budi daya daun kelor di rumah warga di Kota Bogor. (yopi)

KANDUNGAN GIZI DAUN KELOR TAK TERBANTAHKAN LAGI

Posted on

HARIANTERBIT. CO – Manfaat daun kelor, mulai dibahas sejumlah guru besar IPB University. Kehebatan daun kelor.
Tanaman Kelor mendapat julukan Miracle Tree atau The Tree of Life karena manfaatnya yang sangat besar bagi kesehatan.

Dalam kuantitas yang sama yakni 100 gram, vitamin C pada tanaman kelor tujuh kali lebih banyak dari jeruk, kandungan vitamin A empat kali lebih banyak dari wortel, kalsiumnya empat kali lebih banyak dari susu, kaliumnya tiga kali lebih banyak dari pisang dan kandungan protein dua kali lebih banyak dari telur.
Demikian kata Prof Yusman Syaukat saat memulai pemaparannya di IPB University.

Sementara Prof Evy Damayanthi, Ketua Dewan Guru Besar (DGB) IPB University dalam webinar bertajuk Kelor Bagi Kesejahteraan Masyarakat yang diselenggarakan Dewan Guru Besar IPB University dan Asosiasi Profesor Indonesia menegaskan, dari sisi ilmu gizi, kandungan gizi tanaman kelor tidak terbantahkan lagi.

Dalam webinar yang merupakan kelanjutan dari program pembinaan petani dalam pengembangan budidaya, pasca panen, pengolahan, dan pemasaran produk tanaman kelor yang berlangsung di Desa Cibatok 2, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, enam guru besar mengakui kehebatan daun kelor.

Mereka adalah Prof Yusman Syaukat, Dr Hamim, Dr Heri Ahmad Sukria, Dr Meika Syahbana Rusli, Dr Donny Cipta Lesmana, dan Dr Kastana Sapanli.

Prof Evy Damayanthi, Ketua Dewan Guru Besar (DGB) IPB University berkesempatan memberikan pengantar mengatakan, bahwa dari sisi ilmu gizi, kandungan gizi tanaman kelor tidak terbantahkan lagi. Tanaman kelor bahkan banyak digunakan dalam program-program pengentasan masalah gizi.

Tanaman kelor juga sudah sangat akrab dengan masyarakat Indonesia. Akan tetapi masih banyak masyarakat yang belum tertarik untuk membudidayakan tanaman yang kaya manfaat tersebut.

“Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah mulai menerapkan kebijakan bahwa setiap rumah harus menanam paling tidak lima pohon kelor. Jadi saya senang sekali ketika Guru Besar IPB University membuat program pendampingan budidaya tanaman kelor dari hulu hingga ke hilir ini,” kata Prof Evy memberikan apresiasi.

Dr Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menyampaikan bahwa dari sisi ketahanan, tanaman kelor merupakan jenis tanaman yang mudah untuk dibudidayakan karena tidak memerlukan perawatan khusus yang rumit.

Akan tetapi dalam proses budidaya dengan penerapan pertanian monokultur, risiko serangan hama menjadi hal yang cukup tinggi probabilitasnya. “Meski begitu, saya yakin para pakar di IPB University pasti sudah melakukan kajian-kajian terkait dan pastinya sudah ada alternatif strategi pengendalian hama,” ujar Dr Hamim.

Sementara Dr Meika Rusli yang merupakan Kepala Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menyampaikan, dari sisi teknologi, masih perlu upaya pengembangan agar pengolahan di masyarakat tidak terlalu timpang dengan dunia industri. Program pengembangan koperasi seperti Gapoktan bisa diadakan dalam skala yang lebih besar.

“Aktivitas pengolahan yang dilakukan bersama-sama harapannya dapat meningkatkan nilai tambah produk. Sehingga tanaman kelor tidak hanya dikeringkan lalu dijual melainkan dijual dalam bentuk hasil olahan lebih lanjut. Selain itu mitra juga sangat dibutuhkan terutama pada tahap pemasaran,” katanya.

Terkait manfaat tanaman kelor bagi peternakan, produk sampingan dari proses pengolahan tanaman kelor dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk. Dr Heri Ahmad Sukria, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (Fapet) mengatakan, pengolahan tanaman kelor jika hanya berfokus pada produk pakan ternak maka nilai keuntungannya relatif lebih rendah dari proses produksi tanaman kelor untuk pangan.

“Untuk pakan tidak harus dalam bentuk pakan utama, tapi bisa jadi dalam bentuk vitamin, mineral, atau suplemen,” ujarnya.

Narasumber terakhir berasal dari kalangan industri yakni CEO PT Moringa Organik Indonesia (MOI), Ir Budi Krisnadi menyatakan, hingga saat ini kira-kira sudah ada 10.000 unit usaha kelor dari Aceh hingga Papua.
Namun mayoritasnya adalah usaha kecil, hal tersebut tentu tidak lepas dari ketiadaan teknologi yang dapat menjaga kualitas kandungan tanaman kelor.

Ia juga menyampaikan bahwa titik kritis pengolahan tanaman kelor adalah pada proses rorot atau proses perontokan lembaran daun tangkainya. Jika bagian tangkai terbawa ke dalam proses produksi, maka akan menurunkan kandungan dari tanaman kelor, karena pada bagian tersebut terdapat anti nutrien.

“Sebetulnya proses rorot ini dapat dilakukan di rumah dengan mesin kecil. Ini menjadi potensi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Produk olahan kelor dari PT MOI sebenarnya sudah diakui kualitasnya oleh perusahaan luar negeri dan mengalahkan kualitas kelor dari India, tetapi kita masih kesulitan dalam memastikan jumlah pasokan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa PT MOI sangat terbuka jika ada unit usaha yang ingin belajar pengolahan kelor.
Selama ini PT MOI telah menjadi tempat penelitian dan praktik lapang bagi para mahasiswa dari berbagai kampus.
“Kami sangat mendukung pengembangan penelitian tanaman kelor di Indonesia,”ujarnya. (yopi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *