PT IP REHAB LOBI DAN RUANG PERTEMUAN GEDUNG TIMAH HINGGA BELASAN MILYAR DIPERTANYAKAN

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Hari Listrik Ke-75 yang jatuh pada 27 Oktober 2020 lalu sepertinya hari yang dinantikan bagi PT Indonesia Power. Betapa tidak, di hari itu merupakan tonggak kembalinya Manajemen PT Indonesia Power (IP) yang awalnya berkantor di Centennial Tower pindah kembali ke rumah lamanya, yaitu Gedung Timah yang berada di Jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan.

Perpindahan kantor PT Indonesia Power sendiri, menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan masyarakat. Betapa tidak, berdasarkan informasi yang dihimpun kepada wartawan, pada tahun 2017 di mana saat itu PT Indonensia Power dipimpin Sripeni Inten Cahyani melakukan rehab terhadap lobi dan ruang pertemuan Gedung Timah yang diperkirakan memakan dana hingga belasan milyar.

“Anehnya baru saja dilakukan rehab yang diduga memakan dana hingga belasan milyar itu, Dirut PLN yang saat itu dijabat Sofyan Basir (SB) diduga memerintahkan Sripeni untuk melakukan perpindahan kantor ke Centennial Tower. Entah apa pertimbangannya, namun kenyataannya pindah kantor PT Indonesia Power tetap dilakukan. Perpindahan itu dilakukan pada trisemeter keempat di tahun 2018 hingga awal 2019,” kata Humas PT Indonesia Power Syuhada, Senin (2/11/2020), dalam keterangannya yang diterima HARIANTERBIT.co.

Padahal, dengan berkantor di Gedung Timah yang notabene milik pemerintah, PT Indonesia Power tidak begitu besar dalam melakukan pengeluaraan ‘biaya operasioanal’ karena sesama plat merah. Namun yang menjadi tanda tanya besar, perpindahan kantor PT Indonesia Power tetap dilakukan dengan anggaran yang cukup besar.

Berdasarkan informasi di internet, harga untuk sewa per meter perseginya di Centennial Tower dipatok harga Rp250.000. Setiap lantainya memiliki luas 2800 meter persegi.

“Pada kesempatan ini PT Indonesia Power menyewa dua lantai selama dua tahun. Harga tersebut belum termasuk biaya desain pembangunan kantor, operasioanal pindah kantor hingga PPN,” ujarnya.

Setelah sukses dalam perpindahan kantor Indonesia Power ke Centennial Tower, Dirut PT Indonesia Power Sripeni Inten Cahyani mendapat promosi jabatan baru sebagai salah satu direktur di PT PLN. Akibat perpindahan kantor PT Indonesia Power dari 2019-2020 kondisi Gedung Timah menjadi ‘kompetitor’ Menara Saidah. Beruntung dengan pimpinan PT Indonesia Power yang baru, memutuskan kembali untuk pindah ke Gedung lama yaitu Gedung Timah.

“Namun, akhirnya perpindahan itu tetap menimbulkan pertanyaan besar dari masyarakat, apa manfaat anggaran hampir puluhan miliar rupiah yang dikeluarkan PT Indonesia Power untuk biaya pindah sewa dan kembali ke gedung lama, kepada Negara ini?

Dari beberapa karyawan Indonesia Power yang enggan disebut namanya, mengaku dengan pindahnya ke gedung yang lama, karyawan semakin nyaman, karena parkir tidak bayar,” ungkap Syuhada.
Sedangkan di Centennial Tower, kapasitas parkir terbatas sehingga harus bayar. Selain itu kondisi kantor juga tidak luas, dan sangat berbeda dengan di Gedung.

“Jika kerja melewati batas waktu yang ditentukan maka akan berimplikasi terhadap biaya listrik dan air juga dikenakan biaya tambahan. Sedangkan untuk lokasi semuanya serba terbatas. Karena hanya dua lantai yang disewa oleh PT Indonesia Power. Padahal di Gedung Timah semua karyawan merasa lapang,” katanya.

Sementara itu, salah seorang karyawan Indonesia Power (IP) bernama Nur Djamilah yang merupakan notulen dalam rapat direksi enggan memberikan komentarnya terkait persoalan ini. Padahal yang bersangkutan mengetahui betul proses terjadinya bolak-balik pindahan kantor Indonesia Power.

Humas PT Indonesia Power (IP) Syuhada, mengungkapkan, perpindahan kantor dari Centennial Tower kembali ke Gedung Timah atas pertimbangan penyelamatan dari ancaman Covid-19. Yang mana di Centennial Tower terdapat banyak tenant. Sehingga untuk mengantisipasi penularan virus, pihak manajemen Indonesia Power memutuskan untuk kembali ke Gedung Timah.

“Karena lebih baik menggunakan gedung sendiri daripada kita menyewa. Dengan perpindahan ini kita dapat menyelematkan para pegawai dari ancaman Covid-19. Sedangkan untuk menjawab persoalan perpindahan sejak tahun 2018 ke Centennial Tower, Syuhada enggan memberi penjelasan. Pasalnya bukan dirinya yang memiliki kapasitas memberikan jawaban tersebut,” ungkap Syuhada.

Padahal dari perpindahan tersebut, masyarakat luas menduga, telah terjadi penghambur-hamburan anggaran yang tidak sedikit. Dan pada akhirnya harus kembali lagi ke Gedung Timah. Bukan kapasitas saya memberi jawaban tersebut, namun ada corporate secretary yang dapat menjelaskan. Karena ada jawaban yang bisa disampaikan ada juga jawaban yang tidak bisa disampaikan.

Menanggapi persoalaan bolak-balik perpindahan kantor PT Indonesia Power, Sekjen Laskar Rakyat Jokowi Ridwan Hanafi, mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera menelusuri dugaan adanya perbuatan pidana korupsi yang terjadi di PT Indonesia Power (IP) dan PT PLN. Pasalnya, menurut Ridwan, pihaknya mendapat informasi bahwa pemilik Centennial Tower yang bernama Ali Muhammad (Ali Idung) memiliki hubungan dekat dengan mantan dirut PLN berinisial SB.

Bahkan, tambah Ridwan, Ali Idung membangun Gedung Centennial Tower di atas tanah yang ahli waris sampai sejauh ini belum menerima ganti rugi dari lahan tersebut. Kaitannya dalam masalah ini, Ridwan menilai, sejak awal PT IP diduga sudah mengetahui bahwa gedung yang berdiri diatas lahan itu bermasalah secara hukum.

“Artinya kalau kemudian dipaksakan untuk pindah tentu patut diduga ada pemufakatan jahat. Adanya dugaan pemufakatan jahat yang dilakukan oknum pejabat IP dan PT PLN. Tentu ada motif keuntungan pribadi maupun kelompok dalam kasus ini. Apalagi dana yang diploting biaya tersebut terlampau bernilai fantastis,” kata Ridwan. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *