SENI BUDAYA

KEBUDAYAAN: KONSEPTUAL DAN PEMAHAMANNYA?


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

KONSEP-KONSEP bahkan teori tentang kebudayaan beragam hingga ratusan. Kaum penghafal tentu akan kebingungan akan mengekor yang mana. Hari ini si A, hari esok si B tergantung arah angin akan ke mana. Tak ada integritasnya sebagai pemikir, sebagai pencerah atau sebagai motivator atau bahkan problem solver.

Dari ratusan konsep maupun teori tentang kebudayaan tatkala diambil benang merahnya adalah pada manusia kemanusiaan, hidup dan penghidupannya untuk bertahan hidup bahkan tumbuh dan berkembang. Tentu saja pada konteks manusia sebagai makhluk sosial.

Kalau kita lihat saja betapa kompleks akan hidup dan kehidupan cara-cara hidup dan bertahan hidup hingga menumbuhkembangkannya. Namun tatkala dikaji mendalam hidup dan kehidupan cara-cara bertahan hidup kita mengaitkan manusia sebagai mahkluk berpikir yang selalu ingin tahu, berimajinasi bahkan berkreasi mencari solusi.

Hidup manusia terus akan bergerak dinamis bahkan cepat berubah, semua dicari untuk semakin meningkatnya kualitas hidup manusia. Hidup manusia sebenarnya sederhana, namun ritual-ritual hingga stratifikasi yang membuat rumit bahkan akan menjadi konflik untuk dominan dan mendominasi atas perebutan sumber daya.

Hidup memerlukan sumber daya. Perebutan sumber daya inilah yamg berdampak pada semakin kompleks dan rumitnya kehidupan walau dampaknya kemudahan, keterbukaan dan kecepatan semua semakin meningkat. Bisa dibayangkan tatkala manusia diam, pasrah, apa adanya, tentu tidak ada pergerakan yang signifikan di dalam kehidupannya. Walaupun keseimbangan atas harmoninya kehidupan boleh dikatakan lebih stabil.

Kebudayaan di dalam kehidupan manusia ada cita rasa atau sesuatu yang ingin dibuatnya dari mimesis sampai imajinasi semua kaitannya dengan cipta, karsa dan karya dalam wujudnya. Seni menjadi jalan dialog antara rasa dan jiwa dalam pemenuhan kehidupan. Para filsuf dari ribuan tahun yang lalu telah memikirkan membahas dan menjelaskan bahkan memberikan pegangan yang sampai detik ini masih sangat relevan.

Kebudayaan akan berkaitan dengan seni. Seni dan kebudayaan sama rumitnya dan kompleksnya untuk dijelaskan seperti menjelaskan rasa durian bagi yang belum pernah mencicipi durian. Analogi durian ini menunjukkan kata-kata tidak selalu mampu menjelaskan bahkan dapat membuat sesat atau menimbulkan konflik.

Manusia sebagai makhluk sosial yang hidup berkumpul akan membuat berbagai kesepakatan dalam hidup bersama. Berbagai hal dilakukan dari lahir, hidup hingga kematian. Tatkala kesepakatan sudah dibuat dan disepakati bersama, maka akan ada cara untuk menjalankannya hingga mentradisikan hingga turun-temurun. Kebudayaan akan tumbuh berkembang bersama manusia-manusia yang menyepakatinya, dan kebudayaan bisa saja hilang karena ditinggalkan atau tidak lagi dianggap penting bagi kehidupannya.

Konsep kebudayaan dengan demikian berkaitan dengan manusia yang hidup dan berupaya bertahan hidup bahkan tumbuh dan berkembang dengan mengeksploitasi serta memberdayakan sumber daya secara selektif prioritas yang merupakan kesepakatan bersama. Konteks kesepakatan bersama ini juga akan dikembangkan bagaimana dipahami dan dipatuhi serta pemberian sanksi atas penyimpangannya. Namun apa yang disepakati akan ada penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan entah disadari atau malah membuat cara tersendiri yang merugikan bagi manusia lain yang menyepakati kesepakatan tadi.

Pemahaman atas kesepakatan bisa bervariasi bahkan berbeda atau bertentangan satu dengan yang lainnya. Di sinilah kebudayaan menunjukkan peradaban sejauh mana mampu berfungsi dan berdaya guna tatkala harus menghadapi berbagai penyimpangan. Dari mencegah sampai memberikan sanksi sebagai konsekuensinya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *