RENUNGAN

KINERJA: TANGGUNG JAWAB PERINTAH DAN PAKSAAN?


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

TATKALA mendengar pimpinan marah dan memarahi atas buruknya kinerja maka pertanyaan yg mungkin timbul antara lain: apakah tidak tahu? Apakah tidak mampu? Atau apakah tidak mau tahu? Tatkala tidak tahu atau tidak mampu memang menyedihkan mengapa petugas atau pejabat tidak kompeten bisa dipercaya. Walaupun masih bisa diberi tahu dan dilatih atau dibantu. Pejabat yang tidak tahu akan pekerjaan tugas dan tanggung jawabnya akan dimintakan pertanggungjawaban secara profesi. Demikian halnya tatkala tidak mampu mengemban amanah maka demosi dapat diterapkan. Namun tatkala permasalahannya tidak mau tahu ini yang perlu diperiksa kejiwaannya. Diberi tahu dimarahi dipaksa sekalipun akan mental tidak manjur.

Pemimpin yang semestinya mencerahkan tatkala senantiasa mendapat teguran dan kemarahan akibat rendahnya kinerja ini merefleksikan ada yang bergeser ‘core value’-nya. Kekuatan hubungan personal lagi lagi menjadi biang keladi. Sistem-sistem yang dibangun akan menjadi slogan semata. Kaum-kaum produk pendekatan personal merasa posisi aman nyaman terlindungi karena ada prewangan-prewangan yang men-backingi. Kesadaran akan prestasi kerja akan diabaikan. Kompetensi pun seakan sebagai pelengkap penderita saja. Dampak paling nyata adalah secara sadar atau tidak akan terbangun klaster posisi basah dan kering.

Kesadaran akan pekerjaan ini menunjukkan adanya tanggung jawab dan disiplin. Apa yang dilakukan di dalam bekerja dapat dikategorikan sebagai kaum pembelajar. Yang secara proaktif dan ‘problem solving’ akan terus memacu dan memotivasi dirinya maupun anak buah dan lingkungannya untuk berprestasi. Adapun yang selalu menunggu perintah ini merefleksikan petugas-petugas yang reaktif. Ala pemadam kebakaran. Lemah atau rendah inisiatif. Kalaupun bekerja pamrih atau narsis agar dinilai baik di mata pimpinan dan akan berdampak bermunculannya penjilat. Baik tatkala ditunggu atau ada pimpinan atau untuk menyenang-nyenangkan pimpinan semata. Sedangkan yang harus dipaksa ini mungkin golongan kaum apatis yang masa bodoh. Rasa tanggung jawabnya rendah apatis rasa memiliki yang di bawah rata-rata. Kaum ini menjadi benalu menghambat kemajuan, kinerjanya tidak menghasilkan prestasi malahan bisa kontra produktif.

Kinerja merupakan produk dari perilaku organisasi dalam upaya-upaya mencapai tujuan. Tatkala pada posisi diperintah apalagi dipaksa maka jangan berharap akan berprestasi atau unggul. Yang ada kucing-kucingan tipu-tipu pseudo kaum-kaum mapan dan nyaman akan menguasai dan mendoninasi sumber daya dengan berbagai pendekatan personal dan berupaya mencari perlindungan dari siapa saja yang mampu memberikan perlindungan ataupun melanggengkan posisinya. Sebaliknya kinerja yang mampu berbasis pada kesadaran tanggung jawab dan disiplin maka standarnya adalah kompetensi prestasi kerja dan akan terus proaktif ‘problem solving’ sebagai kaum pembelajar. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *