. Pada suatu hari kami diperintah membuat dekorasi malam akrab taruna. Seperti biasa dekorasinya kami buat dan sudah rapi. Taman di depan panggung dan pintu2 masuk kami meminjam ke ibu Wh Simatupang.

Koleonel polisi Wh Simatupang sbg komandan resimen kami. Kami meminjam 100 pot untuk hiasan taman. Acara berjalan lancar. Biasanya kami yg membuat kami yang membongkar. Saat kami akan membongkar 100 pot tanaman sdh raib entah kemana. Kami panik tanya ke sana ke mari tidak ada yang tahu.

Akhirnya kami memberanikan diri melapor jika pot pot tanaman hias yg kami pinjam hilang. Kolonel Wh Simatupang yang sedang makan memerintahkan menunggu. Ternyata beliau mengganti baju dinas. Dan bang Muryanto kena sasaran ” plak “. ” saya tidak mau tahu kamu cari pohon2 itu sampai ketemu” perintah beliau.

Kembali kami hanya berteriak : ” siap “. Kami pusing tujuh keliling akan mencari kemana. Saat kami sedang kebingungan ada seorang pegawai Akpol entah bagian apa memberi informasi kalau potnya berada di blok I. Hati kami serasa terguyur air gunung yg segar dan plong segera kami bergegas kesana ternyata benar.

Dan kami kami segera mengambil alih kembali pot pot tanaman hias tsb. Dan mengembalikan kpd ibu Wh simatupang. Menjadi tim dekor yang jelas tekor dan dilabel bodor. Saat pesta tidak pernah ikut acara karena badan pegel semua.

Kami paling di belakang layar sambil ngantuk ngantuk. Ya kami tidak memdapat kehormatan tetapi kami mendapat kenikmatan bisa dg training di acara dan bebas apel malam walau resiko besar tinggal tingkat.(cdl) Otw Balai Budaya Menjelang petang. Jakarta 19 pebruari 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *