SENI BUDAYA

SENI: DIALOG, PERTANYAAN, JAWABAN DAN PENEMUAN


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

MANUSIA sebagai makhluk berpikir dan peragu selalu bertanya akan sesuatu yang ingin diketahuinya. Dalam mengisi hidup dan kehidupannya manusia kembali bertanya dan mencari jawabannya atau bagaimana menemukan sesuatu yang baru.

Pertanyaan sebenarnya cara menemukan jawaban atau jalan penemuan. Tanpa pertanyaan tidak ada jawaban. Tanpa pertanyaan juga jalan buntu bagi penemuan. Begitu pentingan suatu pertanyaan. Dalam dirinya pun bisa terjadi dialog tanya jawab antara indera dengan jiwanya. Dalam bahasa Jawa dikenal ‘maneges’ atau mencari jati dirinya.

Tatkala Bima dalam cerita Bharata Yudha pada kisah mencari Tirta Amarta dan bertemu dengan Dewa Ruci setelah mengalahkan naga, maka Bima masuk melalui telinga Dewa Ruci yang kecil hingga menemukan jati dirinya. Kisah ini menunjukkan bahwa tatkala akan melakukan apa saja, kenalilah dan temukan semua potensi yang ada pada dirinya sendiri. Bima mampu menemukan tirta perita sari atau tirta amarta atau sebagai air kehidupan yang sebenarnya hanyalah jebakan Pandita Dorna semata. Tatkala mampu menemukan jati dirinya dan mengalahkan dirinya, maka sebenarnya menemukan ‘sejatining urip’.

Bagaimana dalam berkesenian? Seni tatkala dilihat sebagai dialog, maka sang seniman di dalam berkarya adalah melakukan dialog di dalam dirinya maupun lingkungannya mengasah kepekaan, kepedulian, perjuangan bahkan pembelaannya melalui karyanya. Seniman bukan kamera, bukan komputer, bukan alat, melainkan jiwa yang hidup yang mampu berdialog dan mampu menghidupkan apa saja yang dia inginkan. Seniman dalam berkesenian bisa saja melakukan maneges atau berdialog dengan apa saja yang menurutnya perlu dan wajib didialogkan.

Dialog antara rasa dengan jiwa akan membawa pada penelusuran ranah nikmatnya jiwa berkelana bahkan tatkala ada sesuatu yang menyentuh jiwa pun indera akan merefleksikan entah dengan rasa, suara, rupa, bahkan air mata. Seni tak berhenti pada satu sisi, namun terus berputar entah dengan sudut yang mana ia merasa kena. Kadang juga tanpa sudut ke mana pun, bisa apa pun dapat dikata dan ditemukan adanya rasa. Olahan jiwa akan terus menerus berputar hingga melampaui masa. Gerakan dialog dari lembut, kasar, liar dan imajinasi dari yamg kasat mata hingga makna di balik fenomena semua ada. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *